PAI X BAB I MUJAHADAH BINAFSI

BAB1

Muajahadah Bi Nafsi

 

 

 

A. 
Memahami
Makna Pengendalian Diri, Prasangka Baik, dan Husnuzzan

 

1. Pengendalian Diri (Mujāhadah an-Nafs)

 

Pengendalian diri atau
kontrol diri (Mujāhadah an-Nafs)
adalah menahan diri dari segala perilaku yang dapat merugikan diri sendiri dan
juga orang lain, seperti sifat serakah atau tamak. Dalam literatur Islam,
pengendalian diri dikenal dengan istilah ash
shaum
, atau puasa. Puasa adalah salah satu sarana mengendalikan diri. Hal
tersebut berdasarkan hadis Rasulullah saw. yang artinya: “Wahai golongan pemuda! Barangsiapa dari antaramu mampu menikah, hendaklah dia nikah, kerana yang
demikian itu amat menundukkan pemandangan dan amat memelihara kehormatan,
tetapi barangsiapa tidak mampu, maka hendaklah dia puasa, kerana (puasa) itu
menahan nafsu baginya.”
(H.R. Bukhari)

 

Jadi, jelaslah bahwa pengendalian diri
diperlukan oleh setiap manusia agar dirinya terjaga dari hal-hal yang dilarang
oleh Allah Swt.

 

Dapatkah kamu memberikan contoh perilaku
yang menunjukkan sikap pengendalian diri? Diskusikan dengan teman-temanmu!

 

 

2. Prasangka
Baik [
حسن الظنّ}

 

Prasangka baik dari
kata Arab yaitu
hisnu  yang artinya baik, dan dhon yang artinya prasangka. Jadi prasangka baik atau positive thinking dalam terminologi Islam
dikenal dengan istilah
حسن الظنّ. Secara istilah husnudh dhon adalah sikap orang yang selalu berpikir positif
terhadap apa yang telah diperbuat oleh orang lain. Lawan dari sifat ini adalah
buruk sangka (su’u
§§an), yaitu menyangka orang lain melakukan hal-hal buruk
tanpa adanya

 

bukti yang
benar. Dalam ilmu akhlak,
husnudh dhon dikelompokkan ke dalam tiga

 

bagian, yaitu husnudh dhon kepada Allah Swt. husnudh dhon kepada diri
sendiri, dan
husnudh dhon kepada orang lain.

 

Prasangka baik adalah
sifat sangat penting dimiliki oleh setiap orang yang beriman. Sebaliknya,
prasangka buruk adalah sifat yang harus dijauhi dan dihindari. Dan kita harus
menghindari sifat su’udh dhon

 

3.
Persaudaraan (ukhuwwah)

 

Persaudaraan (ukhuwwah) dalam Islam dimaksudkan bukan
sebatas hubungan kekerabatan karena faktor keturunan, tetapi yang dimaksud
dengan persaudaraan dalam Islam adalah persaudaraan yang diikat oleh tali aqidah (sesama muslim) dan persaudaraan
karena fungsi kemanusiaan (sesama manusia makhluk Allah Swt.). Kedua
persaudaraan tersebut sangat jelas dicontohkan oleh Rasulullah saw., yaitu
mempersaudarakan antara kaum Muhajirin dan
kaum An
¡ar, serta menjalin hubungan persaudaraan dengan suku-suku lain yang tidak seiman dan
melakukan kerja sama dengan mereka

 

 

B. Ayat-Ayat al-Qur’ān tentang Pengendalian Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan

 

1.    Q.S. al-Anfāl/8:72

 

a. Lafal
Ayat dan Artinya

 

 

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا
بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالَّذِينَ آوَوْا
وَنَصَرُوا أُولَئِكَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ
يُهَاجِرُوا مَا لَكُمْ مِنْ وَلايَتِهِمْ مِنْ شَيْءٍ حَتَّى يُهَاجِرُوا وَإِنِ
اسْتَنْصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ إِلا عَلَى قَوْمٍ
بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ مِيثَاقٌ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan berhijrah
serta berjihad dengan harta dan jiwanya pada jalan Allah dan orang-orang yang
memberikan tempat kediaman dan memberi pertolongan (kepada orang-orang
Muhajirin), mereka itu satu sama lain lindung-melindungi. Dan (terhadap)
orang-orang yang beriman, tetapi belum berhijrah, maka tidak ada kewajiban
sedikit pun atasmu melindungi mereka, sebelum mereka berhijrah. (Akan tetapi)
jika

 

 

mereka meminta pertolongan kepadamu dalam (urusan
pembelaan) agama, maka kamu wajib memberikan pertolongan kecuali terhadap kaum
yang telah ada perjanjian antara kamu dengan mereka. Dan Allah Maha Melihat apa
yang kamu kerjakan.”

 

 

 

Aktivitas
3:

 

1.    Bacalah ayat
di atas dengan tartil sesuai dengan
kaidah tajwid yang benar!

 

Lakukan
bersama teman-teman sekelasmu secara berpasangan dan bergantian!

 

2.    Hafalkan ayat beserta arti ayat tersebut
untuk memperkaya perbendaharaan hafalan ayat dan kosa kata bahasa arab ( bahasa
Al-qur’an}dengan menggunakan bantuan alat perekam atau pun saling
memperdengarkan dengan sesama kawan di kelas!

 

 

3.    Carilah ayat
lain yang berhubungan dengan perilaku pengendalian diri!

 

b.  
Hukum Tajwid

 

Lafal

Hukum Tajwid

Lafal

Hukum Tajwid

 

Mad °ab³’i

 

Idgām Mimi/Idgām

 

 

 

 

 

 

 

Mutama¡¡ilain

 

 

 

 

 

 

 

Mad Badal

 

Idgām Bigunnah

 

 

 

 

 

 

 

Izhār Syafawi

 

Iqlab

 

 

 

 

 

 

 

Mad Wājib Mutta¡il

 

Mad ‘Ari« lis Sukµn

 

 

 

 

 

 

 

Aktivitas
4:

 

Carilah hukum tajwid lainnya yang terkandung di dalam ayat di atas, baik itu
berupa mad, Izhār, ikhfa, iqlab, Idgām
bigunnah, Idgām bilagunah, Izhār syafawi,
ikhfa syafawi, Idgām mutamasilain, dan lainnya!

 

 

 



Berbagai wujud
serangan, intimidasi, dan kekerasan yang dilakukan oleh orang-orang musyrik Mekah telah menyebabkan Nabi
Muhammad saw. dan kaum muslimin berhijrah
meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka di Mekah menuju Madinah. Di dalam
sejarah Islam, mereka yang berhijrah
disebut sebagai kaum Muhajirin.
Adapun warga Madinah yang telah beriman kepada Nabi Muhammad saw. dan menerima
kedatangan kaum Muhajirin disebut
kaum An
¡ar.

 

Peristiwa bersejarah
itu bukanlah sekadar perpindahan yang bersifat geografis, yaitu perpindahan
manusia dari suatu tempat ke tempat lain yang baru. Jika hal itu merupakan
perpindahan atau pergerakan sekelompok masyarakat yang bersifat geografis dan
bernilai biasa-biasa saja, tentunya tidak perlu sejauh itu mereka menempuh
perjalanan sangat berat ke Madinah. Juga peristiwa itu bukanlah perpindahan
manusia yang didasarkan pada motif ekonomi atau kepentingan politik tertentu.
Jika ada motif ekonomi, mengapa kaum Muhajirin
malah meninggalkan berbagai harta kekayaan mereka di Mekah dan tidak
memboyongnya ke Madinah? Mengapa mereka malah mengorbankan harta dan jiwa
sebagaimana dilukiskan pada ayat di atas? Jika ada motif politik, pertanyaannya
adalah apakah Rasulullah saw. diutus oleh Allah Swt. memang semata-mata demi
memperoleh kue kekuasaan di Mekah atau Madinah.

 

Hijrah merupakan
peristiwa dahsyat dalam sejarah agama dan kemanusiaan. Dari sudut keagamaan, hijrah
merupakan peristiwa keagamaan karena berkaitan erat dengan perjuangan Nabi
Muhammad saw. dan sahabat-sahabat beliau dalam memperjuangkan tegaknya Islam di
Mekah. Adapun dari sudut kemanusiaan, peristiwa hijrah merupakan implementasi dari ajaran agama Islam mengenai
pentingnya menghormati, menjaga, dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan.

 

Firman Allah Swt. pada
ayat di atas yang melukiskan bahwa kaum Muhajirin
dan Anśar saling lindung-melindungi satu sama lainnya, sungguh mengagumkan.
Itulah wujud dari persaudaraan. Lakukanlah pengamatan dan pembacaan terhadap
buku-buku mengenai peristiwa hijrah
tersebut. Di sana kamu akan menemukan jawaban bahwa persaudaraan (ukhuwwah) akan menjadi salah satu sendi
bagi munculnya peradaban baru dalam sebuah masyarakat baru yang disebut
masyarakat Madani.

 

 

 

Aktivitas
5:

 

Nah,
sekarang lakukan analisis dengan membaca literatur mengenai peristiwa

 

Hijratur Rasul itu.
Pertanyaannya, selain nilai persaudaraan itu,
adakah terdapat

 

juga
nilai-nilai kemanusiaan lainnya seperti pengendalian
diri
dan prasangka baik pada
peristiwa hijrah tersebut?

 

 

 



2.    

Q.S. al-¦ujurāt/49:12

 

a. Lafal
Ayat dan Artinya

 

 

 

 

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا
مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ وَلا تَجَسَّسُوا وَلا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ
بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا
فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

 

“Wahai
orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian
prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan
janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di
antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu
merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima
tobat, Maha Penyayang.”

 

 

 

Skenario pembelajaran

 

1.    Bacalah ayat
di atas dengan tartil sesuai dengan
kaidah tajwid yang benar!

 

Lakukan
bersama teman-teman sekelasmu secara berpasangan dan bergantian!

 

2.    Hafalkan ayat tersebut untuk memperkaya
perbendaharaan hafalan ayat dengan menggunakan bantuan alat perekam atau pun
saling memperdengarkan dengan sesama kawan di kelas!

 

3.    Hafalkan arti ayat di atas agar makin
menambah kecintaan kepada al-Qur’ān
dan menambah keimanan kepada Allah Swt.!

 

4.    Carilah ayat
lain yang berhubungan dengan perilaku
¥usnu§§an!

 

b.  
Hukum Tajwid

 

Lafal

Hukum Tajwid

Lafal

Hukum Tajwid

 

 

 

 

 

Mad Jāiz Munfaśil

 

Idgām Mutama¡¡ilain

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Alif Lam Syamsiyah

 

Ikhfa’ Syafawi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Skenarioa Pelaksanaan Pembelajaran

 

Temukanlah hukum tajwid lainnya yang terkandung di dalam ayat di atas, baik itu
berupa i
dhār, ikhfa’,
iqlab, Idgām bigunnah, Idgām bilagunnah, i
khār syafawi, ikhfa’ syafawi, Idgām mutamassilain, mad dan lainnya!

 

 

3.    Q.S. al-¦ujurāt/49:10
a. Lafal Ayat dan Artinya

 

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ
أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ { الحجرات : 10 }

 

“Sesungguhnya
orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua
saudaramu (yang berselisih) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat
rahmat.”

 

 

 

Skenario
Pembelajaran

 

1.    Bacalah ayat
di atas dengan tartil sesuai dengan
kaidah tajwid yang benar!

 

Lakukan
bersama teman-teman sekelasmu secara berpasangan dan bergantian!

 

2.    Hafalkan ayat tersebut untuk memperkaya
perbendaharaan hafalan ayat dengan menggunakan bantuan alat perekam ataupun
saling memperdengarkan dengan sesama kawan di kelas!

 

3.    Hafalkan arti ayat di atas agar makin
menambah kecintaan kepada al-Qur’ān
dan menambah keimanan kepada Allah Swt.!

 

4.    Carilah ayat
lain yang berhubungan dengan perilaku persaudaraan!

 

 

b.  
Hukum Tajwid

 

Lafal

Hukum Tajwid

Lafal

Hukum Tajwid

 

Alif Lam Syamsiyah

 

I§hār Syafawi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ikhfa’

 

Tafkh³m

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

Kegiatan Pembalajaran

Temukan hukum tajwid lainnya yang terkandung di dalam ayat di atas, baik itu
berupa mad, i
§hār, ikhfa’, iqlab,
Idgām bigunnah, Idgām bilagunnah, i
§hār syafawi, ikhfa’ syafawi, Idgām mutama¡¡ilain, dan lainnya?

 

C. Kandungan Ayat

Pada ayat di atas Allah Swt. menegaskan dua
hal pokok. Pertama, bahwa sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara.
Kedua, jika terdapat perselisihan antarsaudara, kita diperintahkan oleh Allah
Swt. untuk melakukan iślah (upaya
perbaikan atau perdamaian).

 

Apa indikasi dari suatu persaudaraan?
Rasulullah saw. bersabda, “Demi Allah yang menguasai diriku! Seseorang di
antara kalian tidak dianggap beriman kecuali jika dia menyayangi saudaranya
sesama mukmin sama seperti dia menyayangi dirinya sendiri.” (H.R. Bukhari)

 

Selain itu Rasulullah
saw. juga menegaskan, “Seorang muslim
adalah orang
yang lidah dan tangannya
tidak menyakiti muslim lain, dan orang yang berhijrah adalah orang yang
meninggalkan semua larangan Allah.”
(H.R. Bukhari)

 

 

 

Kegitaan Pembelajaran

 

Diskusikan
dengan sesama temanmu, bagaimana cara yang harus dilakukan jika di

 

kelasmu ada
teman yang sedang “marahan” sehingga antara satu dan yang lainnya tidak saling
bertegur sapa dan berinteraksi!

 

 

 

C. 
Hadis
tentang Pengendalian Diri, Prasangka Baik, dan Persaudaraan

 

1. Hadis
tentang Pengendalian Diri

 

Diriwayatkan
dari Abi Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. bersabda:


 

 

 

 

 

 

“Orang yang
perkasa bukanlah orang yang menang dalam perkelahian, tetapi orang yang perkasa
adalah orang yang mengendalikan dirinya ketika marah.”
(H.R.
Bukhari dan Muslim)

 

 2,. Hadis
tentang Prasangka Baik

Rasulullah
saw. bersabda:

 

 

 

 “Jauhkanlah
dirimu dari prasangka buruk, karena sesungguhnya prasangka itu adalah perkataan
yang paling dusta.” (H.R. Bukhari)

 

3. Hadis
tentang Persaudaraan

 

Diriwayatkan
dari Nu’man bin Basyir ra. Bahwa Rasulullah saw. Bersabda:

 

 

 

 

 

 

“Perumpamaan
orang-orang mukmin dalam saling mencintai, saling mengasihi, dan saling menyayangi,
seperti satu tubuh. Apabila satu organ tubuh merasa sakit, akan menjalar kepada
semua organ tubuh, yaitu tidak dapat tidur dan merasa demam.” (H.R. Muslim)

 

 

 

Kegiatan
pembelajaran

 

Hafalkan
ketiga hadis atau salah satu hadis hadis di atas berikut artinya! Laporkan
hafalan tersebut kepada gurumu!

  

Pengendalian
Diri (Mujāhadah an-Nafs)

 

1)Bersabar dengan tidak membalas terhadap
ejekan atau cemoohan teman yang tidak suka terhadap kamu.

 

2)Memaafkan kesalahan teman dan orang lain
yang berbuat “aniaya” kepada kita.

3)Ikhlas terhadap segala bentuk cobaan dan
musibah yang menimpa, dengan terus berupaya memperbaiki diri dan lingkungan

 

4)Menjauhi sifat dengki atau iri hati kepada
orang lain dengan tidak membalas kedengkian mereka kepada kita.

  

Mensyukuri segala nikmat yang telah
diberikan Allah Swt. kepada kita, dan tidak merusak nikmat tersebut; seperti
menjaga lingkungan agar selalu bersih, menjaga tubuh dengan merawatnya,
berolahraga, mengonsumsi makanan dan minuman yang halal, dan sebagainya.

 

 Prasangka
Baik (
¦usnu§§an)

 

1.    Memberikan
apresiasi atas prestasi yang dicapai oleh teman atau orang lain dalam bentuk
ucapan atau pemberian hadiah.

 

2.    Menerima dan menghargai pendapat
teman/orang lain meskipun pendapat tersebut berlawanan dengan keinginan kita.

 

3.    Memberi sumbangan sesuai kemampuan kepada
peminta-minta yang datang ke rumah kita.

 

4.    Turut serta dalam kegiatan-kegiatan sosial
baik ketika di lingkungan rumah, sekolah, ataupun masyarakat.

 

5.    Mengerjakan tugas-tugas yang diberikan
kepada kita dengan penuh tanggung jawab.

 

 

Persaudaraan
(Ukhuwwah)

 

1.    Menjenguk/mendoakan/membantu
teman/orang lain yang sedang sakit atau terkena musibah.

 

2.    Mendamaikan teman atau saudara yang
berselisih agar mereka sadar dan kembali bersatu.

 

3.    Bergaul dengan orang
lain dengan tidak memandang suku, bahasa, budaya, dan agama yang dianutnya.

 

4.    Menghindari segala bentuk permusuhan,
tawuran, ataupun kegiatan yang dapat merugikan orang lain.

5.    Menghargai perbedaan sukur, bangsa, agama,
dan budaya teman/orang lain



 

 

KESIMPULAN

1.      Pengendalian diri (mujāhadah an-nafs) adalah perilaku upaya untuk tetap berada dalam
setiap kebaikan dan terhindar dari sifat-sifat yang dapat membinasakan dirinya,
orang lain, maupun lingkungan.

 

2.     
Berbaik
sangka (
¥usnu§§an) adalah sifat di mana orang lain dipandang sebagai
sesuatu yang baik dan harus diperlakukan dengan baik, kecuali jika diketahui
dengan fakta bahwa orang tersebut harus diwaspadai dan diperingati.

 

3.      Dalam Q.S.
al-Anfāl/8:72
dijelaskan bahwa perintah berhijrah setelah hijrahnya
Rasulullah saw. dan kaum muslimin ke Kota Madinah dan Kota Mekah adalah
berhijrah dari keburukan menuju kepada kebaikan, berjihad dari kemelaratan
menuju kepada kesejahteraan, berhijrah dari kebodohan menuju gilang-gemilang,
dan sebagainya.

 

4.      Dalam Q.S.
al-
¦ujurāt/49:10 kita
diperintahkan oleh Allah Swt. agar senantiasa menjaga dan menciptakan
perdamaian, memberikan nasihat kebaikan, dan mendamaikan perselisihan saudara
dengan saudara yang lain.

5.      Dalam Q.S.
al-
¦ujurāt/49:12 dijelaskan
perintah agar berprasangka baik (
¦usnu§§an) kepada
setiap orang, kita pun diperintahkan menghindari dan menjauhkan diri dari
berburuk sangka kepada sesama saudara kita, karena berburuk sangka akan merusak
keimanan dan merusak persaudaraan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 



 

 

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *