PERLAWANAN TERHADAP VOC

Loading

 

PERLAWANAN TERHADAP VOC

1. PERLAWANAN SULTAN NUKU

            Pada
tahun 1608, VOC memaksa Tidore menandatangani Traktat yang berisi penurunan
status sekutu menjadi Raja Vasal/Bawahan. Dengan Hak Oktrooi yang dimiliki VOC
menjadikan VOC sombong dan sering ikut campur dalam urusan internal kerajaan.
Pengangkatan Sultan Alam sebagai sultan tidore mendapat protes keras dari
Pangeran Nuku yang paling berhak atas tahta kerajaan. Sementara Ayah Pangeran
Nuku diasingkan karena menolak bekerjasama

            Berdasarkan
hal tersebut Pangeran Nuku melakukan perlawanan kepada VOC. Dalam mempersiapkan
diri melawan VOC Pangeran Nuku bekerjasma dengan seluruh rakyat Maluku dan
meminta bantuan dan dukungan rakyat papua dibawah pimpinan Raja Ampat dan
orang-orang Gamrange dari Halmahera.

            Siasat
Pangeran Nuku meniru belanda yaitu devide at Impera. Sultan Nuku mempengaruhi
orang Inggris agar mengusir orang belanda. Setelah berhasil Sultan Nuku
menggempur Orang Inggris dan berhasil. VOC mendapatkan kekalahan dalam
peperangan mereka meminta berunding dan menawarkan kekuasaan kepada Pangeran
Nuku. Akan tetapi Pangeran Nuku menolak dan semakin menggiatkan serangan kepada
VOC.

            Pulau
Banda berhasil direbut oleh pasukan Nuku pada tahun 1796. Setahun setelah itu
pasukan Nuku mampu merebut tidore membuat Sultan Kamaluddin melarikan diri ke
Ternate. Kemudian rakyat mengangkat Pangeran Nuku sebagai Sultan Tidore.
Setelah menjadi Sultan. Nuku menggempur kekuatan belanda di ternate dan pada
tahun 1801 Ternate berhasil dibebaskan dari cengkraman Belanda.


2. PERLAWANAN SULTAN AGUNG

            Sultan
Agung merupakan Raja Mataram yang mempunyai cita-cita 1) menyatukan seluruh
tanah jawa dibawah panji mataram, 2) mengusir kekuasaan asing dibumi mataram,
3) Mengusir VOC. Keinginan Sultan Agung mengusir VOC disebabkan oleh beberapa
faktor antara lain:

  • Kehadiran
    VOC di Batavia membahayakan Mataram
  • Monopoli
    Perdagangan
  • VOC
    menghalangi kapal mataram yang hendak ke Malaka
  • VOC
    tidak mau mengakui kedaulatan Mataram

Berdasarkan
alasan-alasan tersebut Sultan Agung mempersiapkan pasukan untuk mengusir VOC.
Pada 22 Agustus 1628 Panglima laut Mataram Tumenggung Bahurekso dengan kekuatan
50 Kapal tiba di Batavia. Kemudian Pasukan bahurekso ditambah dengan Pasukan
Agul-agul yang dibantu oleh Kiai dipati Mandureja dan Upa Santa. Selain itu
datang pula laskar orang sunda dibawah pimpinan dipati ukur. Pasukan mataram
mengepung Batavia dan melakukan serangan sehingga terjadi pertempuran sengit.
Akan tetapi keuatan VOC dengan senjatanya jauh lebih unggul sehingga dapat memukul
mundur pasukan mataram dan pada pertempuran tersebut Bahurekso meninggal.

Kekalahan pada
serangan pertama tidak membuat Sultan Agung menyerah. Mataram bersiasat
menyerang kembali ke Batavia. Akan tetapi rencana mataram bocor ke VOC.
Kemudian VOC menghancurkan lumbung beras yang dipersiapkan Mataram. Dan pada
saat serangan kedua 200 Kapal Mataram dihancurkan VOC.

Pada saat perang
terjadi tepatnya tanggal 21 September J.P Coen Gubernur Jendral belanda
dikabarkan meninggal. Mendengar kabar ini pasukan Mataram semakin bergelora.
Dengan sisa pasukan Mataram terus menyerang. VOC yang dalam keadaan berduka
semakin marah atas serangan Mataram. Akhirnya VOC berhasil mengalahkan serangan
Mataram.

 

3. PERLAWANAN BANTEN

            Tumbuhnya
Banten sebagai kota perdagangan Internasional 
tidak disengani oleh VOC. Ketidaksenangan ini direalisasikan dengan VOC
menghadang Kapal China yang hendak berlabuh ke Banten. Perbuatan licik ini
tidak diterima Sultan Ageng dan melakukan balasan dengan menganggu kapal dagang
VOC dan rakyat merusak kebun tanaman VOC. Hubungan yang buruk membuat VOC
mendirikan benteng pertahanan menganstisipasi serangan Banten.

            Pada
tahun 1671 Sultan Ageng mengankat Sultan Haji sebagai Sultan Muda yang
mengurusi dalam negeri. Sedangkan urusan luar negeri di urus oleh Sultan Ageng
dan Pangeran Purabaya. Pengangkatan ini dimanfaatkan oleh VOC untuk menghasut
Sultan Haji. Sultan Haji berhasil terhasut dan mengadakan persekongkolan dengan
VOC untuk merebut Tahta.

            VOC
berjanji kepada Sultan Haji akan membatu kudeta itu. Akan tetapi VOC mengajukan
Syarat antara lain :

·        
Banten harus menyerahkan
Cirebon ke VOC

·        
Monopoli lada di Banten
dipegang VOC dan mengusir para pedagang Persia, india, China

·        
Banten harus membayar
600.000 ringgit apabila melanggar.

Kemudian dengan bantuan VOC pada tahun
1681 Sultan haji berhasil merebut Banten. Akan tetapi tindakannya ini membuat
rakyat tidak mengakui dia sebagai sultan. 
Kemudian pada tahun 1682 Sultan Ageng mengepung istana Sultan Haji.
Kemudian sultan Haji meminta bantuan VOC dan bantuan VOC datang dengan dipimpin
Francois Tack dan berhasil memukul mundur pasukan Sultan Ageng.

Selama setahun sultan Ageng sering
menyerang belanda akan tetapi sering juga mengalami kerugian. Bahkan Syeikh
Yusuf berhasil tertangkap VOC akhirnya pada bulan Maret 1683 dengan tipu
muslihat VOC Sultan Ageng Tirtayas berhasil ditangkap dan ditawan di batavia
hingga akhir hayat 1692. Sedangkan Syeikh Yusuf di buang di Ceylon.

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *