TEKS LAPORAN HASIL OBSERVASI

Pengertian

Teks Laporan Hasil Observasi adalah teks yang menjelaskan atau mendeskripsikan suatu objek, tempat, atau peristiwa secara rinci berdasarkan fakta yang ditemukan melalui pengamatan langsung.

 

Fungsi (Kegunaan)

LHO memiliki fungsi-fungsi berikut:

 

  • Sebagai sumber informasi faktual yang akurat mengenai objek yang diamati.
  • Sebagai alat dokumentasi dan bukti hasil pengamatan.
  • Sebagai landasan penyusunan kebijakan atau pemecahan masalah (misalnya dalam penelitian).
  • Melaporkan hasil kegiatan observasi kepada pihak yang berkepentingan.

Tujuan

Tujuan utama penyusunan LHO adalah:

 

  • Menyajikan informasi yang terstruktur dan terperinci tentang suatu objek atau fenomena dari sudut pandang keilmuan.
  • Menjelaskan ciri-ciri umum suatu objek (definisi, klasifikasi, manfaat, dan perilaku).
  • Menjadi alat untuk mengambil keputusan yang lebih efektif.

Struktur Teks Laporan Hasil Observasi

LHO tersusun atas tiga struktur wajib agar informasi tersampaikan dengan jelas dan sistematis:

  1. Pernyataan Umum (Klasifikasi Umum):

Berisi pembukaan, atau pengantar mengenai objek yang diamati. Bagian ini memuat informasi umum tentang objek, termasuk definisi, nama ilmiah (jika ada), dan klasifikasi objek tersebut dalam lingkup yang lebih luas. Contoh: “Pohon kelapa (Cocos nucifera) termasuk dalam jenis tumbuhan palem yang…”

  1. Deskripsi Bagian (Aspek yang Dilaporkan):

Berisi rincian atau penjelasan detail mengenai objek yang diamati. Menjelaskan ciri fisik, karakteristik, fungsi, manfaat, atau perilaku dari objek tersebut secara terperinci per bagian. Contoh: “Batang kelapa tegak, tidak bercabang… Buahnya memiliki lapisan luar yang keras…”

  1. Deskripsi Manfaat/Kesimpulan (Opsional):

 

Bagian penutup yang menjelaskan kesimpulan, kegunaan, atau manfaat dari objek yang diobservasi. Bagian ini merangkum pentingnya objek bagi kehidupan atau lingkungan. Contoh: “Dengan demikian, pohon kelapa merupakan tumbuhan serbaguna karena hampir semua bagiannya dapat dimanfaatkan.”

Jenis Teks Laporan Hasil Observasi

Berdasarkan sifat objek yang diamati, LHO dibagi menjadi beberapa jenis, antara lain:

 

  • LHO Tentang Benda: Melaporkan objek fisik tak bergerak (contoh: Candi Borobudur, Museum Nasional).
  • LHO Tentang Hewan/Tumbuhan: Melaporkan ciri, habitat, dan klasifikasi makhluk hidup (contoh: Harimau Sumatra, Bunga Rafflesia).
  • LHO Tentang Lingkungan/Fenomena Alam: Melaporkan peristiwa atau keadaan lingkungan (contoh: Proses Terjadinya Hujan, Ekosistem Hutan Mangrove).

Kaidah Kebahasaan

LHO memiliki karakteristik bahasa yang khas, yaitu:

  1. Penggunaan Kata Benda (Nomina): Menggunakan kata-kata yang menunjuk pada objek yang dilaporkan.
    • Contoh: rumah, ekosistem, pohon.
  2. Frasa Nomina: Gabungan dua kata benda yang membentuk satu kesatuan.
    • Contoh: alat transportasi, lapisan luar, daun hijau.
  3. Kata Kerja (Verba) Penghubung (Kopula): Kata yang digunakan untuk mendefinisikan atau menyamakan.
    • Contoh: adalah, merupakan, ialah, digolongkan.
  4. Kata Bersinonim/Berantonim: Digunakan untuk memperjelas deskripsi.
    • Contoh: lebar x sempit, besar x kecil.
  5. Kalimat Definisi: Kalimat yang menjelaskan makna atau pengertian objek, ditandai oleh verba kopula.
    • Contoh: Bunga Rafflesia adalah bunga terbesar di dunia.
  6. Kalimat Klasifikasi: Kalimat yang mengelompokkan objek berdasarkan ciri-ciri tertentu.
    • Contoh: Hewan digolongkan menjadi herbivora, karnivora, dan omnivora.

 

CONTOH

 

Museum Nasional Indonesia

 

1. Pernyataan Umum (Klasifikasi)

Museum Nasional Indonesia, yang juga dikenal sebagai Museum Gajah, merupakan salah satu museum terbesar dan tertua di Indonesia. Museum ini adalah pusat edukasi dan konservasi warisan budaya dan sejarah bangsa. Secara resmi, museum ini digolongkan sebagai museum arkeologi, sejarah, etnografi, dan geografi. Museum Nasional berlokasi di Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat.

2. Deskripsi Bagian

Bangunan Museum Nasional terdiri dari dua kompleks utama: Gedung Lama (Gedung Gajah) dan Gedung Baru (Gedung Arca).

A. Gedung Gajah (Gedung Lama)

Gedung Gajah dicirikan oleh arsitektur gaya Neo-Klasik yang dibangun pada tahun 1862. Nama “Gajah” berasal dari patung gajah perunggu yang merupakan hadiah dari Raja Chulalongkorn (Raja Siam) pada tahun 1871 yang diletakkan di halaman depan. Gedung ini menyimpan berbagai koleksi prasejarah, arkeologi, dan keramik. Koleksi yang paling terkenal ialah arca-arca Hindu-Buddha dari masa kerajaan kuno Indonesia.

B. Gedung Arca (Gedung Baru)

Gedung Arca, yang diresmikan pada tahun 2007, memiliki desain modern yang didominasi oleh panel-panel kaca. Gedung ini berfungsi sebagai ruang pameran koleksi etnografi yang lebih modern, termasuk benda-benda budaya seperti tekstil, alat musik tradisional, dan perhiasan dari berbagai provinsi di Indonesia. Tata pamer di Gedung Arca bersifat tematik, memudahkan pengunjung memahami perkembangan kebudayaan dari masa ke masa.

3. Deskripsi Manfaat/Kesimpulan

 

Dengan demikian, Museum Nasional memiliki fungsi ganda sebagai tempat pelestarian sekaligus sebagai sarana pendidikan. Melalui koleksi yang berjumlah lebih dari $140.000$ benda, museum ini memberikan gambaran utuh dan kronologis mengenai sejarah, budaya, dan keberagaman masyarakat Indonesia. Kunjungan ke museum merupakan cara yang efektif untuk menumbuhkan kesadaran akan pentingnya warisan sejarah.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

    Leave a Reply

    Your email address will not be published. Required fields are marked *