Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

BAB II DEMOKROSI

 

BAB II

DEMOKRASI

 

 

 

BERFIKIR DEANGAN HATI SAMUBARI

 

 

 

Isu utama yang menjadi muatan demokrasi

adalah      persoalan      saling      menghargai eksistensi (keberadaan). Rasa ingin dihargai adalah kebutuhan alamiah (fitrah) manusia. Manusia dari kasta apa pun memiliki rasa itu.

 

Teman-teman  kita  di  sekolah  mempunyai hak  untuk  dihargai.  Bapak  dan  ibu  guru, orangtua,  dan  semua  orang  yang  ada  di sekitar  kita  juga  mempunyai  hak  untuk dihargai  dan  dihormati,  sebagaimana  kita juga ingin dihargai.

 

Ternyata, persoalan menghargai dan dihargai adalah  bagian  penting  dari  misi  dakwah Islam. Yang lebih muda  harus menghormati yang tua, dan yang lebih tua diperintahkan untuk  menyayangi  yang  muda.  Begitulah maksud salah satu sabda Nabi Muhammad saw.

 

 

Ajaran demikian kemudian dipandang sebagai nilai-nilai demokrasi. Demokrasi memang  istilah  yang  lahir  dari  dunia  Barat,  tetapi  jangan  pernah  lupa,  Islam bersikap akomodatif terhadap semua yang datang dari luar, Barat atau Timur, jika nilai-nilai yang diusungnya sejalan dengan nilai-nilai Islam sendiri, maka itu berarti Islami.

 

Tahukah kalian? Menurut pandangan para pakar, pemerintahan yang dipimpin Rasulullah  dan  Khulafaurrasyidin  merupakan  pemerintahan  paling  demokratis yang pernah ada di dunia, dengan Piagam Madinah sebagai acuan dalam menata hubungan  antarwarga  masyarakat.  Pada  masa  itu,  semua  elemen  masyarakat mendapat pengakuan dan penghormatan yang setara.

 

Banyak tokoh dunia Barat tercengang dengan adanya fakta Piagam Madinah. Salah satunya adalah Robert N. Bellah yang menuliskan dalam bukunya Beyond Belief (1976),  bahwa  Muhammad  sebenarnya  telah  membuat  lompatan  yang amat  jauh  ke  depan.  Menurut   Bellah, Muhammad  telah  melahirkan  sesuatu (konstitusi Madinah) yang untuk zaman dan tempatnya adalah sangat modern. Masyaallah…!

 

 

 

Aktivitas Siswa:

 

1.  Untuk  melihat  bagaimana  isi  konstitusi  Madinah,  coba  cari  naskah

Piagam Madinah!

 

2.  Setelah   diunduh   dari   internet,   diskusikan   di   kelompokmu   dan presentasikan hasil diskusi kalian di depan kelas untuk mendapatkan tanggapan dari kelompok lain!

 

 

 

Pengamatan disekitar Kita

 

   

Cermati  pemikiran  dan  karya  Prof.  Dr.  Mahmud  Syaltut  berikut  ini,  kemudian

berilah tanggapan kritis!

 

Pemikiran Mahmud  Syaltut

(Cendekiawan Muslim, Mantan Rektor al-Azhar Kairo Mesir)

Syaltut menegaskan, walaupun banyak perbedaan pendapat dalam memahami akidah, namun ada tiga hal yang harus dibatasi dalam upaya menyikapi perbedaan, yaitu:

 

1.   Akidah harus dipahami dari dalil yang Qati (dalil yang bersumber dari al-Qur'an dan hadis yang £a¥i¥);

 

2.   Pemahaman akidah dari dalil yang tidak Qati pada akhirnya akan menimbulkan perbedaan pendapat. Dalam keadaan demikian maka tidak ada satu pendapat pun yang boleh diklaim paling benar dengan menafikan pendapat lain;

 

3.   Materi-materi  akidah  yang  termuat  dalam  buku-buku  tauhid  bukanlah rangkuman dari semua masalah akidah yang diwajibkan Tuhan kepada kita. Kitab-kitab itu adalah karya ilmiah yang mungkin bisa berbeda dengan teks

al-Qur'an maupun al-hadis, dan karenanya ia menjadi lahan ijtihad para ulama.

 

Bagaimana  pendapatmu  tentang  pemikiran  Mahmud  Syaltut  di  atas  terkait dengan nilai-nilai demokrasi?

 

Cermati masalah-masalah sosial berikut kemudian tanggapi dengan kritis dari sudut pandang ajaran Islam dan demokrasi!

 

1.   Sering terjadi orangtua dengan profesi tertentu (misal: dokter), mengader anak-anak  mereka  agar  menjadi  seperti  diri  mereka,  tanpa  peduli  apakah anak-anak mereka berminat atau tidak.

 

Bagaimana pandanganmu dalam masalah ini?

 

2.   Seorang pejabat di suatu perusahaan melarang karyawannya yang muslim menjalankan salat Jumat dan menutup aurat (bagi yang wanita).

 

Bagaimana pendapatmu?


 

3.   Seorang  dai  muslim  meyakinkan  jamaahnya  bahwa  tata  cara  salat  yang diajarkannya itulah yang benar, jika ada dai lain mengatakan hal yang berbeda, berarti dai tersebut tidak paham ajaran agama.

Bagaimana pendapatmu?

 

 

 

 

Memperkaya Khazanah

 

 

 

A.  Demokrasi dalam Islam

 

Di dalam al-Qur'an terdapat ayat-ayat yang berisi pesan-pesan mulia tentang bersikap demokratis, tentang musyawarah dan toleransi dalam perbedaan. Sebelum dijelaskan isi kandungannya, sebaiknya dibaca terlebih dahulu Q.S.

ali-Imran/3:159 di bawah ini dengan tartil, kemudian dihafal!

 

1.   Baca dengan Tartil Ayat-ayat al-Qur'an dan Terjemahnya yang Mengandung

Pesan Sikap Demokratis.

 

فَبِمَا رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الأمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ

 

 

Artinya:

Maka  disebabkan  rahmat  dari  Allah-lah  kamu  berlaku  lemah  lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.

 

2.   Penerapan Tajwid:

 

isilah dengan lafadz yang sesaui dengan jenis bacaan yang tertera pada kolom

 


 

 

Kalimat

 

Hukum Bacaan

 

Alasan

 

 

 

Mad °abi³

 

Fathah diikuti Alif

 

 

 

 

 

Idgam Bigunnah

 

Tanwin diikuti huruf Mim

 

 

 

 

Ikhfa

 

Nun sukun diikuti huruf Ta

 

 

 

 

I§har

 

Tanwin diikuti huruf Ghain

 

 

 

Ikhfa

 

Nun sukun diikuti huruf Fa

 

 

 

 

I§har

 

Nun sukun diikuti huruf Ha

 

 

 

 

I§har Syafaw³

Mim sukun diikuti huruf

Wawu

 

 

I§har Qamar³yah

 

Alif Lam sukun diikuti huruf

Hamzah

 

 

 

 

Lam Tafkh³m

Lafaz Jalalah datang setelah fathah

 

 

 

 

Mad ²ri« Lissukµn

Mad Thabi’I diikuti huruf hidup lalu dibaca waqaf

 

  

 

isilah dengan lafadz yang sesuai dengan arti yng ada pada kolom


 

 

Kata

 

Arti

 

Kata

 

Arti

 

 

 

Karena kasih sayang/ rahmat

 

 

 

Dan mintakanlah ampunan

 

 

 

 

Dari Allah

 

 

 

Untuk mereka

 

 

 

 

 

Kamu bersikap lemah lembut

 

Dan bermusyawarahlah dengan mereka

 

 

 

 

Kepada mereka

 

 

 

Dalam segala urusan

 

 

Kasar (dalam perkataan)

 

 

 

 

Maka apabila

 

 

 

 

Keras hati

 

 

 

 

 

Kamu bertekad bulat

 

 

Niscaya mereka bubar/menjauh

 

 

Bertawakkallah

 

 

 

Dari hadapanmu/

sekelilingmu

 

 

 

Mencintai

 

Maka maafkanlah mereka

 

 

 

Orang-orang yang bertawakal

 

 

 

 

Aktivitas Siswa:

 

Hafalkan Q.S. Ali-Imran/3:159 beserta artinya dan perbendaharaan kosa kata baru, setelah hafal perlihatkan pada kelompokmu agar dikoreksi kesalahan bacaan dan hafalannya!


 

4.   Asbabun Nuzul

 

Sebab-sebab  turunnya  ayat  159  surat Ali-Imran  ini  kepada  Nabi  Muhammad saw.   sebagaimana   diriwayatkan   oleh Ibnu Abas r.a., Ibnu Abas r.a. menjelaskan bahwasanya setelah terjadi perang Badar Rasulullah   mengadakan   musyawarah dengan  Abu  Bakar  r.a.  dan  Umar  bin Khatab  r.a.  untuk  meminta  pendapat mereka  tentang  para  tawanan  perang Badar.   Abu   Bakar   r.a.   berpendapat, mereka       sebaiknya        dikembalikan kepada  keluarga  mereka  dan  keluarga mereka   membayar   tebusan.   Namun Umar   bin   Khatab   r.a.   berpendapat, mereka  sebaiknya  dibunuh  dan  yang diperintah membunuh adalah keluarga mereka. Rasulullah saw. kesulitan dalam memutuskan, kemudian turun ayat 159 surat  Ali-Imran  ini  sebagai  dukungan atas pendapat Abu Bakar r.a. (HR.Kalabi).

(Depag,2011:Al-Quran Tafsir Perkata, hal.72)

 

5.   Penjelasan/Tafsir

 

 

 

 

Ayat di atas menjelaskan bahwa meskipun dalam keadaan genting, seperti terjadinya  pelanggaran  yang  dilakukan  oleh  sebagian  kaum  muslimin dalam perang Uhud sehingga menyebabkan kaum muslimin menderita kekalahan, tetapi Rasulullah saw. tetap lemah lembut dan tidak marah terhadap para pelanggar, bahkan memaafkan dan memohonkan ampun untuk mereka. Seandainya Rasulullah bersikap keras, tentu mereka akan menaruh benci kepada beliau. Dalam pergaulan sehari-hari, beliau juga senantiasa  memberi  maaf  terhadap  orang  yang  berbuat  salah  serta memohonkan ampun kepada Allah Swt. terhadap kesalahan-kesalahan mereka.

Di samping itu, Rasulullah saw juga senantiasa bermusyawarah dengan para sahabatnya tentang hal-hal yang penting, terutama dalam masalah peperangan. Oleh karena itu, kaum muslimin patuh terhadap keputusan- yang diperoleh tersebut, karena merupakan keputusan mereka bersama Rasulullah saw. Mereka tetap berjuang dengan tekad yang bulat di jalan Allah Swt.. Keluhuran budi Rasulullah saw inilah yang menarik simpati orang lain, tidak hanya kawan bahkan lawan pun menjadi tertarik sehingga mau masuk Islam.

Dalam  ayat  di  atas  tertera  tiga  sifat  dan  sikap  yang  secara  berurutan disebut dan diperintahkan untuk dilaksanakan sebelum bermusyawarah, yaitu lemah lembut, tidak kasar, dan tidak berhati keras. Meskipun ayat

 

tersebut berbicara dalam konteks perang uhud, tetapi esensi sifat-sifat tersebut harus dimiliki dan diterapkan oleh setiap muslim, terutama ketika hendak bermusyawarah.

Sedangkan  sikap  yang  harus  diambil  setelah  bermusyawarah  adalah memberi  maaf  kepada  semua  peserta  musyawarah,  apapun  bentuk kesalahannya. Jika semua peserta musyawarah bersikapmemaafkanmaka yang terjadi adalah saling memaafkan. Dengan demikian, diharapkan tidak ada lagi sakit hati atau dendam yang berkelanjutan di luar musyawarah, baik karena pendapatnya tidak diakomodasi atau karena sebab lain.

Dalam  al-Qur'an  terdapat  banyak  ayat  yang  berbicara  tentang  nilai- nilai dalam demokrasi seperti dalam Firman Allah Swt. di dalam Q.S. al- Isra'/17:70,  Q.S.  al-Baqarah/2:30,  Q.S.  alHujir³t/49:13,  Q.S.  asy-Syµra/42:38 serta  berbagai  surat  lain.  Inti  dari  semua  ayat  tersebut  membicarakan bagaimana menghargai perbedaan, kebebasan berkehendak, mengatur musyawarah  dan  lain  sebagainya  yang  merupakan  unsur-unsur  dalam demokrasi.

Di  samping  ayat-ayat  tersebut,  banyak  juga  hadis  Rasulullah  yang mengisyaratkan  pentingnya  demokrasi,  karena  beliau  dikenal  sebagai pemimpin  yang  paling  demokratis.  Di  antaranya  adalah  hadis  yang menegaskan bahwa beliau adalah orang yang paling suka bermusyawarah dalam banyak hal, seperti hadits berikut:

 


 

Artrinya:

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Aku tak pernah melihat seseorang yang lebih sering bermusyawarah dengan para sahabat dari pada Rasulullah saw. . [HR.

at-Tirm³z³].

 

Hadis  di  atas  menjelaskan  bahwa  menurut  pandangan  para  sahabat, Rasulullah saw adalah orang yang paling suka bermusyawarah. Dalam banyak urusan yang penting beliau senantiasa melibatkan para sahabat untuk dimintai pendapatnya, seperti dalam urusan strategi perang. Sikap Rasulullah tersebut menunjukkan salah satu bentuk kebesaran jiwa beliau dan  kerendahan  hatinya  (tawadhu’),  meskipun  memiliki  status  sosial paling tinggi dibanding seluruh umat manusia, yaitu sebagai utusan Allah Swt.. Namun demikian, kedudukannya yang begitu mulia di sisi Allah Swt. itu sama sekali tidak membuatnya merasa paling benar dalam urusan kemanusiaan yang terkait dengan masalah ijtihadiy (dapat dipikirkan dan dimusyawarahkan  karena  bukan  wahyu),  padahal  bisa  saja  Rasulullah memaksakan pendapat beliau kepada para sahabat, dan sahabat tentu akan menurut saja. Tetapi itulah Rasulullah, manusia agung yang tawadhudan bijaksana.


 

Sikap rendah hati Rasulullah hanya satu dari akhlak mulia lainnya, seperti kesabaran dan lapang dada untuk memberi maaf kepada semua orang yang bersalah, baik diminta atau pun tidak.   Itulah Rasulullah, teladan terbaik dalam berakhlak.

Dari  ayat  al-Qur'an  dan  hadis  Nabi  tersebut  dapat  dipahami  bahwa musyawarah termasuk salah satu kebiasaan orang yang beriman. Hal ini perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari seorang muslim terutama dalam hal-hal yang memang perlu dimusyawarahkan, misalnya: Hal yang sangat penting, sesuatu yang ada hubungannya dengan orang banyak/ masyarakat,  pengambilan  keputusan  dan  lain-lain.  Dalam  kehidupan bermasyarakat, musyawarah menjadi sangat penting  karena:

 

a.   Permasalahan  yang  sulit  menjadi  mudah  setelah  dipecahkan  oleh orang banyak lebih-lebih kalau yang  membahas orang yang ahli.

b.   Akan terjadi kesepahaman dalam bertindak.

c.   Menghindari  prasangka  yang  negatif,  terutama  masalah  yang  ada hubungannya dengan orang banyak

d.   Melatih diri menerima saran dan kritik dari orang lain e.   Berlatih menghargai pendapat orang lain.

 

 

Aktivitas Siswa:

 

1.  Dari kandungan ayat dan hadis tersebut, lakukanlah analisis sikap-sikap demokratis sebagai implementasi dari pemahaman Q.S.²li-Imran/3:159 dan H.R. at-Tirm³dz³!

 

2.  Temukan ayat dan hadis yang mengandung pesan-pesan dan nilai-nilai demokrasi!

 

3.  Presentasikan hasil analisis dan temuanmu di depan kelas!

 

 

 

B.   Demokrasi dan Syµra

 

Selama ini demokrasi diidentikkan dengan syura dalam Islam karena adanya titik persamaan di antara keduanya.  Untuk melihat lebih jelas titik persamaan tersebut, perlu kita lihat jati diri masing-masing dari keduanya.

 

1.   Demokrasi

 

Secara kebahasaan, demokrasi terdiri atas dua rangkaian kata yaitu demosyang berarti rakyat dan cratos yang berarti kekuasaan. Secara istilah, kata demokrasi ini dapat ditinjau dari dua segi makna.

Pertama, demokrasi dipahami sebagai suatu konsep yang berkembang dalam kehidupan politik pemerintah, yang di dalamnya terdapat penolakan terhadap  adanya  kekuasaan  yang  terkonsentrasi  pada  satu  orang  dan


 

menghendaki  peletakan  kekuasaan  di tangan orang banyak (rakyat) baik secara langsung maupun dalam perwakilan.

Kedua,   demokrasi   dimaknai   sebagai suatu  konsep  yang  menghargai  hak- hak  dan  kemampuan  individu  dalam kehidupan bermasyarakat.

Dari definisi ini dapat dipahami bahwa istilah demokrasi awalnya berkembang dalam dimensi politik yang tidak dapat dihindari.

Secara     historis,      istilah      demokrasi memang berasal dari Barat. Namun jika melihat   dari   sisi   makna,   kandungan nilai-nilai   yang   ingin   diperjuangkan oleh  demokrasi  itu  sendiri  sebenarnya merupakan               gejala        dan         cita-cita kemanusiaan  secara  universal  (umum, tanpa batas agama maupun etnis).

 

Piagam Madinah = Konstitusi Modern

 

Jimly Asshiddiqie, (mantan Ketua MK), mengatakan kepada wartawan pada tanggal 30 November 2007 di Jakarta, Piagam Madinah merupakan kontrak sosial

tertulis pertama di dunia yang dapat disamakan dengan konstitusi modern sebagai hasil dari praktik nilai-nilai demokrasi. Dan hal itu telah ada pada abad ke-6 saat Eropa masih berada dalam abad

kegelapan.Sumber: Harian Kompas


 

2.   Syura

 

Menurut bahasa, dalam kamus Mujam Maqayis al-Lugah, syµra memiliki dua  pengertian,  yaitu  menampakkan  dan  memaparkan  sesuatu  atau mengambil sesuatu.

Sedangkan menurut istilah, beberapa ulama terdahulu telah memberikan definisi syµra, di antara mereka adalah:

 

a.   Ar  Raghib  al-Ashfahani  dalam  kitabnya  Al  Mufradat  fi  Gharib  al- Qur'an,        mendefinisikan  syura  sebagai  proses  mengemukakan pendapat dengan saling mengoreksi antara peserta syµra”.

b.   Ibnu  al-Arabi  al-Maliki  dalam  Ahkam al-Qur'an  ,  mendefinisikannya dengan   berkumpul                                    untuk    meminta     pendapat     (dalam    suatu permasalahan) yang peserta syµranya saling mengeluarkan pendapat yang dimiliki.

c.   Sedangkan definisi syµra yang diberikan oleh pakar fikih kontemporer dalam asy Syµra fi ¨illi Ni§ami al-Hukm al-Islam³, di antaranya adalah proses  menelusuri  pendapat  para  ahli  dalam  suatu  permasalahan untuk mencapai solusi yang mendekati kebenaran.

 

3.   Titik Temu (Persamaan) antara Demokrasi dan Syµra

 

Dari  beberapa  definisi  Syµra  dan  demokrasi  di  atas,  dapat  melihat bahwa  Syµra  hanya  merupakan                                                        mekanisme  kebebasan  berekspresi dan penyaluran   pendapat dengan penuh keterbukaan dan   kejujuran. Hal  tersebut  menjadi  pertanda  adanya  penghargaan  terhadap  pihak


 

lain.  Sementara demokrasi, menjangkau ruang lingkup yang lebih luas. Demokrasi menyoal nilai-nilai egaliter, penghormatan terhadap potensi individu, penolakan terhadap kekuasaan tiran, dan memberi kesempatan kepada semua pihak untuk berpartisipasi dalam mengurus pemerintahan. Secara tegas demokrasi bermain pada wilayah politik. Jika demikian halnya, maka pada satu sisi, Syµra merupakan bagian dari proses berdemokrasi.

Di dalamnya terkandung nilai-nilai yang diusung demokrasi. Pada sisi lain, nilai-nilai  luhur  yang  diusung  oleh  konsep  demokrasi  adalah  nilai-nilai yang sejalan dengan visi Islam itu sendiri. Nilai Islami bukanlah sesuatu yang berasal dari kaum muslimin saja (dari dalam), tetapi semua nilai yang mengandung kebaikan dan kemaslahatan, baik dari Barat maupun Timur, karena Islam tidak mengenal Barat dan Timur (diskriminasi), justru sikap Islam terhadap hal-hal baru yang baik adalah akomodatif.

Namun demikian, pro dan kontra tentang demokrasi dalam Islam masih terus berlanjut. Oleh karena itu, untuk mempertajam analisis kalian dalam menyikapi konsep demokrasi, ada baiknya kalian mengenali lebih lanjut pandangan-pandangan para ulama tentang hal tersebut.

 

 

C.  Pandangan Ulama (Intelektual Muslim) tentang Demokrasi

 

Secara  garis  besar,  pandangan  para  ulama/cendekiawan  muslim  tentang demokrasi terbagi menjadi dua pandangan utama, yaitu; pertama, menolak sepenuhnya, kedua, menerima dengan syarat tertentu. Berikut ditamplkan ulama yang mewakili kedua pendapat tersebut:

 

1.   Abul A’la Al-Maududi

 

Al-Maududi  secara  tegas  menolak  demokrasi.  Menurutnya,  Islam  tidak mengenal paham demokrasi yang memberikan kekuasaan besar kepada rakyat untuk menetapkan segala hal. Demokrasi adalah buatan manusia sekaligus  produk  dari  pertentangan  Barat  terhadap  agama  sehingga cenderung   sekuler.   Karenanya,   al-Maududi   menganggap   demokrasi modern (Barat) merupakan sesuatu yang bersifat syirik. Menurutnya, Islam menganut paham teokrasi (berdasarkan hukum Tuhan).

 

2.   Mohammad Iqbal

 

Menurut  Iqbal,  sejalan  dengan  kemenangan  sekularisme  atas  agama, demokrasi  modern  menjadi  kehilangan  sisi  spiritualnya  sehingga  jauh dari etika. Demokrasi yang merupakan kekuasaan dari rakyat, oleh rakyat, dan  untuk  rakyat  telah  mengabaikan  keberadaan  agama.  Parlemen sebagai salah satu pilar demokrasi dapat saja menetapkan hukum yang bertentangan  dengan  nilai  agama  kalau  anggotanya  menghendaki. Karenanya, menurut Iqbal Islam tidak dapat menerima model demokrasi Barat yang telah kehilangan basis moral dan spiritual. Atas dasar itu, Iqbal menawarkan sebuah konsep demokrasi spiritual yang dilandasi oleh etik dan moral ketuhanan. Jadi yang ditolak oleh Iqbal bukan demokrasi an sich, seperti yang dipraktekkan di Barat.


 

Lalu, Iqbal menawarkan sebuah model demokrasi sebagai berikut:

a)   Tauhid sebagai landasan asasi. b)   Kepatuhan pada hukum.

c)   Toleransi sesama warga.

d)   Tidak dibatasi wilayah, ras, dan warna kulit. e)   Penafsiran hukum Tuhan melalui ijtihad.

3.   Muhammad Imarah

Menurut Imarah, Islam tidak menerima demokrasi secara mutlak dan juga tidak menolaknya secara mutlak. Dalam demokrasi, kekuasaan legislatif (membuat dan menetapkan hukum) secara mutlak berada

di tangan rakyat. Sementara, dalam sistem syura (Islam) kekuasaan tersebut merupakan wewenang Allah Swt.. Dialah pemegang kekuasaan hukum  tertinggi.  Wewenang  manusia  hanyalah  menjabarkan  dan merumuskan  hukum  sesuai  dengan  prinsip  yang  digariskan Tuhan serta berijtihad untuk sesuatu yang tidak diatur oleh ketentuan Allah Swt.. Jadi, Allah Swt. berposisi sebagai al-Syâri (legislator) sementara manusia berposisi sebagai faqîh (yang memahami dan menjabarkan hukum-Nya).

Demokrasi Barat berpulang pada pandangan mereka tentang batas kewenangan Tuhan. Menurut Aristoteles, setelah Tuhan menciptakan alam,  Dia  membiarkannya.  Dalam  filsafat  Barat,  manusia  memiliki kewenangan  legislatif  dan  eksekutif.  Sementara,  dalam  pandangan Islam, Allah Swt. pemegang otoritas tersebut. Allah berfirman: “Ingatlah, menciptakan  dan  memerintah  hanyalah  hak  Allah.  Maha  Suci  Allah, Tuhan semesta alam. (Q.S.al-Arâf/7:54). Inilah batas yang membedakan antara sistem syariah Islam dan demokrasi Barat. Adapun hal lainnya seperti  membangun  hukum  atas  persetujuan  umat,  pandangan mayoritas, serta orientasi pandangan umum, dan sebagainya adalah sejalan dengan Islam.

 

4.   Yusuf al-Qardhawi

Menurut Al-Qardhawi, substasi demokrasi sejalan dengan Islam. Hal ini bisa dilihat dari beberapa hal, misalnya sebagaimana berikut:

a)   Dalam  demokrasi  proses  pemilihan  melibatkan  banyak  orang untuk mengangkat seorang kandidat yang berhak memimpin dan mengurus keadaan mereka. Tentu saja, mereka tidak boleh akan memilih sesuatu yang tidak mereka sukai. Demikian juga dengan Islam. Islam menolak seseorang menjadi imam salat yang tidak disukai oleh ma'mum di belakangnya.

b)   Usaha setiap rakyat untuk meluruskan penguasa yang tiran juga sejalan dengan Islam. Bahkan amar ma'ruf dan nahi mungkar serta memberikan nasihat kepada pemimpin adalah bagian dari ajaran Islam.


 

c)   Pemilihan  umum  termasuk  jenis  pemberian  saksi.  Karena  itu, barangsiapa  yang  tidak  menggunakan  hak  pilihnya  sehingga kandidat  yang  mestinya  layak  dipilih  menjadi  kalah  dan  suara mayoritas  jatuh  kepada  kandidat  yang  sebenarnya  tidak  layak, berarti ia telah menyalahi perintah Allah Swt. untuk memberikan kesaksian pada saat dibutuhkan.

d)   Penetapan hukum yang berdasarkan suara mayoritas juga tidak bertentangan dengan prinsip Islam. Contohnya dalam sikap Umar yang  tergabung  dalam  syura.  Mereka  ditunjuk  Umar  sebagai kandidat khalifah dan sekaligus memilih salah seorang di antara mereka  untuk  menjadi  khalifah  berdasarkan  suara  terbanyak. Sementara, lainnya yang tidak terpilih harus tunduk dan patuh. Jika  suara  yang  keluar  tiga  lawan  tiga,  mereka  harus  memilih seseorang yang diunggulkan dari luar mereka, yaitu Abdullah ibnu Umar. Contoh lain adalah penggunaan pendapat jumhur ulama dalam masalah khilafiyah. Tentu saja, suara mayoritas yang diambil ini adalah selama tidak bertentangan dengan nash syariat secara tegas.

e)   Kebebasan  pers  dan  kebebasan  mengeluarkan  pendapat,  serta otoritas  pengadilan  merupakan  sejumlah  hal  dalam  demokrasi yang sejalan dengan Islam.

 

5.   Salim Ali al-Bahasnawi

Menurut  Salim  Ali  al-Bahasnawi,  demokrasi  mengandung  sisi  yang baik yang tidak bertentangan dengan Islam dan memuat sisi negatif yang bertentangan dengan Islam. Sisi baik demokrasi adalah adanya kedaulatan rakyat selama tidak bertentangan dengan Islam. Sementara, sisi buruknya adalah penggunaan hak legislatif secara bebas yang bisa mengarah pada sikap menghalalkan yang haram dan menghalalkan yang haram.

Karena  itu,  ia  menawarkan  adanya  Islamisasi  demokrasi  sebagai berikut:

 

a)   Menetapkan  tanggung  jawab  setiap  individu  di  hadapan  Allah

Swt..

b)   Wakil rakyat harus berakhlak Islam dalam musyawarah dan tugas- tugas lainnya

c)   Mayoritas bukan ukuran mutlak dalam kasus yang hukumnya tidak ditemukan  dalam  al-qur'an  dan  Sunnah  (Q.S.an-Nisa/4:59)  dan (Q.S.al-Ahzab/33:36).

d)   Komitmen  terhadap  Islam  terkait  dengan  persyaratan  jabatan sehingga hanya yang bermoral yang duduk di parlemen.


 

 

 

Pemimpin Paling Demokratis di Mata Dunia

 

Sebagai seorang pemimpin, Nabi Muhammad saw. telah membuat banyak sarjana dan tokoh Barat sangat kagum dan terpengaruh, meskipun mereka tidak suka. Di antara mereka adalah:

1.    Comte    de    Boulainvilliers:Muhammad      adalah     pemikir     bebas

(freethinker) dan pencipta agama rasional.

 

2.    Voltaire:Muhammad  adalah  pemimpin  yang  memimpin  rakyatnya melakukan penaklukan agung.

 

3.    Radinson:  Muhammad  adalah  pengajar  agama  alami,  wajar,  dan masuk akal.

 

4.    Thomas Carlyle: Muhammad adalah pahlawan   kemanusiaan yang menyinarkan cahaya Illahi.

 

5.    Hubert Grimme: Muhammad adalah sosialis yang sukses melakukan reformasi fisikal dan sosial.

 

6.    Goethe     (sastrawan     besar    Jerman):    bagaikan     sungai    besar mengantarkan airnya mencapai lautan.

 

7.    George Bernard Shaw (pengarang Inggris terkenal): Muhammad telah mengangkat wanita menjadi makhluk yang mulia.

 

8.    Edward Gibbon: “Hal yang baik dari Muhammad ialah membuang jauh kecongkakan seorang raja.

 

Sumber: www.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=349

 

 

 

 

kegiatan siswa Siswa:

 

1.  Dari  beberapa  pandangan  ulama  tentang  demokrasi,  pilihlah  satu pandangan yang kamu sukai!  Jelaskan alasanmu!

 

2.  Hargai   pilihan   temanmu   yang   berbeda   dengan   mendengarkan alasannya!

 

3.  Simpulkan   nilai-nilai demokratis yang terdapat dalam kepemimpinan

Nabi Muhammad saw.  berdasarkan  sorotan para tokoh Barat di atas!

 

4.  Presentasikan hasil temuan kalian di depan kelas untuk ditanggapi!


 

APLIKASI PRILAKU MILIA

 

Perilaku demokratis yang harus dibiasakan sebagai implementasi dari ayat dan

hadis yang telah dibahas antara lain sebagai berikut:

 

1.   Bersikap lemah lembut jika hendak menyampaikan pendapat (tidak berkata kasar ataupun  bersikap keras kepala);

 

2.   Menghargai pendapat orang lain;

 

3.   Berlapang dada untuk saling memaafkan;

 

4.   Memohonkan ampun untuk saudara-saudara yang bersalah;

 

5.   Menerima keputusan bersama (hasil musyawarah) dengan ikhlas;

 

6.   Melaksanakan keputusan-keputusan musyawarah dengan tawakal;

 

7.   Senantiasa bermusyarawarah tentang hal-hal yang menyangkut kemaslahatan bersama;

 

8.   Menolak segala bentuk diskriminasi atas nama apapun;

 

9.   Berperan  aktif  dalam  bidang  politik  sebagai  bentuk  partisipasi  dalam membangun bangsa;