Modul Kelas X Litosfer

BAB V

LITOSFER DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN

 

KOMPETENSI
DASAR

3.5     Menganalisis dinamika litosfer dan dampaknya terhadap kehidupan

4. 5    Menyajikan proses dinamika litosfer
menggunakan peta, gambar, video, tabel, grafik, atau bagan

 

A.        
PENGERTIAN LITOSFER

Secara keseluruhan, tubuh bumi terdiri dari tiga
bagian utama, yaitu litosfer, mantel dan inti (barisfer).
Litosfer ini berasal dari kata litos artinya batu, sfer = sphaira artinya  bulatan/lapisan. Litosfer merupakan lapisan batuan/kulit
bumi yang mengikuti bentuk bumi 
yang  bulat  dengan ketebalan kurang lebih 1.200 km. Tebal
kulit bumi tidak merata, kulit bumi di bagian benua atau daratan lebih tebal
dari bagian samudra. Untuk memahami lapisan-lapisan bumi, amati gambar berikut!



Gambar 1. Lapisan-lapisan
Bumi

Sumber: https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/lithosphere/

 

Menurut ahli geologi,
Suees dan Wiechert
struktur lapisan bumi struktur bumi dibagi sebagai berikut:

1)  
Kerak
bumi (Earth’s crust : The Upper
Sell
), merupakan lapisan
bumi yang paling atas, mempunyai tebal 30 km sampai
40 km pada daratan, dan pada pegunungan ketebalannya bisa mencapai 70
km. litosfer merupakan lapisan yang paling atas dari tubuh bumi, lapisan ini
secara umum terbagi menjadi dua, yaitu;

a)   
Lapisan sial (silisium alumunium) yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas
logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3.

b)  
Lapisan sima(silisium magnesium) yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun oleh
logam logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO, mempunyai berat
jenis yang lebih
besar dari pada
lapisan sial karena
mengandung besi dan magnesiumyaitu mineral ferro magnesium
dan batuan basalt.

2)  
Selubung bumi atau mantel, ketebalannya
sampai kedalaman 1.200 km dari permukaan bumi. Berat jenis lapisan
ini antara 3,4 sampai 4. Unsur-unsur yang dominan pada selubung bumi
adalah oksigen, silisium dan magnesium sehingga dinamakan sima.

3)  
Lapisan antara (intermediate shell) atau mantel bumi atau chalkosfera yang
merupakan sisi oksida dan sulfida dengan ketebalan 1.700 km dan berat jenis
6,4. Lapisan ini terbagi 2 yaitu lapisan
yang terletak pada kedalaman antara 1.200 km sampai 1.250 km dinamakan Crofesima, berat jenis antara 4 sampai 5 terdiri dari unsur-unsur dominan
oksigen, ferrum, silisium, magnesium, dan sedikit chromium. Lapisan antara
kedalaman 1.250 km sampai 2.900 km dinamakan Nifesima, berat jenis antara 5
sampai 6, unsur yang penting (dominan) adalah
Nikel.

4)  
Inti Bumi (The earth’s
core
) atau Barysfera. Lapisan ini diperkirakan mencapai kedalaman 5.500 km, banyak mengandung besi dan nikel
sehingga disebut Nife, berat jenisnya antara 6 sampai 12
dengan rata-rata 9,6. Ketebalan inti bumi mempunyai jari-jari kurang lebih 3.500 km.

 

B.   
Batuan

Beberapa batuan tersusun dari sejenis mineral saja,
beberapa yang lain dibentuk oleh gabungan berbagai mineral. Hal tersebut
dipengaruhi adanya pembentukan tiap batuan yang berbeda-beda. Lihat gambar
berikut.

 




Gambar 2. Siklus Batuan

Sumber: https://www.gurugeografi.id/2019/01/kunci-jawaban-unbk-geografi-2018- nomor.html

 

Keterangan:

1 = Magma batuan cair pijar didalam lithosfer,
bentuk mula–mula siklus batuan

2 = Batuan Beku.

a = Karena pendinginan
magma menjadi makin padat membeku.

3 = Batuan sedimen
Klastis.

b=Batuan beku rusak hancur
karena tenaga eksogen: air hu
jan,panas/dingin, es,
angin, dll, diangkut diendapkan menjadi batuan sedimen klastis.

4.a= Batuan sedimen chemis.

c.1 = Batuan larut dalam
air dan langsung diendapkan menjadi batuan sedimen chemis.

4.b= Batuan sedimen organis.

c.2 = Batuan larut dalam
air diambil oleh organisme dan melaluiorganisme membentuk batuan endapan
organisme.

5 = Batuan metamorf.

d = Karena tekanan dan
suhu batuan beku dan batuan sedimen mengalami perubahan bentuk menjadi batuan
malihan (metamorf )

 

Batuan kulit bumi dapat dibagi menjadi
tiga golongan, yaitu:
batuan beku (igneous rocks), batuan sedimen (sedimentary rocks), dan batuan
metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan
tersebut berbeda-beda materi penyusun dan proses terbentuknya.

1)       
Batuan Beku (igneus rocks)

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma pijar yang membeku
menjadi padat. Contoh batuan beku berdasarkan tempat terbentuknya magma, batuan
beku dibagi atas 3 macam :

 

a)    Batuan Beku Dalam (Plutonik)

Terjadi ketika magma di bagian dalam kerak bumi, dengan penurunan suhu
secara perlahan. Penurunan suhu secara perlahan tersebut menyebabkan proses
kristalisasi terjadi dengan sempurna. Batuan ini mempunyai struktur
holokristalin, artinya batuan tersebut seluruhnya terdiri dari kristal-kristal. Pembentukan kristal
membutuhkan waktu yang lama dan kondisi tertentu. Batuan beku plutonik
berstruktur fanerik, artinya mineral-mineral penyusunnya dapat dilihat mata
secara langsung tanpa
menggunakan alat. Contoh batuannya batu granit,
diorite,gabro
, peridotit.

b)   Batuan Beku
korok/gang/celah (Hypabisal)

Batuan ini terbentuk dalam celah-celah atau rekanan-rekanan kerak bumi.
Batuan beku korok/gang memilik struktur beragam tergantung dari penurunan
suhunya. Batuan yang dekat dengan dapur magma mempunyai struktur holokristalin,
sedangkan yang lebih dekat dengan permukaan bumi mempunyai struktur porfir, yang memperlihatkan adanya butiran
(kristal) yang tidak seragam
(inequigranular) terdiri
atas butiran yang
besar (fenokris) dan masa dasar
(groundmass) atau
matriks (matrix) yang lebih
halus. Contoh batuannya adalah Ryolit porfir,
Andesit porfir dan Basalt porfir.

c)    Batuan Beku Luar/lelehan (Vulkanik)

Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma di permukaan bumi dengan proses
yang cepat. Proses ini menyebabkan
sebagian besar mineralnya tidak memiliki waktu untuk membentuk kristal dan
bersifat amorf. Batuan yang memiliki sifat amorf, susunan atom atau partikelnya tersusun secara acak dan tidak
teratur, seperti susunan atom
kaca, karet dan plastik. Contoh batuan beku luar adalah: batu apung (pumice), scoria,
piroklastik, obsidian, ryolit,
andesit dan basalt.

2)       
Batuan sedimen (Sedimentary rock )

Batuan sedimen ialah batuan yang terbentuk dari endapan hasil dari proses
pelarutan atau pengikisan batuan yang sudah ada sebelumnya, baik berasal dari
batuan beku, batuan metamorf, atau batuan sedimen. Ciri  utama  batuan 
sedimen adalah berlapis-lapis.

1.   
Berdasarkan proses
pembentukannya, batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi, sebagai berikut:

a)    Batuan sedimen klastik

Batuan asal mengalami penghancuran secara mekanik dari ukuiran besar
menjadi ukuran kecil, dan mengalami transportasi kemudian mengendap membentuk
batuan sedimen klastik. Contoh : batupasir, konglomerat dan breksi.

 

b)   Batuan sedimen kimiawi

Batuan sedimen pada pengendapannya terjadi
pengendapan proses kimiawi, seperti penguapan, pelarutan, dan
dehidrasi. Contoh : Batu gamping (limestone,
dolostone
, rijang (chert) batuan evaporit

c)    Batuan sedimen organik

Batuan sedimen organik terjadi karena selama proses pengendapannya
mendapat bantuan dari organisme, yaitu
sisa rumah atau bangkai binatang
di dasar laut. Contoh
: batuan fosfat,
Coal (batu bara) dan koral.

 

2.   
Berdasarkan media pembentuknya

Berdasarkan media pembentuknya,
batuan sedimen dapat dibedakan sebagai berikut.

       Sedimen akuatis dibentuk
oleh air

      
Sedimen aeris/aeolis dibentuk oleh media udara

      
Sedimen glasial
dibentuk oleh media es atau salju

      
Sedimen marine
dibentuk oleh media air laut

 

3.   
Berdasarkan tempat terbentuknya

Berdasarkan tempat terbentuknya
batuan sedimen  dapat diklasifikasikan  sebagai berikut.

      
Sedimen teristris
terbentuk di darat

      
Sedimen fluvial
terbentuk di sungai

      
Sedimen limnis
terbentuk di rawa/danau

      
Sedimen marin terbentuk di laut

      
Sedimen glasial
terbentuk di daerah
es atau
salju

 

4.   
Berdasarkan ukuran butiran

Berdasarkan  ukuran butirannya, batuan sedimen dapat diklasifikasikan  sebagai berikut.

Nama dan ukuran material
bahan endapan adalah
sebagai berikut.

Nama

Diameter

Bouler

>256 mm

Gravel

2 256 mm

Very coarse sand

1 – 2 mm

Coarse sand

0,5 1
mm

Mediumsand

0,25 0,5 mm

Fine sand

0,125 0, 25 mm

Very fine sand

0,0625 0,125 mm

Silt

0,002 – 0,0625 mm

Clay

0,0005 0,002 mm

Dissolved

<0,0005 mm

 

5.   
Berdasarkan ketebalan lapisan

Berdasarkan ketebalannya, Mc Kee dan Weir mengklasifikasikannya  sebagai berikut.

Ketebalan/cm

Penamaan

>100

Sangat tebal

30 – 100

Tebal

10 30

Menengah

3 10

Tipis

1 3

Sangat tipis

0,3 1

Laminasi tebal

< 0,3

Laminasi tipis

 

3)       
Batuan malihan (Metamorphic
Rock
)

Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan
induk, dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, ataupun metamorf yang
mengalami proses metamorfosa. Dari beberapa penulis di dalam beberapa bukunya
pembagian jenis metamorfosa ini berbeda satu sama lain. Secara garis besar
pembagian metamorfosa tersebut dilihat dari ruang lingkup daerah terjadinya,
Bucher dan Frey (1994) membagi menjadi 2 jenis, yaitu:

(1)    
Metamorfosa lokal

Pengertian lokal disini berhubungan dengan luas daerah dimana proses metamorfosa
tersebut terjadi. Luasnya hanya sampai beberapa meter persegi.

(2)    
Metamorfosa regional /
dinamothermal

Metamorfosa regional atau dinamothermal merupakan metamorfosa yang
terjadi pada daerah yang sangat luas.

 

 

C.   
TENAGA
PEMBENTUK MUKA BUMI

 

Bentukan muka Bumi tidak terjadi dengan sendirinya,
tetapi akibat dinamika litosfer yang mengubah permukaan Bumi. Terdapat suatu
tenaga dari bumi yang bisa menyebabkan terbentuknya berbagai bentuk muka bumi tersebut,
yakni tenaga geologi.

Secara umum tenaga
geologi terbagi menjadi dua, yaitu tenaga
endogen dan tenaga
eksogen.
Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari
dalam bumi. Sedangkan  tenaga eksogen
adalah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi. tenaga endogen adalah
tenaga awal yang membentuk relief permukaan bumi daratan dan lautan, dapat
berupa tektonisme,vulkanisme, dan seisme (gempa bumi). Sedangkan Tenaga
eksogen dapat dikatakan sebagai tenaga yang mengubah bentuk permukaan bumi yang
sebelumnya telah dibentuk oleh tenaga endogen. Tenaga  eksogen 
bekerja di atas permukaan bumi, berupa pelapukan, erosi, masswasting, dan sedimentasi.

a.    
Tenaga Endogen

Proses endogen merupakan dinamika di dalam litosfer
sebagai akibat proses fisika dan kimia, berupa tekanan terhadap lapisan- lapisan
batuan pembentuk litosfer atau aktivitas magma. Tenaga endogen berupa tekanan
yang arahnya vertikal dapat mengakibatkantonjolan di permukaan Bumi seperti
kubah, sedangkan yang arahnya mendatar mengakibatkan lipatan-lipatan muka Bumi
(jalur pegunungan lipatan), retakan bahkan pematahan lapisan-lapisan litosfer
sehingga terbentuk sesar.

1.         1.        
Tektonisme

Tektonisme adalah tenaga dari dalam bumi yang
mengakibatkan perubahan letak (dislokasi)
atau perubahan bentuk (deformasi) kulit
bumi. Sebagaimanakita ketahui bahwa permukaan bumi terbentuk dari lapisan batuan yang disebut kulit
bumi atau litosfer. Kulit bumi mempunyai ketebalan relatif sangat tipis,
sehingga mudah pecah-pecah menjadi potongan-potongan kulit bumi yang tak
beraturan yang disebut lempeng
tektonik. Lempeng-lempeng tektonik ini terus bergerak, baik secara horizontal maupun vertikal karena pengaruh arus
konveksi dari lapisan di bawahnya (astenosfer).

Berdasarkan luas dan waktu terjadinya, gerakan
tektonisme dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gerak Epirogenesa dan gerak Orogenesa.

a)   Gerak Epirogenesa.

Gerak Epirogenesa adalah gerak atau pergeseran
lapisan kerak bumi yang relatif lambat dan berlangsung dalam waktu yang lama, serta
meliputi daerah yang luas. Contoh:
penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia.
Gerak Epirogenesa dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:

1)  
Epirogenesa positif, yaitu gerak turunnya
daratan sehingga terlihat permukaan air laut yang naik. Contoh: Turunnya
pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya sampai
ke pulau Banda).

2)  Epirogenesa
negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga terlihat permukaan air yang
turun. Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.





Gambar 3. Epirogenesa
Positif dan Epirogenesa Negatif

Sumber:https://thohamustofageografi.wordpress.com/2017/01/02/tektonisme-
epirogenesa-dan-orogenesa/)



b)   Gerak Orogenesa,

Gerak Orogenesa ialah gerak atau pergeseran lapisan
kerak bumi  yang  relatif cepat dan berlangsung dalam waktu
yang singkat serta meliputi daerah yang sempit. Gerak Orogenesa sering disebut
sebagai proses pembentukan pegunungan. Contoh: pembentukan Pegunungan Andes, Pegunungan
Rocky, Sirkum Mediterania, dan sebagainya.

Gerak Orogenesa menyebabkan
tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang mengakibatkan terjadinya
dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi. Peristiwa
ini dapat menimbulkan lipatan (folded process)
dan patahan (foult Process)

1)  
Proses lipatan (Folded process)

Proses lipatan (Folded process) yaitu
suatu bentuk kulit bumi berbentuk lipatan (gelombang) yang terjadi karena
adanya tenaga endogen yang arahnya mendatar dari dua arah berlawanan, sehingga
lapisan-lapisan batuan di sekitarnya terlipat dan membentuk puncak lipatan (antiklin) serta lembah lipatan (sinklin). Apabila terbentuk beberapa
puncak lipatan disebut antiklinorium dan
beberapa lembah lipatan  disebut sinklinorium.

 

Gambar 4.  Penampang Lipatan

Sumber: https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/BENTUK-BENTUK-MUKA-BUMI-2012/konten15.html

Lipatan terdiri atas
berbagai bentuk, di antaranya sebagai berikut.

(a)     
Lipatan Tegak, dihasilkan dari kekuatan
yang sama yang mendorong dari dua sisi secara
seimbang.

(b)     
Lipatan Miring, ketika kekuatan tenaga
pendorong di slah satu sisi lebih kuat, maka akan menghasilkan kenampakan yang
salah satu sisinya lebih curam.

(c)     
Overfoult, lipatan
yang terbentuk pada saat tekanan bekerja pada salah satu sisi dengan lebih
kuat, sisi tersebut
akan terlipat sesuai
arah lipatan.

(d)    
Recumbent Folt, terbentuk
pada saat lipatan
yang satu menekan
sisi
yang lain, menyebabkan sumbu lipat hamper datar.

(e)     
Overtrust,
terbentuk ketika tenaga tekan menekan satu sisi dengan kuatnya hingga
menyebabkan lipatan menjadi
retak.

 

 Gambar 5. Model  Lipatan

Sumber: https://ilmugeografi.com/geologi/pengertian-lipatan

 

2)  
Patahan (Fault Process)

Tenaga endogen yang bekerja di sini biasanya pada batuan yang padat dan
keras dengan waktu relatif cepat sehingga lapisan
batuan yang terkena tekanan tidak sempat melipat, melainkan
retak-retak sampai akhirnya patah. Akibat pematahan massa batuan tersebut,
terdapat bagian muka Bumi yang mengalami penurunan atau pemerosotan membentuk
lembah patahan. Coba perhatikan gambar penampang
di bawah ini!

Gambar 6. Penampang Sesar/Patahan

Sumber : https://www.siswapedia.com/macam-macam-gerak-tektonisme-dan-dampaknya/

 

Bagian yang mengalami pemerosotan ini dinamakan graben (slenk), sedangkan bagian yang
naik membentuk punggung (puncak) patahan yang disebut horst.

(a)     
Patahan akibat dua tekanan yang arahnya
bersifat horizontal dan saling menjauh. Pada kasus ini, dua buah tekanan yang
arahnya mendatar dan menjauh satu sama lain mengakibatkan adanya retakan yang cukup besar pada lapisan-lapisan batuan. Salah
satu massa batuan
yang telah retak
itu mengalami pemerosotan membentuk lembah patahan atau graben.

(b)     
Patahan
akibat tekanan yang
arahnya vertikal. Adakalanya tenaga endogen
yang bekerja pada lapisan litosfer arahnya vertikal dalam waktu yang relatif cepat.
Bagian yang mengalami tekanan akan membumbung disertai dengan retakan-retakan. Karena adanya gaya berat, salah satu dari massa
batuan akan mengalami penurunan lokasi membentuk graben,
sedangkan bagian lainnya membentuk horst.

(c)     
Patahan
akibat dua tekanan
horizontal yang berlawanan arah.

Dalam pembahasan teori tektonik lempeng telah dipelajari bahwa jika
terdapat tenaga endogen yang bekerja pada lapisan litosfer dengan arah mendatar
dan saling berlawanan arah, akan terbentuk sesar mendatar (strike slip fault).


2.        
Vulkanisme

Vulkanisme merupakan semua peristiwa yang berhubungan
dengan keluarnya magma ke permukaan bumi. Peristiwa vulkanisme berhubungan
dengan pembentukan gunungapi, yaitu pergerakan magma dari dalam litosfera yang
menyusup kelapisan yang lebih atas atau sampai ke permukaan bumi. Perbedaan
letak dapur magma (Batholit) yang
letaknya sangat dalam dan ada pula yang dekat menjadi penyebab perbedaan
kekuatan letusan yang terjadi. Ada
dua bentuk gerakan magma yang berhubungan dengan vulkanisme, yaitu
intrusi dan ekstrusi magma.

 

a.     Intrusi
Magma

Intrusi magma yaitu terobosan magma ke dalam
lapisan-lapisan litosfera, tetapi tidak sampai
ke permukaan bumi. Intrusi magma
dapat dibedakan menjadi lima, antara lain:

(1)      Batholit, yaitu dapur magma.

(2)      Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma
yang menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan
batuan tersebut.

(3)      Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara
lapisan bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa
cembung atau kue serabi.

(4)      Gang (korok),
yaitu batuan hasil
intrusi magma yang
menyusup danmembeku di
sela-sela lipatan (korok).

(5)      Diatrema adalah lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan
gunungapi yang bentuknya
seperti silinder memanjang.

Gambar 8. Penampang bentukan intrusi magma

Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-instrusi/

 

b.    
Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma, yaitu
proses keluarnya magma dari dalam bumi sampai ke
permukaan bumi. Materi hasil ekstrusi
magma dapat berupa:

1)  
Lava, yaitu magma yang keluar sampai ke
permukaan bumi dan mengalir ke permukaan bumi.

2)  
Lahar, yaitu material campuran antara
lava dengan materi-materi yang ada di permukaan bumi berupa pasir, kerikil,
debu, dan lain-lain dengan air sehingga membentuk lumpur.

3)  
Eflata dan piroklastika yaitu material
padat berupa bom, lapili, kerikil, dan debu vulkanik.

4)  
Ekhalasi (gas) yaitu material berupa gas
asam arang seperti fumarole (sumber uap air dan zat lemas), solfatar (sumber
gas belereng), dan mofet (gas asam arang).

Ekstrusi identik dengan erupsi atau letusan gunung api
yang dapat di bedakan menjadi dua, yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif.

1)  
Erupsi efusif, yaitu
erupsi berupa lelehan lava melalui retakan atau rekahan atau lubang
kawah suatu gunungapi.

2)  
Erupsi eksplosif, yaitu erupsi berupa
ledakan dengan mengeluarkan bahan-bahan padat (Eflata/Piroklastika) berupa
bom, lapili, kerikil, dan debu vulkanik bersama-sama dengan
gas dan fluida.

Menurut tempat keluarnya magma, erupsi dapat
dibedakan menjadi tiga, yakni:

1)  
Erupsi linear, yaitu peristiwa keluarnya
magma melalui celah atau retakan yang memanjang, sehingga
membentuk deretan gunung api.

Gambar 9. Erupsi Linier

Sumber: http://repositori.unsil.ac.id/786/6/13.%20BAB%202%20Fix.pdf

 

2)  
Erupsi
areal
, yaitu letusan yang terjadi jika letak magma dekat dengan
permukaan bumi, kemudian
magma membakar dan melelehkan lapisanbatuan yang berada di atasnya
sehingga membentuk lubang
yang besardi permukaan bumi.


Gambar 10. Erupsi Areal

Sumber: https://thohamustofageografi.wordpress.com/2017/01/02/pengertian-dan-penjelasan-vulkanisme-atau-tenaga-vulkanik/

 

3)  
Erupsi
sentral
, jika letusan yang terjadi keluar melalui sebuah lubang
yang membentuk gunungapi yang terpisah-pisah.

 

Gambar 11. Erupsi Sentral

Sumber: https://www.temukanpengertian.com/2014/04/pengertian-erupsi-sentral.html)

Erupsi sentral menghasilkan tiga bentuk gunung api, yaitu sebagai
berikut:

a)        
Gunungapi perisai (Shield Volcanoes), yaitu sebuah gunung api yang beralas luas dan berlereng
landai, merupakan hasil erupsi efusif magma yang cair. Contohnya, gunungapi yang tersebar di kepulauan
Hawaii.

Gambar 12. Gunungapi perisai

Sumber: https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html

 

b)       
Gunungapi maar, merupakan hasil erupsi eksplosif yang tidak terlalu kuat dan
hanya sekali saja. Contohnya, Gunung Lamongan Jawa Timur dengan kawahnya Klakah.

Gambar 13. Gunung api maar

Sumber: https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html

 

c)        
Gunung api strato atau kerucut, merupakan hasil campuran, efusif dan eksplosif.
Gunung api ini berbentuk kerucut dan badannya
berlapis-lapis. Sebagian
besar gunung api di Sumatera,
Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan
Maluku termasuk gunung api
kerucut. Contoh Gunung Api Strato: Gunung Kerinci, Merapi, Ciremai, Semeru,
Batur, Tangkuban Perahu,
dan Gunung Fujiyama di Jepang

Gambar 14. Gunung api strato

Sumber: https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk
files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html

 

Berdasarkan kekentalan magma, tekanan gas, kedalaman
dapur magma, dan material yang dikeluarkannya, letusan gunung api dibedakan
menjadi beberapa tipe, yaitu:

a)    Letusan Tipe Hawaii

Tipe hawaii terjadi karena lava
yang keluar dari kawah sangat cair, sehingga mudah mengalir ke segala arah.
Sifat lava yang sangat cair ini menghasilkan bentuk seperti perisai atau tameng.
Contoh: Gunung Maona Loa, Maona Kea, dan Kilauea di Hawaii.

b)   Letusan Tipe Stromboli

Letusan tipe ini bersifat spesifik, yaituletusan-letusannya
terjadi dengan interval atau tenggang waktu yang hampir sama. Gunung api
stromboli di Kepulauan Lipari tenggang
waktu letusannya ± 12 menit.
Jadi, setiap ±12 menit
terjadi letusan yang memuntahkan material, bom, lapili, dan abu. Contoh gunung
api bertipe stromboli adalah Gunung Vesuvius (Italia) dan Gunung Raung (Jawa).

c)    Letusan Tipe Vulkano

Letusan tipe ini mengeluarkan material padat ,seperti bom, abu, lapili,
serta bahan-bahanpadat dan cair atau lava.
Letusan tipe inididasarkan atas kekuatan erupsi dan kedalaman dapur
magmanya. Contoh: Gunung
Vesuvius dan Etna
di Italia, serta Gunung
Semeru di Jawa Timur.

d)   Letusan Tipe Merapi

Letusan tipe ini mengeluarkan lava kental sehingga
menyumbat mulut kawah. Akibatnya, tekanan gas menjadi
semakin bertambah kuat dan memecahkan sumbatan lava. Sumbatan yang pecah-pecah
terdorong ke atas dan akhirnya terlempar keluar. Material ini menuruni lereng
gunung sebagai ladu atau gloedlawine. Selain itu, terjadi pula
awan panas (gloedwolk) atau sering disebut wedhus gembel. Letusan tipe merapi
sangat berbahaya bagi penduduk di sekitarnya.

e)    Letusan Tipe Perret
atau Plinian

Letusan tipe ini sangat berbahaya dan sangat merusaklingkungan.  Material yang dilemparkan pada letusan tipe
ini mencapai ketinggian sekitar 80 km. Letusan tipe inidapat melemparkan
kepundan atau membobol puncak gunung, sehingga dinding kawah melorot. Contoh:
Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883 dan St. Helens yang meletus
pada tanggal 18 Mei 1980.

f)    Letusan Tipe Pelee

Letusan tipe ini biasa terjadi jika terdapat penyumbatan kawah di puncak
gunung api yang bentuknya seperti
jarum, sehingga menyebabkan tekanan gas
menjadi bertambah besar. Apabila penyumbatan kawah tidak kuat, gunung
tersebut meletus.

g)   Letusan Tipe Sint Vincent

Letusan tipe ini menyebabkan air danau kawah akan tumpah bersama lava.
Letusan ini mengakibatkan daerah di sekitar gunung tersebut akan diterjang lahar panas yang sangat
berbahaya. Contoh: Gunung Kelud yang meletus pada tahun 1919 dan Gunung Sint Vincent
yang meletus pada tahun 1902.

 

Keberadaan gunung berapi di suatu daerah, selain
menimbulkan dampak negatif berupa bencana, seperti letusan, gas beracun dan
tanah longsor yangselalu mengancam penduduk sekitarnya, ternyata dapat pula
membawa
dampak positif berupa manfaat yang sangat besar
bagi kehidupan, antara lain sebagai berikut:

1)  
Sebagai sumber energi, misal dijadikan
Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) seperti yang terdapat di Gunung Kamojang
di Jawa Barat dan Gunung Dieng di Jawa Tengah.

2)  
Sebagai sumber mineral dan bahan galian,
seperti intan, timah, tembaga, belerang, dan batu apung.

3)  
Sebagai obyek wisata dan olahraga,
misalnya hiking, climbing, layang gantung, dan bersepeda gunung.

4)  
Sebagai daerah pertanian yang subur, sebab
material yang dikeluarkan oleh gunung
berapi banyak mengandung unsur dan mineral.

5)  
Sebagai daerah hujan orografis, yaitu
hujan yang terjadi karena adanya penghalang berupa gunung atau pegunungan,
sehingga daerah gunung berapi merupakan tempat yang berfungsi hidrologis bagi daerah sekitarnya.

6)  
Sebagai sumber plasma nutfah, karena
variasi ketinggian secara vertikal dari gunung
berapi.

3.        
Seisme

Gempa Bumi ialah getaran yang terjadi di permukaan
bumi, biasanya disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi (kerak bumi). Getaran
tersebut adalah akibat dari pelepasan energi secara tiba-tiba sehingga
menyebabkan gelombang seismik. Gempa bumi merupakan proses endogen yaitu akibat
adanya pergerakan bumi.

a.    Klasifikasi Gempa

1)       
Berdasarkan Penyebabnya

a)    Gempa bumi runtuhan (Fall Earthquake)

Gempa ini terjadi akibat runtuhnya batu-batu raksasa di sisi gunung, atau
akibat runtuhnya gua-gua besar. Radius getaran tidak begitu besar atau tidak
terasa.

b)   Gempa bumi vulkanik (Volcanic
Earthquake)

Gempa ini terjadi akibat aktivitas gunung api. Dalam banyak peristiwa, gempa
bumi ini mendahului erupsi gunung api, tetapi lebih sering terjadi secara
bersamaan.

c)    Gempa bumi tektonik (Tectonic Earthquake)

Gempa ini terjadi akibat proses tektonik di dalam litosfer yang
berupapergeseran lapisan batuan tua terjadi dislokasi. Gempa ini
memilikikekuatan yang sangat
besar dan meliputi
daerah yang sangat
luas.

2)       
Berdasarkan bentuk episentrum

a)   
Gempa linear, yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk garis.

b)  
Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya berupa
titik.

3)       
Berdasarkan kedalaman
hiposentrum

a)   
Gempa
dangkal, memiliki kedalaman hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan bumi.

b)  
Gempa menengah, memiliki kedalaman
hiposentrumnya antara 100 km-300 km di bawah permukaan bumi.

c)   
Gempa dalam, memiliki
kedalaman hiposentrumnya antara
300700 km di bawah
permukaan bumi. Sampai
saat ini tercatat
gempa terdalam700 km.

4)       
Berdasarkan jarak episentrum

a)   
Gempa setempat, berjarak
kurang dari 10.000 km.

b)  
Gempa jauh, berjarak 10.000 km.

c)   
Gempa jauh sekali,
berjarak lebih dari 10.000 km.

5)       
Berdasarkan letak pusat
gempa

a)        
Gempa laut, terjadi jika letak
episentrumnya terletak di dasar laut atau dapat pula dikatakan episentrumnya terletak di permukaan laut.Gempa ini
terjadi karena getaran permukaan dirambatkan di permukaan laut bersamaan dengan
yang dirambatkan pada permukaan bumi di dasar laut.

b)       
Gempa darat, terjadi
jika episentrumnya berada
di daratan

c)        
Gelombang gempa

Pada dasarnya, ada tiga macam gelombang gempa,yaitu sebagai berikut:

1)       
Gelombang
longitudinal
atau gelombang
primer (P)
, yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah
dan tercatat pertama kali oleh seismograf dengan kecepatan antara 7-14 km per
detik dan periode gelombang 5-7 detik.

2)       
Gelombang
transversal
atau gelombang
sekunder (S)
, yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah
dan tercatat sebagai gelombang kedua oleh seismograf dengan kecepatan antara 4-7
km per detik  dan  periode gelombang 11 13 detik.

3)       
Gelombang
panjang
atau gelombang
permukaan
, yaitu gelombang yang merambat dari episentrum menyebar ke segala
arah di permukaan bumi dengan kecepatan antara 3,5 – 3,9 km per detik dan
periode gelombang relatif lama.

 

Untuk menentukan letak suatu episentrum gempa, diperlukan
catatan gempa bumi dari minimal tiga pencatat gempa bumi, dengan cara sebagai
berikut:

Jarak stasiun ke episentrum dapat dihitung dengan
menggunakan Hukum Laska berikut:

Δ = {(S P)
1’} × 1000 km

 

                                    Keterangan:

Δ =   Delta, menunjukkan jarak ke episentrum

S =  Saat tibanya gelombang Sekunder pada seismograf

P =  Saat
tibanya gelombang Primer pada seismograf

r = 1 menit; 1 megameter = 1.000
km.

 

Contoh soal:

Gempa tektonik tercatat
pada seismograf stasion di Karangkates sebagai berikut:

a.      Gelombang Primer
tercatat pada jam 10.29’.10″

b.     Gelombang Sekunder tercatat pada jam 10.31’.40″

c.      Berapa jarak
Stasiun Karangkates dari episentrum gempa?

Jawab:

Δ = {(10.31’.40” – 10.29’.10”) – 1’} × 1.000
km

=( 2’ 30” – 1’) × 1.000 km
(20” harus diubah ke menit, sehingga wajib dibagi 60

= 1+(30/60) × 1.000 km

= 1,5 × 1.000 km

= 1500 km

Jadi, Jarak dari episentrum ke Karangkates
adalah sekitar 1500 km.

 

Berdasarkan data seismometer, para ahli gempa bumi telah
mengembangkan berbagai ukuran untuk mengukur kekuatan sebuah gempa.
Skala yang terkenal dan banyak digunakan adalah skala yang disusun oleh Charles
F. Richter dan Beno Gutenberg berdasarkan gempa yang terjadi di California pada
1906. Skala ini kemudian terkenal dengan nama skala richter.

Tabel 1. Kategori skala richter

Kekuatan
(Magnitudo)

Kategori

Energi
TNT

>8

7–7,9

6–6,9

5–5,9

4–4,9

3–3,9

<3

Great (Sangat Kuat) Major (Besar)

Strong (Kuat)

Moderate (Sedang) Light (Ringan)

Minor (Kurang)

Very Minor (Sangat

Kurang)

32
megaton

32
kiloton

1
kiloton

29 ton

<4 ton

 

Skala richter menggunakan
dasar penghitungan amplitudogelombang parameternya adalah beda waktu tempuh
antaragelombang P dan gelombang
S. Richter membagi kekuatan gempa ke dalam 10 bagian. Angka 10 adalah
ukuran untuk gempa yang sangat kuat.

Selain itu, ada Moment-Magnitude
Scale
, yang bisa digunakan untuk mengukur gempa berkekuatan luar biasa.
Selain itu juga ada Modified Mercalli
Intensity Scale
. Skala ini, terutama untuk mengukur intensitas gempa atau
efek-efeknya pada lokasi yang spesifik. Skala intensitas Mercalli membagi
intensitas gempa antara I sampai XII, dan cara mengukurnya cukup dengan
observasi langsung pada lingkungan sekitar.

Tabel 2. Skala Intensitas Mercalli

 

Skala

Keterangan

Skala I



Skala II



Skala III

 

Skala IV

 

Skala V

 

Skala VI

 

 

 

Skala VII

 

 

Skala VIII

 


Skala IX

 

 

 

Skala X

 

 

Skala XI

 

 

 

 

Skala XII

Jarang sekali sampai dirasakan orang.
Gempa sangat ringan (very minor) ini tergolong jarang terjadi. Bumisetiap tahun rata-rata diguncang 1,5 juta kali gempa. Tujuh puluh persen di
antaranya berkekuatan antara2–2,9 Skala Richter.

Hanya dirasakan
di dalam rumah oleh orang dalam keadaan tenang atausedang beristirahat. Barang-barangyang tergantung kemungkinan akan terayun sedikit.

Dirasakan di
dalam rumah oleh beberapa orang, namun terkadang tidak dikenali sebagai
suatu gempa.Getaran yang
dirasakan seperti kalau
ada truk ringan yang
lewat. Barang yang
tergantung mungkin akan terayun.

Di dalam rumah
akan dirasakan lebih banyak orang, sedangkan di luar hanya terasa oleh
sedikit orang saja.Barang yang tergantung akan terayun. Getarannya setara dengan truk besar yang lewat.
Mobil yang diparkir bergoyang, jendela atau
pintu bergetar. Dinding kayu bisa retak.

Orang yang sedang
tidur bisa terbangun. Benda-benda kecil tergeser atau terbalik dan beberapa
barang pecah belah akan pecah. Pendulum jam akanterhenti atau kecepatan
ayunnya menjadi berubah. Pepohonan atau tiang-tiang yang tinggi terkadang
terlihat terayun.

Dirasakan oleh
semua orang, namun kerusakannya ringan. Banyak orang ketakutan dan
lari ke luar
rumah.Orang berjalan terhuyung-huyung, barang-barang pecah, kaca termasuk pada jendela pecah.
Perabotan rumah tergeser
atau terbalik, dan plasteran dinding yang kurang kuat akan retak.

Orang akan
kesulitan berdiri. Kerusakan pada bangunan yang
dirancang dan dibangun
dengan baik tidaklah berarti. Namun pada bangunan yang jelek rancangan maupun
konstruksinya, kerusakannya cukup besar. Plesteran dinding dan
genteng dapat Iepas,
juga bata yang tidak tersemen.

Orang-orang
ketakutan. Kerusakan masih terbilang kecil untuk bangunan dengan rancangan
dan konstruksi khusus, sedangkan pada bangunan biasa, cukup besar. Cerobong
asap, monumen, menara dan sebagainya dapat patah atau ambruk. Cabang-cabang
pohon pun dapat patah.

Timbul kepanikan
umum. Bangunan yang dirancang dan dibangun secara khusus pun dapat rusak
cukup berat, sementara bangunan lainnya akan rusak lebih parah, bahkan dapat
ambruk. Pondasi-pondasi bangunan akan rusak, dan bangunan di atasnya yang
tidak disekrupkan akan terlepas.

Kebanyakan
bangunan batu dan berstruktur kayu gaus akan hancur. Kerusakan serius akan
terjadi pada bendungan, tanggul, dan tepian-tepian lainnya. Tanah longsor
terjadi cukup besar, dan air akan menghantam tepian sungai, danau maupun
kanal-kanal. Rel kereta api dapat sedikit melengkung.

Hanya sedikit
struktur bangunan batu yang tetap berdiri, lainnya runtuh. Jembatan juga pada ambruk,
dan tanah longsor
terjadi di mana-mana. Pipa- pipa di bawah
tanah benar-benar hancur
dan tidak akan
berfungsi lagi. Rel kereta api umumnya akan
bengkok.

Kehancuran
praktis menyeluruh dan total. Gelombang-gelombang gempa terlihat muncul
di permukaan tanah.
Massa besar batu-batu beralih tempat,
sementara benda-benda lain
terlempar ke atas.
Garis dan tingkat
pandangan
pun
menjadi kacau, sampai terdistorsi akibat hebatnya goncangan.

 

Gempa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya
tsunami. Akan tetapi, tidak semua gempa menyebabkan tsunami. Ada beberapa
kondisi yang menyebabkan tsunami, antara lain gempa berkekuatan besar (lebih
besar 6 SR, pusat gempa berada di dasar laut dengan pusat gempa yang dangkal, dan adanya dislokasi kerak Bumi bawah
laut). Gerakan vertikal pada kerak Bumi
dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang
mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Pada akhirnya
menyebabkan terjadinya aliran energy air laut, yang ketika sampai di pantai
akan menjadi gelombang besar yang disebut
tsunami.

 

b.      Tenaga
Eksogen

Tenaga eksogen merupakan tenaga berasal dari luar
bumi dan bekerja di permukaan Bumi berasal
dari unsur atmosfer,
hidrosfer, dan biosfer. Tenaga eksogen yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi, terdiri atas:

1. Pelapukan

Pelapukan merupakan proses penghancuran massa batuan
pembentuk litosfer menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Berdasarkan
prosesnya, secara umum pelapukan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pelapukan
mekanik, pelapukan kimiawi, dan pelapukan organik/biologis.

a)       
Pelapukan Mekanik

Pelapukan mekanik adalah proses penghancuran batuan
menjadi bagian- bagian yang lebih
kecil tanpa mengubah struktur kimianya. Pelapukan mekanik dinamakan pula pelapukan fisika atau desintegrasi. Pelapukan
dapat terjadi karena Perubahan Suhu secara Tiba-Tiba,
pembekuan air menjadi
kristal-kristal es pada celah batuan, kegiatan organisme (Makhluk Hidup), pergerakan air, pergerakan air laut,
pergerakan gletser.

b)       
Pelapukan Kimiawi

Pelapukan kimiawi atau dekomposisi adalah proses
penghancuran massa batuan yang disertai dengan perubahan struktur kimianya.
Pada gejala dekomposisi terjadi reaksi kimia antara massa batuan dengan zat
pelapuk, seperti air, karbon dioksida, atau oksigen.

c)       
Pelapukan Organis

Pelapukan organis adalah
proses penghancuran massa batuan dengan
bantuan organisme makhluk hidup dan tumbuhan. Pada umumnya, pelapukan organis dipengaruhi oleh:

1)       
membusuknya sisa tumbuhan dapat membentuk
asam gambut yang berakibat rusaknya batuan
tersebut;

2)       
pengrusakan batuan oleh binatang-binatang kecil di dalam
tanah:

3)       
pengrusakan batuan oleh aktivitas manusia
dengan segala peralatannya baik alat tradisional maupun mekanik.
 

2.   
Pen                                    2. Pengikisan (Erosi)

Pengikisan atau erosi
adalah proses pelepasan
dan pemindahan massa
batuan secara alami dari satu tempat ke
tempat lain oleh suatu tenaga yang bergerak di atas permukaan
bumi. Ada empat jenis erosi bila dilihat
dari zat pelarutnya, yakni sebagai berikut.

a)    Ablasi

Ablasi adalah erosi
yang disebabkan oleh
air yang mengalir. Gesekan akan semakin besar
jika kecepatan dan jumlah air semakin
besar. Kecepatan air juga
akan semakin besar jika gradien
(kemiringan) lahan juga
besar. Erosi yang disebabkan oleh
air yang mengalir dibagi dalam beberapa
tingkatan, sesuai dengan tingkatan kerusakannya, yaitu sebagai
berikut,

1)  
Erosi percik (Splash Erosion)

Erosi percik yaitu proses pengikisan yang terjadi oleh percikan air.
Percikan tersebut berupa partikel tanah dalam jumlah yang kecil dan diendapkan
di tempat lain.

2)  
Erosi lembar (Sheet Erosion)

Erosi lembar yaitu proses pengikisan tanah yang tebalnya
sama atau merata dalam suatu
permukaan tanah.

3)  
Erosi alur (Rill Erosion)

Erosi alur terjadi karena air yang mengalir berkumpul dalam suatu cekungan,sehingga
di cekungan tersebut terjadi erosi tanah yang 
lebih  besar. Alur akibat erosi
dapat dihilangkan dengan cara 
pengolahan  tanah biasa.

4)  
Erosi parit (Gully Erosion)

Proses terjadinya erosi parit sama halnya dengan erosi
alur, tetapi saluran yang terbentuk telah dalam.

b)   Abrasi

Abrasi yaitu pengikisan di pantai oleh pukulan gelombang laut yang terjadi
secara terus-menerus terhadap dinding pantai. Tinggi rendahnya erosi akibat air
laut dipengaruhi oleh besar kecilnya kekuatan
gelombang. Bentang alam yang
diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing terjal), notch (takik),
gua di pantai, wave cut platform (punggungan
yang terpotong gelombang), tanjung, dan teluk.

c)    Eksarasi

Eksarasi yaitu erosi yang disebabkan oleh hasil pengerjaan es. Jenis
erosi ini hanya terjadi pada daerah yang memiliki musim salju atau di daerah
pegunungan tinggi.

d)   Deflasi

Deflasi yaitu erosi yang disebabkan oleh tenaga angin. Pada awalnya angin
hanya menerbangkan pasir dan debu, tetapi kedua benda tersebut dijadikan senjata
untuk menghantam batuan yang lebih besar, sehingga akan mengikis batuan
tersebut.
 


3. Masswasting

Masswasting adalah pemindahan massa batuan
atau tanah karena
gaya berat. Masswasting
dinamakan pula gerakan
tanah. Bentuk-bentuk gerakan
tanah yang biasa kita jumpai antara
lain sebagai berikut:

a)   
tanah longsor (land slide);

b)   tanah amblas
atau ambruk (subsidence);

c)   
tanah nendat  (slumping),
yaitu proses   longsoran  tanah yang
gerakan nya terputus-putus sehingga
hasil memperlihatkan bentukan
seperti teras;

d)  
tanah mengalir (earth flow), yaitu gerakan tanah yang jenuh oleh air pada
lereng-lereng yang landai;

e)    lumpur mengalir
(mud flow), yaitu sejenis
tanah mengalir namun
kadar airnya lebih tinggi;

f)    rayapan tanah
(soil creep), yaitu gerakan
tanah yang sangat
lambat pada lereng yang landai.


4. Sedimentasi

Proses terakhir dari aktivitas eksogen adalah
pengendapan massa batuan atau tanah di suatu tempat setelah mengalami erosi dan
transportasi. Proses ini dikenal dengan sedimentasi, baik terjadi di wilayah
darat maupun perairan, seperti danau, sungai
dan sekitar pantai.
Sedimentasi dapat terjadi
jika massa zat yang mengangkut batuan atau tanah
mengalami penurunan kecepatan atau bahkan berhenti sama sekali.

Berdasarkan zat pengangkutnya, proses pengendapan
dibedakan atas sedimentasi fluvial, eolin, dan marin.

a)   
Sedimentasi Fluvial

Sedimetasi fluvial adalah proses pengendapan materi-materi yang  diangkut 
oleh air sepanjang aliran sungai. Wilayah-wilayah yang biasa menjadi
tempat pengendapan antara lain di dasar badan sungai, pinggir sungai, danau,
atau muara.

Bentukan-bentukan alam yang sering kita jumpai sebagai hasil sedimentasi
fluvial antara lain sebagai berikut.

1)  
Delta.

Endapan di muara
sungai baik sungai
yang bermuara ke danau ataupun
laut. Delta dapat terbentuk jika material yang diendapkan cukup banyak,
serta arus air tidak
terlalu cepat. Berdasarkan bentuknya, kita mengenal beberapa
macam delta, yaitu delta
runcing, cembung, pengisi estuarium, dan delta berbentuk kaki burung.

2)  
Bantaran sungai.

Dataran yang terdapat di tengah-tengah badan sungai atau pada kelokan
dalam sungai sebagai hasil pengendapan. Bantaran
sungai dapat dijumpai
di daerah hilir sungai
yang arusnya sangat
lambat.

3)  
Kipas aluvial.

Endapan pasir yang terangkut oleh gerakan air mengalir yang biasa
dijumpai di lereng bawah perbukitan.

b)  
Sedimentasi Eolin.

Sedimentasi eolin adalah proses pengendapan material yang  dibawa 
oleh angin. Proses pengendapan ini banyak terjadi diwilayah gurun.
Bentang alam yang sering kali kita jumpai sebagai akibat sedimentasi angin
antara lain guguk pasir (sand dunes),
yaitu gundukan pasir yang terdapat di wilayah gurun atau  di pantai.
Di Indonesia, sand dunes dalam
ukuran cukup besar banyak  dapat dijumpai
di pantai Parang Tritis (Yogyakarta) dan Pameungpeuk (Jawa Barat).

c)   
Sedimentasi Marin

Material hasil abrasi biasanya diangkut dan diendapkan di sepanjang
pantai. Proses pengendapan semacam ini dinamakan sedimentasi marin.

Secara lebih khusus,
bentukan alam yang dapat dijumpai
akibat sedimentasi marin
adalah sebagai berikut.

1)  
Beach.
Timbunan puing-puing batu karang yang terdapat di sekitar cliff sebagai akibat
pemecahan gelombang.

2)  
Bar. Yaitu
gosong pasir di pantai yang arahnya memanjangsebagai hasil proses pengerjaan
air laut.

3)  
spit merupakan endapan material sedimen
lautdi bagian ujung tanjung

4)  
Tombolo. Gosong pasir
yang menghubungkan suatu pulaukarang (atol) dengan pulau utama.

 

 

D.  
PEDOSFER

Pedosfer merupakan kulit terluar
litosfer yang terdiri
atas tanah dan batuan
induk pembentuk tanah.
Sifat dan ciri tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor dan proses pembentukan tanah.

1.     
Proses Pembentukan Tanah



Proses
pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun
pelapukan kimia. Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk
tanah berubah menjadi tanah. Proses Pelapukan dipengaruhi beberapa faktor,
yakni

a.      Iklim

Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah terutama
unsur suhu dan curah hujan.

1)       
Suhu/Temperatur

Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila
fluktuasi suhu tinggi, maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga
pembentukan tanah juga cepat.

2)       
Curah Hujan

Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan
pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi
rendah).

b.     Organisme (Vegetasi, Jasad Renik/Mikroorganisme)

Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:

1)       
Membantu proses pelapukan baik pelapukan
organik maupunpelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang
dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi
terjadi oleh proses kimia seperti
batu kapur yang larut oleh air.

2)       
Membantu proses pembentukan humus.
Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang
menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan
jasad renik/ mikroorganisme yang ada di dalam
tanah.

3)       
Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat
nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi
hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput
membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik
yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.

4)       
Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman
berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis tanaman cemara akan
memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya
tanah di bawah pohon cemara,
derajat keasamannya lebih
tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

c.      Bahan Induk

Bahan induk terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen
(endapan), dan batuan metamorf. Batuan
induk itu akan hancur menjadi
bahan induk, kemudian akan mengalami pelapukan dan menjadi tanah.
Tanah
yang terdapat di permukaan Bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat
kimia) yang sama dengan bahan induknya.

d.     Topografi/Relief

Keadaan relief suatu daerah akan
memengaruhi:

1)       
Tebal atau Tipisnya Lapisan Tanah

Daerah yang
memiliki topografi miring
dan berbukit, lapisan
tanahnya lebih tipis karena
tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.

2)       
Sistem Drainase/Pengaliran

Daerah yang
drainasenya jelek seperti
sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.

e.      Waktu

Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah,
akibat pelapukan dan
pencucian yang terus-menerus. Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan
tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik
memerlukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda dan 1.000–10.000 tahun
untuk membentuk tanah dewasa.

 

2.     
Ciri-Ciri Tanah

Komposisi tanah beraneka ragam, mengakibatkan tanah
memiliki sifat fisika, kimia, dan sifat biologi yang beragam.

1.       
Sifat Fisika Tanah

Sifat Fisika
Tanah terdiri atas:

1)  
Tekstur Tanah

Tekstur tanah ialah tingkat kasar dan halusnya
partikel tanah. Penamaan tanah pasir ataupun tanah lempung
itu berdasarkan sifat tekstur tanah.

2)  
Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan cara pengikatan butir-butir tanah yang satu
terhadap yang lain.

3)  
Konsistensi Tanah

Konsistensi tanah merupakan sifat fisik tanah yang menyatakan besar
kecilnya gaya kohesi dan adhesi dalam berbagai kelembapan. Konsistensi tanah
dapat kamu ketahui dengan mencoba memecah tanah tersebut, apabila sulit dipecah
berarti bahwa tanah mempunyai konsistensi yang kuat.

4)  
Lengas Tanah

Lengas tanah ialah
tingkat kebasahan atau kelembaban tanah,
yakni banyak sedikitnya air
yang terikat secara absorbtif pada permukaan butir-butir tanah. Penyerapan air
oleh perakaran tergantung pada persediaan kelembaban air dalam tanah.
Kapasitas simpanan air tanah bergantung pada tekstur, kedalaman, dan struktur tanah.

5)  
Udara Tanah

Udara tanah : udara yang berada dalam ruang pori- pori tanah (merupakan
fase gas dalam system dispersi)
Fungsinya : sebagai sumber
O2, CO2, N2

O2 → untuk pernafasan akar, mikroorganisme,dan  jasad/hewan 
dalam tanah

CO2 → untuk
dekomposisi dan pelarutan hara N2 → sebagai suplai N tanah

O2 penting dalam tanah
kadarnya ≥ 10%

6)  
Warna Tanah

Pada dasarnya, warna tanah tidak murni, melainkan campuran (contoh:
kelabu, coklat, karat).
Warna tanah merupakan
gabungan warna-warna dari komponen tanah seperti oksida besi
(merah, cokelat karat), humus (hitam, cokelat), kwarsa (putih), dan lempung (kelabu,
putih).

2.       
Sifat Kimia Tanah

Tanah sebagai bagian dari tubuh alam mempunyai komposisi kimia berbeda-beda.
Tanah terdiri atas berbagai macam unsur kimia. Penentu sifat kimia tanah antara
lain kandungan bahan organik, unsur hara, dan pH tanah. Tanah yang kita lihat adalah
suatu campuran dari material-material batuan yang telah lapuk (sebagai bahan anorganik),
material organik, bentuk-bentuk kehidupan (jasad hidup tanah), udara, dan air.

3.       
Sifat Biologi Tanah

Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman dan tempat hidup organisme di
dalamnya menyediakan unsur-unsur yangdibutuhkan oleh tanaman dan organisme
lainnya. Di dalam tanah terjadi proses-proses yang menghasil kan sifat biologi
tanah. Misalnya, adanya cacing tanah akan meningkatkan unsur nitrogen, fosfor,
kalium, serta kalsium dalam tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan
tanah. Peranan cacing
tanah yang lain berupa lubang yang ditinggalkan di tanah akan
meningkatkan drainase tanah, hal ini penting dalam perkembangan tanah.
Cacing-cacing mengangkut tanah, mencampur, serta menggumpalkan sejumlah bahan
organik yang belum terombak seperti daun dan rumput yang digunakan sebagai
makanan. Selain itu, secara tegas cacing dengan kotoran
dan lendir-lendirnya mampu
mengikat partikel-partikel
tanah menjadi gumpalan tanah yang stabil terutama
pada tanah asli.

 

3.     
Profil Tanah

Profil tanah ialah susunan atau lapisan tanah secara
vertikal. Tanah mempunyai persebaran secara horizontal, sehingga sifat-sifat
tanah tersebut dapat berbeda-beda pada tiap tempat. Selain itu, sifat-sifat
tanah secara vertikal juga bisa berbeda. Hal ini karena tanah mempunyai
perlapisan-perlapisan.

Gambar 15. Penampang
profil Tanah

Sumber: https://www.ilmusaudara.com/2015/09/pengertian-tanah.html

 

Perlapisan tanah secara umum seperti berikut ini.

1)       
Lapisan Tanah Atas atau Horizon
A

Lapisan ini merupakan lapisan tanah teratas. Pada umumnya mengandung
bahan organik, karena merupakan tanah
yang muda (baru
terbentuk), sehingga masih
banyak dipengaruhi oleh kondisi di atas permukaan tanah. Lapisan ini ditandai dengan
adanya zona perakaran dan kegiatan jasad hidup tanah.

2)       
Lapisan Tanah Bawah atau Horizon
B

Lapisan ini juga mengandung bahan organik, tetapi kurang
dibandingkan dengan lapisan tanah atas. Lapisan ini merupakan zona pengendapan
partikel tanah yang tercuci
dari horizon A.

3)       
Regolith

Pada lapisan ini terdiri atas tanah yang sudah terbentuk, tetapi masih
menunjukkan ciri-ciri struktur batuan induk.

4)       
Bahan Induk (bedrock)

Lapisan ini merupakan lapisan batuan induk yang masih padu.

 

4.     
Jenis- jenis tanah.

Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah
inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan
klasifikasi yang berbeda.
Jenis-jenis tanah itu antara lain:

a)    Tanah aluvial = tanah yang
terbentuk dari material halus hasilpengendapan aliran sungai. Persebaran tanah
aluvial di Indonesia terdapat di pantai Timur Sumatra, pantai Utara Jawa,
sepanjang Sungai Barito, sepanjang Sungai Mahakam, sepanjang Sungai Musi
dan sepanjang Bengawan Solo.

b)   Tanah andosol = tanah yang
berasal dari abu gunung api. Persebarannya terdapat di: Sumatra, Jawa,
Bali, Lombok, Halmahera dan Minahasa.

c)    Tanah regosol = tanah berbutir
kasar dan berasal dari material gunung api. Terdapat di Bengkulu, pantai
Barat Sumatra, Jawa,
Bali dan NTB.

d)   Tanah kapur = tanah yang terjadi karena hasil pelapukan batuan kapur
dan sifatnya tidak subur.
Terdapat di Jawa Tengah, Aceh,
danSulawesi Selatan.

e)    Tanah litosol = tanah yang terbentuk dari batuan keras yang belum
mengalami pelapukan secara sempurna.

f)    Tanah argosol (tanah gambut) = tanah yang terbentuk dari sisa-sisa
tumbuhan yang telah mengalami pembusukan. Jenis tanah ini berwarna hitam sampai
coklat. Terdapat di Kalimantan, Sumatra
dan Papua.

g)    Tanah grumusol = tanah yang terbentuk dari material halus
berlempung. Terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Sulawesi Selatan dan
Nusa Tenggara.

h)   Tanah latosol = tanah yang banyak mengandung zat besi dan
aluminium. Jens tanah ini sering disebut tanah merah yang banyak dijumpai di
daerah pegunungan. Tanahnya berwarna merah sampai kuning. Terdapat di Jawa
Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung,
Kalimantan Tengah, Sumatra
Barat.

5.     
Manfaat Tanah

Pemanfaatan tanah antara lain
sebagai berikut:

a)       
Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran

b)       
Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)

c)       
Penyedia kebutuhan sekunder tanaman
(zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam asam organik;
antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)

d)       
Sebagai habitat biota tanah, baik yang
berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan
primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang
berdampak negatif karena
merupakan hama & penyakit tanaman.

 

6.     
Lahan Potensial dan lahan Kritis

Perbedaan lahan potensial
dengan lahan kritis.
Lahan potensial adalah
lahan yang secara fisis kimiawi dan ekonomi cukup menguntungkan, tetapi belum
dimanfaatkan secara optimal.
Sedangkan lahan kritis adalah lahan yang sudah
tidak berfungsi
lagi sebagai media pengatur tata air dan unsur pertanian yang baik.

Faktor penyebab terjadinya lahan kritis antara lain
meluasnya lahan kritis atau degradasi lahan di permukaan bumi yaitu akibat
proses alam dan perilaku manusia dalam memanfaatkan lingkungan.

Faktor penyebab lahan kritis
sebagai akibat proses alam yaitu:

1)       
erosi,

2)       
tanah longsor,

3)       
pencucian tanah.

Sedangkan faktor penyebab lahan
kritis sebagai akibat perilaku manusia misalnya:

1)       
perusakan hutan,

2)       
pertanian sistem ladang
berpindah,

3)       
kegiatan pertambangan terbuka,

4)       
sistem pertanian di pegunungan yang tidak
menggunakan terassering (sengkedan).

Ciri-ciri lahan kritis:

1)       
penutup vegetasinya kurang
dari 25%,

2)       
tingkat kemiringan lebih dari 15%,

3)       
terjadi gejala aerasi
lembar (sheet erosion),

4)       
terjadi gejala erosi parit (gully erosion).

 

Dampak degradasi lahan terhadap
kehidupan :

1)       
akibat proses erosi yang merupakan
penyebab lahan tanah menjadi tidak subur, karena lapisan
topsoil hilang,

2)       
produktivitas pertanian menurun
sehingga pendapatan petani
berkurang,

3)       
terjadi banjir,

4)       
menurunnya kemampuan lahan
untuk menyerap air tanah, dan

5)       
terganggunya ekosistem makhluk hidup.

 

7.     
Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

a.
Mengendalikan Erosi

Usaha untuk mencegah atau mengurangi erosi dilakukan dengan mengendalikan
faktor-faktor penyebab erosi. Banyaknya tanah yang tererosi ditentukan oleh faktor curah hujan, erodibilitas tanah, kemiringan dan panjang
lereng, tanaman penutup,
pengelolaan lahan, serta praktik konservasi. Dengan mengendalikan faktor-faktor penyebab erosi tersebut,
maka erosi tanah dapat dicegah atau dikurangi.

Dari seluruh faktor erosi, curah hujan merupakan faktor yang tidak dapat
dikendalikan manusia. Sedang faktor erosi lainnya dapat dipengaruhi atau
dikendalikan oleh manusia, seperti mengurangi panjang dan kemiringan lereng, menanami
lahan dengan tanaman
penutup, dan melakukan pengelolaan lahan. Kegiatan tersebut
merupakan bagian dari praktik konservasi.

b.Mengawetkan Tanah

Tanah dapat mengalami
penurunan kesuburan sehingga
berpengaruh terhadap tumbuhnya
tanaman. Erosi tanah menyebabkan tingkat kesuburan tanah menurun. Untuk
mempertahankan tingkat kesuburan tanah maka perlu usaha pengawetan atau konservasi.

Cara pengawetan tanah
secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dengan metode vegetatif
dan metode mekanik.

a)       
Metode vegetatif.

1)   Penanaman tanaman
secara berjalur tegak
lurus terhadap arah aliran
(strip cropping).

2)  
Penanaman tanaman secara berjalur sejajar
garis kontur (contour strip cropping). Cara
penanaman ini bertujuan untuk mengurangi atau menahan kecepatan aliran air dan
menahan partikel-partikel tanah yang
terangkut aliran air.

3)   Penutupan lahan yang memiliki
lereng curam dengan
tanaman keras
(buffering).

4)  
Penanaman tanaman secara permanen untuk
melindungi tanah dari tiupan angin (wind breaks).

b)       
Metode mekanik

1)   Pengolahan lahan sejajar
garis kontur (contour tillage).

Pengolahan lahan dengan cara ini
bertujuan untuk membuat pola rongga-rongga tanah sejajar kontur dan membentuk
igir-igir kecil yang dapat memperlambat aliran air danMemperbesar infiltrasi
air.

2)   Penterasan lahan miring (terracering).

Penterasan bertujuan untuk
mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng sehingga dapat
memperlambat aliran air.

3)   Pembuatan pematang (guludan) dan saluran air sejajar garis
kontur. Pembuatan pematang bertujuan untuk menahan aliran air.

4)  
Pembuatan cekdam. Pembuatan cekdam bertujuan untuk membendung aliran air yang
melewati paritparit sehingga material tanah hasil erosi yang terangkut aliran
tertahan dan terendapkan. Adanya cekdam maka parit-parit erosi lama-kelamaan
mengalami pendangkalan, erosi tanah dapat dikendalikan, lapisan tanah menebal,
dan produktivitas tanah meningkat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Shindu P, Yashinto. 2016. Geografi untuk SMA/MA Kelas X.
Jakarta: Erlangga

Geografi, ThohaMusthofa. 2017. Teknomisme: Epirogenesa dam Orogenesa. (https://thohamustofageografi.wordpress.com/2017/01/02/tektonisme-epirogenesa-dan-orogenesa/,
diakses hari Jum’at, 18 Juni
2021)

 

https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/lithosphere/,
(diakses hari Kamis, 17 Juni 2021)

 

https://www.gurugeografi.id/2019/01/kunci-jawaban-unbk-geografi-2018-nomor.html
(diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/BENTUK-BENTUK-MUKA-BUMI-2012/konten15.html,
(diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html
(diakses hari Jum’at, 18 Juni
2021)

 

http://repositori.unsil.ac.id/786/6/13.%20BAB%202%20Fix.pdf,
(diakses hari Jum’at, 18 Juni
2021)

 

 Citra. 2016. Pengertian Lipatan dan gambarnya. (https://ilmugeografi.com/geologi/pengertian-lipatan,
diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

 

Siswapedia, Tim. 2013. Macam-macam Gerak Tektonisme dan dampaknya.
(https://www.siswapedia.com/macam-macam-gerak-tektonisme-dan-dampaknya/
,
diakses hari Jum’at, 18 Juni
2021)

https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-instrusi/,
(
diakses hari Jum’at, 18 Juni
2021)

 

 

 

 

 

  

Leave a Comment

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *