SOSIOLOGI XI: KONFLIK SOSIAL

 

MODUL
SOSIOLOGI

Kompetensi Dasar

 

3.4. Menganalisis konflik sosial dan cara memberikan respons untuk
melakukan resolusi konflik demi terciptanya kehidupan yang
d
amai di masyarakat.

 

4.4. Memetakan     konflik     untuk   
 dapat   
 melakukan     resolusi     konflik     dan
menumbuhkembangkan perdamaian di masyarakat.

 

 

KEGIATAN PEMBELAJARAN 1

HAKIKAT DAN TEORI KONFLIK SOSIAL

 

A.  Ringkasan Materi

 

1.   Definisi Konflik
Sosial

Konflik
sosial yang terjadi di masyarakat sangat beragam, baik antara individu dengan
 individu,
 individu  dengan
 kelompok,
 maupun
 kelompok
 dengan  kelompok.

Konflik  berasal
 dari  Bahasa  Latin,
 yaitu  configure
 
yang  artinya  saling
 memukul.

Beberapa
pendapat ahli tentang definisi konflik sosial
antara lain:

 

a.  Soerjono Soekanto

Konflik  adalah
 suatu
 proses
 sosial
 individu  atau
 kelompok
 manusia
 berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang pihak lawan yang disertai
ancaman

dan/atau
kekerasan.

 

b.  Robert M.Z. Lawang

Konflik adalah perjuangan untuk memperoleh nilai, status, dan kekuasaan di mana tujuan    mereka  
 tidak  
 hanya    memperoleh    keuntungan,  
 tetapi    juga    untuk

menundukkan saingannya.

 

c.  Berstein

Konflik adalah suatu pertentangan atau perbedaan yang tidak dapat dicegah. Konflik
ini  dapat memberikan pengaruh positif maupun negatif saat melakukan interaksi dengan orang
lain.

 

d.  Ensiklopedia Nasional Indonesia

Menguraikan  bahwa  konflik  muncul  karena
 adamya  benturan  antara
 dua  unsur
dalam masyarakat yang mengharuskan salah satunya berakhir.

 

Dalam konflik
sosial terdapat beberapa pandangan yang dikemukakan oleh para tokoh.
Pandangan tersebut berusaha mengidentifikasi konflik sosial. Beberapa pandangan mengenai konflik sosial yang
dikutip dari Haryanto (2011) dapat kalian baca
pada penjelasan selanjutnya.

 

a.  Robbin

Robbin memandang konflik menjadi tiga
bagian. Ketiga bagian tersebut antara lain:

1)    Pandangan Tradisional

Pandangan ini menjelaskan bahwa konflik merupakan hal yang buruk, bersifat
negatif,  
 merugikan,  
 dan    harus    dihindari.    Konflik    ini  
 merupakan  
 hasil

disfungsional
 akibat  komunikasi  yang
 kurang  baik  dan  kurang
 keterbukaan
antara individu
dalam masyarakat.

 



 

 

 

2)    Pandangan Hubungan Manusia

Pandangan ini menyatakan bahwa
konflik dianggap sebagai suatu peristiwa yang
wajar terjadi dalam kelompok atau organisasi di masyarakat.
Dalam kelompok

atau organisasi pasti terjadi perbedaan yang dapat memicu terjadinya konflik.

Oleh karena itu konflik harus dijadikan motivasi untuk melakukan perubahan
dalam suatu kelompok atau organisasi.

3)    Pandangan Interaksionis

Pandangan ini cenderung mendorong munculnya konflik dalam kelompok atau
organisasi.   Menurut   pandangan   ini,   konflik   perlu 
 dipertahankan   untuk

menumbuhkan sikap kritis, kreatif, dan semangat dalam sebuah kelompok atau

organisasi.

 

b.  Stoner dan
Freeman

Stoner dan Freeman memberikan dua pandangan mengenai konflik sosial yaitu:

1)    Pandangan Tradisional

Pandangan 
 ini   menganggap   bahwa   konflik   dapat 
 dihindari   dengan 
 cara meminimalisasikan munculnya
konflik dalam sebuah kelompok atau organisasi.

2)    Pandangan Modern

Pandangan 
 ini   menjelaskan 
 bahwa   konflik   tidak   dapat   dihindari.   Hal   ini
dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti strustur organisasi, perbedaan tujuan,

perbedaan persepsi, nilai-nilai,
dan
sebagainya.

 

c.  Myers

Menurut Myers pandangan terhadap konflik sosial dibagi menjadi dua,
yaitu:

1)    Pandangan Tradisional

Pandangan  ini  menganggap  konflik  sebagai  sesuatu
 yang  buruk  dan  harus dihindari.
 Dalam  pandangan  ini  menghindari
 adanya
 konflik
 karena  dinilai

sebagai faktor
penyebab pecahnya
suatu
kelompok atau organisasi.

2)    Pandangan Kontemporer

Pandangan ini menganggap konflik merupakan suatu yang tidak dapat dihindari sebagai konsekuensi adanya
interaksi manusia.

 

2.   Faktor Penyebab
Terjadinya Konflik
Sosial

 

Penyebab  terjadinya
 konflik
 sosial  dalam
 masyarakat  dilatarbelakangi  beberapa faktor, diantaranya:

a.  Adanya perbedaan
antarindividu

b.  Adanya perbedaan latar
belakang kebudayaan
sehingga membentuk  pribadi  yang
berbedabeda.

c.  Adanya
perbedaan kepentingan antara
individu
dengan kelompok.

 

C.   Teoriteori Konflik Sosial

 

1.   Teori Konflik
Menurut Lewis A. Coser

Menurut Coser, konflik yang terjadi di masyarakat dikarenakan adanya kelompok lapisan  bawah
 yang  semakin  mempertanyakan legitimasi
 dari  keberadaan distribusi

sumbersumber  langka
 (Ranjabar,
 2013).  Coser  menilai  bahwa
 konflik  tidak  selalu bersifat negatif, namun konflik dapat mempererat dan menjalin kerukunan
dalam suatu

kelompok.

Suatu  kelompok
 dapat
 berlangsung  lama  atau
 cepat  dapat
 dipengaruhi
 oleh beberapa faktor. Dikutip dari Ranjabar (2013), ada tiga faktor yang
mempengaruhi lama

tidaknya suatu konflik di masyarakat,
yaitu:

a.Luas sempitnya
tujuan konflik

 



 

 

 

b.  Adanya
pengetahuan maupun kekalahan dalam konflik

c.  Adanya    peranan    pemimpin    dalam    memahami    biaya    konflik    dan  
 persuasi
pengikutnya.

 

Konflik   dapat   menjaga   hubungan   antarkelompok   dan 
 memperkuat   kembali identitas kelompok.
Adapun manfaat konflik menurut
Coser
adalah:

a.  Konflik dapat menjadi media
untuk berkomunikasi.

b.  Konflik dapat memperkuat solidaritas kelompok.

c.  Konflik dengan kelompok lain dapat menghasilkan solidaritas di dalam kelompok tersebut   dan 
 solidaritas 
 tersebut 
 dapat 
 mengantarkan 
 kepada 
 aliansi   dengan

kelompok lain.

d.  Konflik menyebabkan anggota
masyarakat
y
ang terisolasi menjadi berperan aktif.

 

Coser mengelompokkan konflik sosial menjadi dua macam, yaitu konflik realistis
dan konflik nonrealistis.

a.  Konflik Realistis

Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), konflik realistis ialah konflik yang berasal dari 
 kekecewaan 
 individua   atau   kelompok 
 atas   tuntutan   maupun 
 perkiraan

perkiraan keuntungan yang terjadi dalam hubungan sosial. Contoh konflik realistis,

misalnya  para  karyawan yang melakukan pemogokan
 kerja  melawan manajemen perusahaan sebagai aksi menuntut kenaikan gaji.

 

b.  Konflik NonRealistik

Konflik  non-realistis
 merupakan
 konflik
 yang  bukan
 berasal  dari
 tujuantujuan saingan yang bertentangan, melainkan dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan

(Haryanta, 2012). Sebagai contoh konflik nonrealistis ialah pada masyarakat buta

huruf ada ilmu
gaib yang digunakan untuk melakukan pembalasan.

 

 

2.   Teori Konflik
Menurut Karl Marx

 

 

Karl Marx
memiliki pandangan tentang konflik
sosial sebagai pertentangan kelas. Masyarakat yang
berada dalam konflik dikuasai oleh kelompok dominan. Adanya pihak
yang lebih dominan muncul pihak yang berkuasa dengan pihak yang dikuasai. Kedua pihak tersebut memiliki kepentingan yang berbeda atau bertentangan sehingga dapat menimbulkan konflik.

Faktafakta menurut pandangan teori Karl Marx (Ranjabar,
2013) antara lain:

a.  Adanya struktur kelas dalam masyarakat

b.  Adanya kepentingan ekonomi yang saling bertentangan di antara orang-orang yang
berada dalam kelas yang berbeda.

c.  Adanya
 pengaruh
 yang  besar  dilihat
 dari  kelas
 ekonomi  terhadap
 gaya  hidup
seseorang.

d.  Adanya
 berbagai  
pengaruh  dari
 konflik  kelas
 dalam
 menimbulkan  perubahan struktur sosial.

 

Karl  Marx  dikutip
 dari  Haryanto  (2011),  menguraikan  tentang  adanya  kelas
objektif. Kelas ini dapat dibagi atas kepentingan manifes dan kepentingan laten. Oleh

karena itu, setiap sistem sosial harus dikoordinasi dan mengandung kepentingan laten yang
 sama.  Kelompok  tersebut  biasa  dikenal  dengan  istilah  kelompok
 semu.  Dalam

Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), kelompok semu adalah
kelompok yang terdiri atas orangorang yang sifatnya sementara, tanpa struktur,  ikatan, kesadaran, dan aturan.

Kelompok semu ini terdiri atas kelompok yang menguasai dan kelompok yang dikuasai.



 

3.   Teori Konflik
Menurut Ralf Dahrendorf

 

Bagaimana  pendapat Dahrendorf mengenai konflik  sosial?
 Pada  awalnya, Dahrendorf   melihat 
 teori 
 konflik   sebagai 
 teori   parsial   yang   digunakan   untuk menganalisis fenomena
sosial. Dahrendorf melihat masyarakat
memiliki dua sisi yang
berbeda,
 yaitu  konflik
 dan  kerja
 sama. Berdasarkan 
pemikiran  tersebut,
Dahrendorf menyempurnakan dan
menganalisis dengan fungsionalisme struktural, agar mendapat
teori konflik yang lebih baik.

Dehrendorf menggunakan teori perjuangan kelas Marxian untuk
membangun teori kelas
dan pertentangan kelas dalam masyarakat industri kontemporer.
Perjuangan kelas dalam
masyarakat
moderen berada pada pengendalian kekuasaan.

Dehrendorf  mengkomunikasikan 
pemikiran  fungsional  mengenai  struktur
 dan
fungsi masyarakat dengan teori konflik antarkelas sosial. Dehrendorf tidak memandang

masyarakat sebagai sebuah hal yang
statis, namun dapat berubah oleh adanya konflik di

masyarakat.

 

  Latihan Soal

 

I.      Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat!

 

1.  Jelaskan definisi konflik menurut Soerjono Soekanto!

2.  Jelaskan pandangan hubungan manusia menurut Robbin!

3.  Jelaskan pandangan tradisional
menurut Myers!

4.  Sebutkan faktor-faktor penyebab konflik!

5.  Menurut
 Coser,  konflik  dapat  berlangsung
 lama  atau  cepat
 dipengaruhi
 oleh
beberapa faktor. Sebutkan ketiga faktor
tersebut!

6.  Menurut    Coser,  
 konflik    dapat  
 menjaga    hubungan    antarkelompok    dan memperkuat
 kembali  identitas
 kelompok. Sebutkan
 manfaat  konflik menurut

Coser!

7.  Jelaskan teori konflik menurut Karl
Marx!

8.  Bagaimanakah pendapat Dehrendorf mengenai konflik sosial?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KEGIATAN PEMBELAJARAN
2

KLASIFIKASI KONFLIK SOSIAL

 

A. Ringkasan Materi

 

Macanmacam konflik sosial dapat diklasifikasikan atas dasar pendapat beberapa
ahlil dan kriteria tertentu. Tahukah kalian
mengenai berbagai macam konflik sosial yang ada dalam masyarakat?
Untuk menambah pemahamanmu, ayo
pelajari materi berikut!

 

1.   Menurut Ranjabar (2013)

Menurut Ranjabar (2013), konflik sosial yang ada di masyarakat terbagi menjadi dua,
yaitu:

a.  Konflik Individual

Konflik dalam individu ini bisa diartikan sebagai konflik yang terjadi
dalam mental atau diri seseorang karena suatu
hal. Hal ini bisa berupa pilihan yang
berbeda dengan
kata  hati.  Pada  umumnya  konflik  individu  lebih  bersifat
 informal,  tersembunyi,

melakukan tindakan negatif, melakukan sabotase, dan lain sebagainya. Contohnya
seseorang
 yang  menyesal
 bekerja
 sebagai  kriminal
 untuk
 memenuhi  kebutuhan

keluarganya. Dalam diri orang tersebut, ia mengalami konflik antara nilai moral diri

dengan tekanan ekonomi yang harus dipenuhi.

 

b.  Konflik Kolektif

Konflik kolektif merupakan suatu konflik yang melibatkan banyak orang, serta
memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Pada umumnya, konflik ini memiliki

dorongan yang
lebih kuat bila dibandingkan
dengan konflik individu. Individu yang berada
 dalam  suatu  konflik  biasanya
 memiliki
 solidaritas  dan  kebersamaan
 yang

kuat. Konflik ini memiliki jumlah anggota banyak dan memiliki tingkat emosi yang sangat tinggi dan sifatnya sangat
rumit bila
dibandingkan dengan konflik individu.

 

2.   Menurut Ralp Dahrendorf

 

 

Ralp Dehrendorf membedakan konflik sosial ke
dalam bentuk:

a.  Konflik Peran

konflik  peran  merupakan
 suatu  kondisi  dimana
 seseorang
 mendapati  kenyataan yang berlawanan dengan perannya dalam kehidupan nyata. Misalnya, peran seorang

pekerja
yang dituntut untuk
mengerjakan sesuatu
yang
b
ukan tanggung jawabnya.

b.  Konflik Kelompok Sosial

konflik antara kelompok sosial terjadi karena adanya perbedaan kepentingan dalam upayanya mencukupi kebutuhan kelompok tersebut. Contoh konflik antar kelompok

sosial  adalah
 konflik
 antara  kelompok  propemerintah
 dan  kelompok  yang
 tidak terorganisir.

c.  Konflik    antarkelompok  
 yang    terorganisir  
 dan  
 kelompok    yang    tidak

terorganisir

Konflik ini biasanya terjadi saat unjuk rasa. Dimana polisi sebagai kelompok yang terorganisir

d.  Konflik antarsatuan nasional

Konflik ini disebut juga konflik antarkepentingan organisasi. Misalnya politik tingkat

RT, RW,
Desa,
hingga tingkat nasional.

e.  Konflik antaragama

Konflik   ini   sering   terjadi   pada   zaman   dahulu   saat   kondep   toleransi 
 belum diindahkan.

 

Menurut H. Kusnadi  dan Bambang Wahyudi yang dikutip dari  Ranjabar (2013), macammacam konflik dapat diklasifikasikan dalam beberapa
aspek, yaitu:

 

1.   Konflik
Berdasarkan
Tujuan Organisasi

Konflik sosial dapat diklasifikasikan berdasarkan tujuan organisasi. Tahukah kalian macammacam konflik sosial menurut hubungan dengan tujuan organisasi?

 

a.  Konflik Fungsional

Konflik   fungsional   merupakan 
 konflik   yang 
 mendukung   tercapainya 
 tujuan
organisasi dan bersifat konstruktif. Konflik ini sangat dibutuhkan dsalam organisasi.

Dalam   konflik   inidapat 
 memperbaiki   kinerja   kelompok 
 apabila   dikelolah 
 dan
dikendalikan dengan baik. Contoh konflik fungsional, misalnya ada sebuah kasus di

mana seorang
manajer perusahaan menghadapi masalah tentang pengalokasian dana untuk
meningkatkan penjualan produk.

b.  Konflik Disfungsional

 

Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2010), disfungsional merupakan
suatu kegiatan
atau organisasi yang
memiliki disfungsi ketika beberapa dampak dapat menghambat organisasi sosial
lainnya. Jika suatu kegiatan
atau organisasi sosial mengalami disfungsional,
 tidak
 dipungkiri  juga
 dapat  menimbulkan
 konflik.  Konflik
disfungsional merupakan konflik yang menghambat tercapainya suatu organisasi dan bersifat destruktif (merusak). Konflik disfungsional tidak
dapat dihindari karena keberadaan konflik ini pasti ada dalam setiap
organisasi atau masyarakat. Konflik
disfungsional dapat merugikan semua pihak, individu, kelompok, dan organisasi.

 

2.   Konflik
Berdasarkan
Posisi
Pelaku yang Berkonflik

Konflik
 sosial
 yang  ada  di  masyarakat  sangat  beragam,
 salah
 satunya  dapat diklasifikasikan  menurut
 hubungan  dengan
 posisi  pelaku
 yang  berkonflik.
 Adapun

macam konflik sosial
tersebut adalah
sebagai berikut:

a.  Konflik Vrtikal

Konflik vertikal adalah konflik antar satu pihak dengan pihak dalam suatu
struktur organisasi yang mempunyai derajat kedudukan yang tidak sama. Berikut contoh dari

konflik vertikal.

a) Konflik antara atasan dengan bawahan
d
alam suatu instansi.

b) Konflik antara
buruh
dengan majikan dalam suatu perusahaan

 

b.  Konflik
Hor
izontal

Konflik horizontal adalah konflik sosial yang terjadi di dalam masyarakat antara dua
pihak atau lebih yang mempunyai kedudukan sederajat. Contohnya antara
lain:

a) Konflik antara suku
yang satu dengan suku yang lain dalam suatu negara.
b)
Konflik antara
umat agama
yang satu dengan umat
agama
lainnya

c)  Konflik antara parpol
yang satu dengan parpol
yang lain

 

Menurut Ranjabar (2013), konflik horizontal
dapat dipicu oleh beberapa hal berikut:

1) Adanya  kecemburuan
 yang  bersumber
 pada  ketimpangan  ekonomi
 antarkaum pendatang dengan penduduk lokal.

2) Adanya
sikap saling mengklaim terhadap sumber dana yang semakin terbatas.

3) Adanya
dorongan emosional
kesukuan karena ikatan norma
tradisional.

4) Munculnya sikap yang berlebihan antarpemeluk agama.

5) Mudah dipengaruhi oleh provokator kerusuhan.

 

c.  Konflik Diagonal

 

Menurut Ranjabar (2013) konflik dibedakan menjadi tiga, yaitu konflik
vertical, konflik horizontal, dan
konflik diagonal. Dalam suatu organisasi terjadi ketidakadilan
sumber daya sehingga menimbulkan pertentangan atau konflik yang ekstrim.
Pertentangan itulah yang dinamakan konflik
diagonal. Sebagai contohnya kasus
konflik antara pemerintah dan warga sekitar karena adanya perilaku yang
tidak adil atas alokasi sumber daya ekonomi oleh pemerintah pusat.

 

3.   Konflik Berdasarkan Sifat Pelaku yang Berkonflik

 

 

Konflik
 berdasarkan
 sifat
 pelaku
 dapat  dibedakan
 menjadi  dua,
 yaitu  konflik terbuka
dan konflik tertutup
(Ranjabar 2013).

a.  Konflik Terbuka

Konflik  
terbuka   merupakan 
 konflik   yang   diketahui   oleh 
 semua   pihak   atau
masyarakat
 dalam
 suatu  negara.  Kalian  pasti
 pernah
 mendengar
 berita  tentang

konflik Israel dan Palestina. Bagaimana tanggapan kalian mengenai konflik tersebut?

Konflik Israel dan Palestina merupakan
contoh konflik terbuka. Hal ini dikarenakan konflik   tersebut   diketahui   oleh   semua   pihak, 
 termasuk 
 Indonesia.   Bahkan,

masyarakat  Indonesia  melakukan  penggalangan  dana
 untuk
 membantu
 korban konflik tersebut.
Selain konflik Israel, kalian juga bisa mengamati contoh konflik lainnya yang sifatnya terbuka
di lingkungan sekitarmu.

 

b.  Konflik Tertutup

Konflik tertutup
merupakan kebalikan dari konflik terbuka. Dalam konflik terbuka diketahui oleh semua pihak, sedangkan konflik tertutup
hanya diketahui oleh pihak

yang  terlibat
 dalam  konflik
 tersebut.
 Dalam  konflik  tertutup,
 pihak  yang
 tidak
terllibat  konflik  tidak  tahu
 jika
 terjadi
 konflik.  Sebagai  contohnya  konflik
 intern

sekolah sehingga
pihak luar
tidak tahu
adanya konflik.

 

4.   Konflik
Berdasarkan Waktu

 

Konflik sosial berdasarkan waktu
dapat dibedakan menjadi dua macam,
yaitu:

a.  Konflik Sesaat (Konflik Spontan)

Konflik sesaat dapat terjadi dalam waktu yang
singkat atau sesaat saja karena adanya
kesalahpahaman antara pihak yang berkonflik. Konflik sesaat dapat berakhir pada

saat  adanya  penjelasan
 antara  pihak  yang
 berkonflik.
 Sebagai  contohnya  konflik
antara dua peserta didik yang berbeda argumen saat berdiskusi. Saat itu, mereka

memegang  teguh
 argumen
 masingmasing
 sehingga  dapat  menimbulkan
 konflik. Namun, konflik tersebut hanya terjadi pada saat diskusi saja. Setelah selesai diskusi,

mereka tetap
b
erteman dan tidak terjadi konflik lagi.

 

b.  Konflik Berkelanjutan

Konflik berkelanjutan terjadi dalam waktu yang lama dan sulit untuk diselesaikan.
Dalam  penyelesaian  konflik  ini  harus
 melalui  berbagai  proses
 dan  tahapan  yang

rumit. Apabila konflik ini sudah selesai, tidak menutup
kemungkinan dapat muncul

Kembali konflik sebagai kelanjutan dari konflik dari konflik yang terdahulu. Salah satu
contoh konflik berkelanjutan ialan konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan.

Selain konflik antara Korea Utara dan Korea Selatan, kamu juga dapat menyebutkan contoh lainnya yang ada di lingkungan sekitarmu.

 

5.   Konflik
Berdasarkan
Pengendalian

 

 

Konflik sosial juga dapat dibedakan berdasarkan pengendaliannya. Tahukah kalian apa saja konflik yang dimaksud?

a.  Konflik Terkendali

Menurut Ranjabar (2013), konflik terkendali merupakan suatu konflik di mana para pihak yang terlibat dapat dengan mudah mengendalikan konflik sehingga konflik tidak meluas dan cepat selesai. Sebagai contoh, konflik yang terjadi saat rapat OSIS.

Pada rapat tersebut terjadi beberapa
pendapat untuk mengembangkan organisasi
tersebut, sehingga terjadi perbedaan pendapat yang berujung pada konflik.
Namun, adanya ketua OSIS dapat meredam konflik tersebut dengan memberikan solusi yang

bijak. Oleh karena itu,
konflik dalam rapat OSIS dapat
dikendalikan dengan baik.

 

b.  Konflik Tidak Terkendali

 

Konflik tidak terkendali
merupakan konflik di mana pihak yang terlibat tidak dapat
mengendalikan konflik tersebut
sehingga akibatnya dapat meluas. Konflik yang tidak
terkendali   dapat 
 menyebabkan  
munculnya   kekerasan. 
 Contoh 
 konflik   tidak
terkendali, seperti tawuran, demonstrasi yang berakhir ricuh, dan lain sebagainya.

 

 

 

 

5.   Konflik
Berdasarkan
Sistematika Konflik

 

a.  Konflik Nonsistematis

Konflik nonsistematis memiliki sifat yang acak, dimana terjadi secara spontanitas dan
tidak  ada  tujuan  yang
 dicapai.  Dalam
 konflik  ini
 pihak  yang
 berkonflik  tidak

melakukan analisis kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman. Salah satu contoh

konflik nonsistematis ialah
tawuran pelajar.

 

b.  Konflik Sistematis

Konflik sistematis merupakan kebalikan dari konflik nonsistematis, di mana konflik tersebut telah direncanakan secara
sistematis dan memiliki
tujuan yang ingin dicapai.

Dalam konflik ini, pihak yang berkonflik melakukan analisis kekuatan, kelemahan,

peluang dan ancaman yang dilakukan
dengan cermat, hatihati,
dan sistematis. Setiap
tingkah
 laku
 dari  salah  satu
 pihak
 dianalisis  secara  cermat
 dan  hatihati
 agar

memperoleh keuntungan bagi pihak lainnya.

 

Cermati gambar di bawah! Apa yang dapat kamu pahami setelah melihat gambar tersebut?  Gambar
 di  bawah 
merupakan  zaman penjajahan
 di  Indonesia. 
Sebelum kemerdekaan, bangsa Indonesia telah dijajah oleh bangsa Barat, seperti Spanyol, Jepang, dan Belanda. Berbagai taktik
digunakan oleh bangsa Barat untuk
mengeksploitasi sumber daya di Indonesia. Penjajahan bangsa Barat di Indonesia merupakan salah satu konflik sistematis.

 

Latihan Soal

I.     Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat!

1.     Jelaskan bentuk konflik
individu dan kolektif menurut Ranjabar!

2.     Jelaskan konflik
peran menurut
Ralph Dehrendorf!

3.     Jelaskan mengapa
konflik fungsional dibutuhkan dalam sebuah organisasi?

4.    Salah satu konflik berdasarkan tujuan organisasi adalah
konflik disfungsional. Jelaskan pengertian konflik disfungsional!

5.     Jelaskan yang dimaksud dengan konflik diagonal
dan
konflik terbuka!

6.     Jelaskan yang dimaksud dengan konflik berkelanjutan!

7.     Jelaskan yang dimaksud dengan konflik terkendali!

8.     Jelaskan yang dimaksud dengan konflik tidak terkendali!

9.     Jelaskan yang dimaksud dengan konflik nonsistematis!

10.  Jelaskan yang dimaksud
dengan konflik siste
matis!



 

KEGIATAN PEMBELAJARAN
3

DAMPAK KONFLIK SOSIAL

 

 

 

A. Ringkasan  Materi

Konflik yang ada di masyarakat dapat memberikan dampak bagi warga masyarakat.
Apa  saja  dampak
 konflik
 sosial  bagi  masyarakat?
 Supaya  kalian  mengerti  tentang

dampak konflik, ayo baca dengan seksama semua materinya.

 

1.   Dampak Positif

Konflik sosial yang kalian temui di lingkungan dapat memberikan dampak positif
bagi
 masyarakat.
 Menurut
 Harskamp
 (2005),  dijelaskan
 bahwa
 konflik
 yang  ada  di

masyarakat dianggap sebagai perjuangan dari nilainilai 
atau status, kekuasaan, dan sumber daya yang
d
apat memenuhi fungsi-fungsi positif,
antara
lain:

a.  Konflik dapat mendamaikan kelompokkelompok yang saling bersaing

b.  Mengarahkan pihakpihak yang sedang berjuang untuk mengekspresikan identitas
mereka
sendiri.

c.  Mengurangi ketidakpastian dengan menjaga
batasbatas kelompok.

d.  Mendorong suatu kelompok untuk mencari nilainilai dasar.

 

Darwin, Freud, dan Mark yang dikutip dari Pruitt (2011), menguraikan fungsi positif
dari adanya konflik adalah sebagai berikut:

 

a.  Memfasilitasi Tercapainya Rekonsiliasi
dari Berbagai Kepentingan

Konflik yang terjadi di masyarakat tidak selalu berakhir dengan kemenangan di salah
satu
pihak yang sedang berkonflik. Namun, konflik dapat berakhir dengan kesepakatan

yang menguntungkan dan memberikan manfaat kolektif kepada dua belah pihak yang
berkonflik. Sebagai contohnya, masalah antara Mesir dan Israel, konflik antara pihak

penjual
dan pihak produksi, dan lain sebagainya.

 

 

 

b.  Sebagai Tempat
Awal
Terjadinya Perubahan Sosial

Individu yang
menganggap situasi yang dihadapi tidak adil dan menganggap bahwa
kebijakan yang berlaku saat ini tidak sesuai biasanya akan mengalami pertentangan

dengan aturan yang berlaku sebelumnya. Individu tersebut akan
me;lakukan perubahan sosial.

c.  Konflik Dapat Mempererat Persatuan Kelompok.

Menurut Coser
dikutip dari Pruitt (2011)
menujelaskan bahwa
solidaritas kelompok akan  menurun  jika  tidak
 ada
 kapasitas  perubahan  sosial  dan  rekonsiliasi
 atas

kepentingan   individu   yang   berbeda. 
 Oleh 
 karena   itu, 
 adanya   konflik   dapat mendorong rasa solidaritas suatu kelompok.

 

Secara umum dampak positif
dari adanya konflik di masyarakat antara
lain:

a.  Konflik    dapat  
 membantu  
 menghidupkan    kembali  
 normanorma  
 lama    dan menciptakan norma baru.

b.  Konflik
 merupakan
 jalan
 untuk
 mengurangi  ketergantungan  antarindividu  dan kelompok.

c.  Konflik meningkatkan solidaritas sesama anggota kelompok yang sedang mengalami konflik dengan kelompok lain. Konflik memunculkan sebuah kompromi baru apabila

pihak yang
b
erkonflik berada dalam kekuatan seimbang.

d.  Konflik
 dapat  memperjelas
 aspekaspek  kehidupan
 yang  belum  jelas  atau
 masih belum tuntas ditelaah.

e.  Konflik memungkinkan adanya
penyesuaian kembali normanorma, nilainilai, serta

f.   hubunganhubungan   sosial   dalam   kelompok 
 bersangkutan   dengan   kebutuhan
individu
atau kelompok.

g.  Konflik
 dapat
 berfungsi
 sebagai  sarana
 untuk
 mencapai
 keseimbangan  antara

kekuatankekuatan
y
ang ada di dalam masyarakat.

 

3.   Dampak Negatif

 

 

Konflik
 sosial  selain  memiliki  dampak
 positif
 juga  ada  dampak  negatif.  Adapun
dampak negatif
adanya konflik sosial adalah:

a.  Perpecahan

Adanya konflik sosial di masyarakat dapat menimbulkan perpecahan di lingkungan
masyarakat. Sebagai contohnya, konflik antarkelompok dalam pembagian hasil. Salah

satu  individu  memperoleh
 hasil  yang
 lebih  besar
 dibandingkan  individu  lainnya

sehingga muncul konflik. Konflik dalam kelompok tersebut dapat mempengaruhi
kerukunan dan kenyamanan anggota kelompok, bahkan menimbulkan perpecahan antaranggota kelompok. Konflik tersebut muncul karena adanya ketidakadilan dalam

pembagian hasil.

b.  Permusuhan

 

    Permusuhan dapat terjadi jika konflik tidak dapat diselesaikan dengan baik. Konflik tersebut            dapat terjadi antara individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok            dengan kelompok.
Begitu juga dengan permusuhan dapat  terjadi  pada  individu  satu
 
      dengan  individu  yang
 lain.
 Sebagai
 contohnya, konflik antarkelompok dalam
          memperebutkan tanah. Konflik sengketa tanah seperti
pada gambar di bawah,
dapat
  menimbulkan permusuhan antarkelompok. Hal ini dikarenakan, antarkelompok saling     memperjuangkan hak untuk memperoleh tanah mereka. Oleh karena itu perlu ada pihak       ketiga untuk memberi solusi dan mendamaikan konflik tersebut.

 

c.  Kekerasan

Kekerasan
merupakan
suatu ekspresi yang dilakukan oleh individu maupun
kelompok, dimana secara fisik maupun verbal menunjukkan
Tindakan agresi dan

penyerangan pada
kebebasan atau
martabat.

 

d.  Perubahan Kepribadian

Perubahan kepribadian dalam diri seseorang dapat terjadi akibat adanya konflik. Hal ini dikarenakan adanya gangguan dalam hubungan sosial maupun adanya rasa

kekecewaan dalam diri seseorang. Oleh karena itu, individu yang
mengalami tekanan secara psikologis dapat melakukan perubahan kepribadiannya. Sebagai contohnya,
seorang anak yang
k
edua orangtuanya
bercerai.

 

e.  Jatuhnya
Korban

 

Konflik sosial yang terjadi di masyarakat dapat menjatuhkan korban. Jatuhnya
korban dapat berupa harta benda, berbagai sarana dan prasarana, bahkan nyawa seseorang.

 

         Konflik yang ada
di masyarakat sangat beragam, seperti konflik terbuka, konflik
     individual, konflik tertutup, dan
sebagainya, yang sudah kalian pelajari pada kegiatan
      kegiatan pembelajaran
sebelumnya Seperti yang telah diuraikan pada pertemuan
          sebelumnya, pihakpihak
yang berkonflik akan melakukan berbagai cara untuk saling
    mengalahkan.  Bahkan, suatu  individua  tau  kelompok 
dapat melukai  dan  menyerang
  pihak lawan dengan menggunakan
tindakan kekerasan. Supaya kalian
mengerti tentang
    perbedaan
konflik dan kekerasan,
ayo baca dengan seksama
semua
materinya.

 

4.   Kekerasan Sebagai Dampak
Konflik Sosial

 

 

a.  Definisi
Kekerasan

Kekerasan berasal
dari
Bahasa Inggris, yaitu violence yang
artinya
kekuasaan atau berkuasa. 
 Dalam   Kamus
 Sosiologi   
(Haryanta,   2012),   kekerasan  merupakan  
suatu

ekspresi yang dilakukan oleh individu maupun kelompok di mana secara fisik maupun

verbal mencerminkan tindakan agresi dan penyerangan pada
kebebasan atau
martabat.

Pada umumnya, kekerasan dianggap sebagai tindakan yang merugikan
orang
lain,
seperti   pembunuhan,   pemukulan, 
 perampokan,   dan   sebagainya.   Pada   dasarnya,

kekerasan 
 diartikan   sebagai 
 perilaku, 
 baik   disengaja   atau 
 tidak 
 disengaja   yang

ditunjukkan 
untuk melukai  atau  mencederai  orang lain,
 baik serangan  fisik, mental, maupun  sosial.  Tindakan  kekerasan  tersebut
 tentu
 bertentangan  dengan  nilai  dan
norma
yang berlaku di masyarakat.

b.  Macam-macam
Kekerasan

 

Dalam kehidupan masyarakat,
sering dijumpai adanya Tindakan kekerasan. Tindakan
kekerasan sepertinya telah melekat dalam kehidupan masyarakat. Tahukah kalian
m
acammacam kekerasan yang ada di masyarakat?
Adapun macammacam
kekerasan adalah sebagai berikut:

 

c.  Perbedaan antara Kekerasan dan Konflik Sosial

Dilihat dari bentuknya,
kekerasan dapat dibedakan menjadi:

1) Kekerasan Fisik

Dalam
 Kamus
 Sosiologi
 (Haryanta,  2012),
 kekerasan  fisik
 merupakan
 kekerasan
nyata  yang  dapat  dilihat  dan  dirasakan
 oleh  tubuh.  Wujud
 dari  kekerasan
 fisik

berupa  kehilangan  Kesehatan,  cedera,  bahkan
 sampai  kehilangan
 nyawa.
 Sebagai

contohnya,
penganiayaan, pemukulan,
pembunuhan,
dan sebagainya.

2) Kekerasan Struktural

Kekerasan struktural dilakukan oleh individu atau kelompok
dengan menggunakan
sistem, hukum, ekonomi,
dan tata kebiasaan yang ada
di masyarakat. Kekerasan yang
sifatnya  
 structural  
 sulit  
 untuk  
 dikenali    karena    menimbulkan  
 ketimpangan

ketimpangan pada sumber daya, Pendidikan, pendapatan, kepandaian, keadilan, serta
wewenang untuk mengambil keputusan. Adapun pihak yang bertanggung jawab atas

adanya kekerasan structural ialah negara, karena negara memiliki wewenang untuk melakukan perubahan structural dalam masyarakat. Sebagai contohnya, hilangnya

rumah warga
karena lumpur panas Lapindo di Sidoarjo, Jawa
Timur.

 

3) Kekerasan Psikologis

Kekerasan psikologis merupakan kekerasan yang ditujukan pada rohani atau jiwa, sehingga 
 dapat 
 mengurangi   atau   menghilangkan   kemampuan   jiwa   seseorang.

Sebagai contohnya,
kebohongan, ancaman, tekanan, dan lain sebagainya.

 

a.  Berdasarkan Pelakunya

 

Berdasarkan
p
elakunya, kekerasan dapat
dibedakan sebagai berikut:

1) Kekerasan Individual

Kekerasan  individual
 dilakukan  oleh
 individu
 kepada  individu
 lainnya.  Sebagai
contohnya, kasus pencurian, penjambretan, pemukulan, dan penganiayaan.

2) Kekerasan Kolektif

Berbeda dengan kekerasan individual, kekerasan kolektif dilakukan oleh kelompok atau
massa  atau sekelompok individu. Sebagai contohnya, tawuran pelajar, kasus

Sampit, Poso, serta contohcontoh yang lainnya.

 

5. Perbedaan antara Kekerasan dan Konflik

 

Kekerasan yang ada di masyarakat
dapat terjadi beriringan dengan adanya
konflik. Di  lingkungan
 masyarakat,  selalu  dijumpai
 adanya
 konflik.  Dengan
 demikian,
 kamu
harus  dapat  membedakan
 antara  konflik  dengan  kekerasan. 
Untuk  lebih
 jelasnya,
pahami dan cermati tabel di bawah ini!

 

Perbedaan antara Kekerasan
dan Konflik

No.

Kekerasan

Konflik

1.

Tidak memiliki tujuan
dan hanya didorong oleh
hasrat atau

keinginan sesaat.

Memiliki tujuan
untuk memperoleh
kemenangan dan menaklukkan

pesaingnya

2.

Kedestruktifannya meningkat
seiring dengan perkembangan

peradaban.

Memiliki dampak positif
untuk
mendorong adanya
suatu perubahan.

3.

Agresi jahat yang tidak terprogram
secara
filogenetik dan tidak adaptif

biologis.

Hasil proses interaksi sosial yang bersifat
negatif atau disosiatif.

4.

Bukan pembawaan manusia, memiliki
tingkat
kedestruktifan
yang berbeda-beda.

Sebagai fakta
s
osial yang tidak dapat dihindari.

Ranjabar (2013)

 

Setelah membaca tabel
di
atas, kalian dapat menerapkan pengetahuan yang telah kamu
pelajari di lingkungan sekitarmu. Kalian juga mengetahui perbedaan kekerasan dan
k
onflik yang ada di masyarakat.

 

Latihan Soal

 

I.   Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat!

1. Sebutkan dampak
positif konflik menurut Harskamp!

2. Sebutkan
fungsi positif konflik menurut
Darwin, Freud, dan Mark!

3. Sebutkan
dampak positif konflik secara umum!

4. Sebutkan
dampak negatif adanya konflik
sosial!

5.  Jelaskan yang dimaksud dengan kekerasan psikologi!

6.Jelaskan perbedaan antara kekerasan dan konflik!

 



 

KEGIATAN PEMBELAJARAN
4

RESOLUSI DAN PENYELESAIAN KONFLIK SOSIAL

 

 

 

A.  Ringkasan Materi

 

1.   Resolusi Konflik

 

 

Resolusi konflik atau dalam bahasa inggris disebut conflict resolution memiliki pengertian yang berbedabeda. Sedangkan Weitzman dalam Morton and Coleman, mendefinisikan resolusi konflik sebagai sebuah tindakan pemecahan
masalah bersama (solve a problem
together
). Resolusi konflik juga dapat diartikan sebagai usaha untuk menangani sebabsebab konflik dan berusaha membangun hubungan baru yang bisa tahan lama di antara kelompokkelompok yang
b
erseteru.

Resolusi konflik
adalah suatu cara individu atau kelompok untuk menyelesaikan
masalah yang sedang dihadapi dengan individu lain atau kelompok lain secara sukarela.

Resolusi konflik juga menyarankan penggunaan caracara yang lebih demokratis dan

kontruktif untuk menyelesaikan konflik dengan memberikan kesempatan kepada pihak
pihak yang berkonflik untuk memecahkan masalah mereka oleh diri mereka sendiri

atau dengan melibatkan
pihak ketiga yang
bijak, netral, dan adil
untuk membantu pihak– pihak yang
b
erkonflik guna menyelesaikan masalahnya.

 

Berikut beberapa
pengertian resolusi konflik yang
d
ikemukakan oleh para ahli.

1.  Levine

Menurut  Levine,  resolusi
 konflik
 adalah
 Tindakan
 mengurai
 suatu  permasalahan, pemecahan;
atau penghapusan permasalahan.

2.  Weitzeman &
Weitzeman

Resolusi
 konflik  sebagai
 sebuah
 Tindakan  pemecahan  masalah  Bersama  (solve  a problem together).

3.  Fisher

Resolusi   konflik   adalah   usaha 
 menangani 
 sebabsebab   konflik   dan 
 berusaha
membangun  hubungan
 baru  yang bisa  tahan
 lama
 di
 antara  kelompokkelompok

yang berseteru.

4.  Mindes

Resolusi konflik merupakan kemampuan untuk menyelesaikan perbedaan dengan yang
 lainnya,
 serta  aspek
 penting  dalam
 pembangunan
 sosial  dan
 moral
 yang

memerlukan   keterampilan   dan 
 penilaian 
 untuk  bernegosiasi,   kompromi,   serta mengembangkan rasa
keadilan.

 

Berdasarkan beberapa definisi diatas dapat disimpulkan
bahwa resolusi konflik
suatu
 cara
 individu  untuk
 menyelesaikan 
masalah  yang
 sedang
 dihadapi  dengan
individu lain. Upaya ini dilakukan untuk menciptakan perdamaian di antara pihak yang
berkonflik. Ada berbagai macam kemampuan yang sangat penting dalam menumbuhkan inisiatif
resolusi konflik di antaranya
sebagai berikut:

1.  Kemampuan Orientasi

Kemampuan orientasi dalam resolusi konflik dapat meliputi pemahaman individu
tentang konflik dan sikap yang menunjukkan
anti kekerasan, kejujuran, keadilan,

toleransi, dan harga
diri.

 

2.  Kemampuan Persepsi

Kemampuan   persepsi   merupakan 
 suatu 
 kemampuan 
 seseorang 
 untuk   dapat memahami bahwa setiap individu berbeda, mampu
melihat situasi
seperti
orang lain

melihatnya (rasa
empati), dan tidak menilai orang lain secara sepihak.

3.  Kemampuan Emosi

Kemampuan emosi dalam resolusi konflik mencakup kemampuan untuk mengolah berbagai macam emosi, termasu di dalamnya rasa marah, takut, frustasi, dan emosi

negatife
lainnya.



 

4.  Kemampuan Komunikasi

Kemampuan komunikasi dalam resolusi konflik meliputi kemampuan mendengar
orang lain, memahami lawan bicara, berbicara dngan bahasa yang mudah dipahami,

serta meresume atau Menyusun ulang pernyataan yang bermuatan emosional ke
dalam pernyataan yang
n
etral atau kurang emosional.

5.  Kemampuan Berpikir Kritis

Kemampuan berpikir kritis dalam resolusi konflik, yaitu suatu kemampuan untuk memprediksi dan menganalisis situasi konflik yang sedang dialami.

6.  Kemampuan Berpikir Kreatif

Kemampuan    berpikir    kreatif    dalam    resolusi    konflik    meliputi    kemampuan
memahami masalah untuk memecahkan masalah dengan berbagai macam alternatif

jalan keluar.

 

2.   Upaya Penyelesaian Konflik
Sosial

 

Konflik dapat muncul akibat cara pandang
diantara pihakpihak
yang berkonflik.,
sehingga   dengan   adanya   resolusi 
 konflik  
diharapkan  
dapat   mengurangi   atau menghindari terjadinya konflik. Kondisi seperti ini dapat
m
enciptakan perdamaian di antara
anggota masyarakat.
Berbagai upaya dalam menyelesaikan konflik yaitu:

 

1.  Mediasi

Dalam  Kamus
 Sosiologi
 (Haryanta,  2012),
 mediasi
 adalah  upaya  penyelesaian
konflik  oleh  pihak
 ketiga,  tetapi
 tidak
 diberikan keputusan  yang  mengikat.  Pihak

ketiga  sifatnya
 tidak
 memihak
 salah
 satu
 pihak
 yang  berkonflik,
 tetapi  mencoba

mempertemukan dan mendamaikan kedua belah pihak yang
b
erkonflik.

Tugas  utama  pihak
 ketiga
 adalah  menyelesaikan
 konflik
 secara  damai.  Pihak
ketiga  hanya
 sebagai
 penasihat
 dan
 tidak
 mempunyai
 wewenang  untuk memberi

keputusankeputusan terhadap penyelesaian konflik. Sekalipun nasihatnasihat piha

ketiga  tersebut  tidak  mengikat
 pihakpihak  yang  terlibat  konflik,
 tetapi  mediasi
terkadang menghasilkan penyelesaian yang cukup
efektif.

Hal ini karena
mediasi dapat mengurangi Tindakan irasional yang
mungkin timbul dalam  sebuah  konflik.  Sebagai  contohnya,  AMM
 (Aceh
 Monitoring
 Mission
)
 yang

mendamaikan antara GAM (Gerakan Aceh
Merdeka) dan Indonesia.

 

2.  Konsiliasi

Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), konsiliasi merupakan suatu usaha untuk
mengendalikan konflik dengan menggunakan lembaga-lembaga tertentu agar pihak

yang   berkonflik   dapat 
 berdiskusi   mengenai   persoalan   yang 
 dipertentangkan. Sebagai 
 contohnya, 
 di 
 suatu   perusahaan 
 ada 
 pertikaian   antara 
 buruh   dan

pengusaha. Kemudian, Departemen Tenaga Kerja mempertemukan pihak buruh dan pengusaha
 untuk
 duduk
 bersama
 menyelesaikan  permasalahan  yang
 dihadapi,

sehingga tercapai suatu kesepakatan damai.

 

3.   Negosiasi

Pernahkah kalian pergi ke pasar dan
membeli sesuatu? Pasti kalian akan melakukan tawar menawar dengan pedagang. Setelah melalui penawaran
yang panjang, akhirnya dicapai kata
sepakat. Kegiatan
tersebut dinamakan
negosiasi.
Dalam  penyelesaian  konflik  sosial
 di
 masyarakat,  juga
 dapat  dilakukan 
melalui proses negosiasi. Negosiasi merupakan merupakan suatu interaksi sosial antara
pihakpihak
 yang 
terlibat  untuk
 saling  menyelesaikan
 perbedaan
 agar 
mencapai kata   sepakat.   Dalam   proses   ini,   kedua 
 pihak   yang   berkonflik   melakukan
pembicaraan dalam bentuk tawarmenawar
mengenai syaratsyarat
untuk mengakhiri konflik.

 



 

 

4.   Arbitrasi

Arbitrasi  merupakan  suatu  upaya  menyelesaikan  konflik  yang
 dilakukan
melalui
 pihak  ketiga
 dengan
 memberikan
 keputusan  yang
 harus  ditaati  dan

diterima oleh kedua belah pihak yang sedang berkonflik. Pihak ketiga ini dipilih

oleh kedua belah pihak atau badan berwenang. Apabila tidak dapat menentukan pihak ketiga,
maka pemerintah
akan menunjuk pengadilan sebagai pihak ketiga.

 

 

      5.     Stalemate

         Apabila kedua belah pihak memiliki kekuatan seimbang, kemudian berhenti pada
suatu titik dan tidak saling menyerang, maka upaya ini disebut stalemate. Keadaan

ini terjadi karena kedua belah pihak tidak mungkin lagi untuk maju atau mundur.

Sebagai contohnya, adu senjata antara Amerika
Serikat dan
Uni Soviet pada masa
Perang Dingin (1947–1991) atau ketegangan antara Korea
Utara dan Korea Selatan
di bidang nuklir.

 

6.     Konversi

Dalam Kamus Sosiologi (Haryanta, 2012), konversi (conversion) merupakan upaya
penyelesaian konflik yang dilakukan
dengan salah satu pihak bersedia mengalah

dan mau menerima pendirian dari pihak lain. Sebagai contohnya, dalam rapat OSIS

terjadi perdebatan antara
ketua dengan wakil ketua OSIS. Ketua OSIS mengalah dan
menerima pendapat wakil ketua OSIS karena
pendapat wakil ketua OSIS dianggap

lebih dapat
membantu untuk kemajuan organisasi tersebut.

7.     Ajudikasi

Ajudikasi merupakan upaya menyelesaikan konflik yang dilakukan melalui lembaga
pengadilan. Penyelesaian konflik menurut
ajudikasi dilakukan melalui jalur huku.
Misalnya, 
 sengketa 
 tanah   antara 
 warga
 masyarakat  
dengan   pengusaha
 yang

diselesaikan melalui pengadilan.

 

Latihan Soal

 

I.   Jawablah pertanyaan berikut dengan tepat!

1.  Jelaskan pengertian resolusi konflik!

2.  Jelaskan resolusi konflik menurut Fisher!

3.  Sebutkan   beberapa 
 kemampuan 
 dalam   menumbuhkan 
 inisiatif   resolusi
konflik!

4.  Jelaskan upaya penyelesaian konflik mediasi, konsiliasi, penyelesaian konflik

negosiasi, penyelesaian konflik konversi,
dan
ajudikasi!

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *