Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Modul Kelas X Litosfer

BAB V

LITOSFER DAN DAMPAKNYA BAGI KEHIDUPAN

 

KOMPETENSI DASAR

3.5     Menganalisis dinamika litosfer dan dampaknya terhadap kehidupan

4. 5    Menyajikan proses dinamika litosfer menggunakan peta, gambar, video, tabel, grafik, atau bagan

 

A.         PENGERTIAN LITOSFER

Secara keseluruhan, tubuh bumi terdiri dari tiga bagian utama, yaitu litosfer, mantel dan inti (barisfer). Litosfer ini berasal dari kata litos artinya batu, sfer = sphaira artinya  bulatan/lapisan. Litosfer merupakan lapisan batuan/kulit bumi yang mengikuti bentuk bumi  yang  bulat  dengan ketebalan kurang lebih 1.200 km. Tebal kulit bumi tidak merata, kulit bumi di bagian benua atau daratan lebih tebal dari bagian samudra. Untuk memahami lapisan-lapisan bumi, amati gambar berikut!




Gambar 1. Lapisan-lapisan Bumi

Sumber: https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/lithosphere/

 

Menurut ahli geologi, Suees dan Wiechert struktur lapisan bumi struktur bumi dibagi sebagai berikut:

1)   Kerak bumi (Earth’s crust : The Upper Sell), merupakan lapisan bumi yang paling atas, mempunyai tebal 30 km sampai 40 km pada daratan, dan pada pegunungan ketebalannya bisa mencapai 70 km. litosfer merupakan lapisan yang paling atas dari tubuh bumi, lapisan ini secara umum terbagi menjadi dua, yaitu;

a)    Lapisan sial (silisium alumunium) yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3.

b)   Lapisan sima(silisium magnesium) yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun oleh logam logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO, mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesiumyaitu mineral ferro magnesium dan batuan basalt.

2)   Selubung bumi atau mantel, ketebalannya sampai kedalaman 1.200 km dari permukaan bumi. Berat jenis lapisan ini antara 3,4 sampai 4. Unsur-unsur yang dominan pada selubung bumi adalah oksigen, silisium dan magnesium sehingga dinamakan sima.

3)   Lapisan antara (intermediate shell) atau mantel bumi atau chalkosfera yang merupakan sisi oksida dan sulfida dengan ketebalan 1.700 km dan berat jenis 6,4. Lapisan ini terbagi 2 yaitu lapisan yang terletak pada kedalaman antara 1.200 km sampai 1.250 km dinamakan Crofesima, berat jenis antara 4 sampai 5 terdiri dari unsur-unsur dominan oksigen, ferrum, silisium, magnesium, dan sedikit chromium. Lapisan antara kedalaman 1.250 km sampai 2.900 km dinamakan Nifesima, berat jenis antara 5 sampai 6, unsur yang penting (dominan) adalah Nikel.

4)   Inti Bumi (The earth’s core) atau Barysfera. Lapisan ini diperkirakan mencapai kedalaman 5.500 km, banyak mengandung besi dan nikel sehingga disebut Nife, berat jenisnya antara 6 sampai 12 dengan rata-rata 9,6. Ketebalan inti bumi mempunyai jari-jari kurang lebih 3.500 km.

 

B.    Batuan

Beberapa batuan tersusun dari sejenis mineral saja, beberapa yang lain dibentuk oleh gabungan berbagai mineral. Hal tersebut dipengaruhi adanya pembentukan tiap batuan yang berbeda-beda. Lihat gambar berikut.

 





Gambar 2. Siklus Batuan

Sumber: https://www.gurugeografi.id/2019/01/kunci-jawaban-unbk-geografi-2018- nomor.html

 

Keterangan:

1 = Magma batuan cair pijar didalam lithosfer, bentuk mula–mula siklus batuan

2 = Batuan Beku.

a = Karena pendinginan magma menjadi makin padat membeku.

3 = Batuan sedimen Klastis.

b=Batuan beku rusak hancur karena tenaga eksogen: air hujan,panas/dingin, es, angin, dll, diangkut diendapkan menjadi batuan sedimen klastis.

4.a= Batuan sedimen chemis.

c.1 = Batuan larut dalam air dan langsung diendapkan menjadi batuan sedimen chemis.

4.b= Batuan sedimen organis.

c.2 = Batuan larut dalam air diambil oleh organisme dan melaluiorganisme membentuk batuan endapan organisme.

5 = Batuan metamorf.

d = Karena tekanan dan suhu batuan beku dan batuan sedimen mengalami perubahan bentuk menjadi batuan malihan (metamorf )

 

Batuan kulit bumi dapat dibagi menjadi tiga golongan, yaitu: batuan beku (igneous rocks), batuan sedimen (sedimentary rocks), dan batuan metamorfosa/malihan (metamorphic rocks). Batuan tersebut berbeda-beda materi penyusun dan proses terbentuknya.

1)        Batuan Beku (igneus rocks)

Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma pijar yang membeku menjadi padat. Contoh batuan beku berdasarkan tempat terbentuknya magma, batuan beku dibagi atas 3 macam :

 

a)    Batuan Beku Dalam (Plutonik)

Terjadi ketika magma di bagian dalam kerak bumi, dengan penurunan suhu secara perlahan. Penurunan suhu secara perlahan tersebut menyebabkan proses kristalisasi terjadi dengan sempurna. Batuan ini mempunyai struktur holokristalin, artinya batuan tersebut seluruhnya terdiri dari kristal-kristal. Pembentukan kristal membutuhkan waktu yang lama dan kondisi tertentu. Batuan beku plutonik berstruktur fanerik, artinya mineral-mineral penyusunnya dapat dilihat mata secara langsung tanpa menggunakan alat. Contoh batuannya batu granit, diorite,gabro, peridotit.

b)   Batuan Beku korok/gang/celah (Hypabisal)

Batuan ini terbentuk dalam celah-celah atau rekanan-rekanan kerak bumi. Batuan beku korok/gang memilik struktur beragam tergantung dari penurunan suhunya. Batuan yang dekat dengan dapur magma mempunyai struktur holokristalin, sedangkan yang lebih dekat dengan permukaan bumi mempunyai struktur porfir, yang memperlihatkan adanya butiran (kristal) yang tidak seragam (inequigranular) terdiri atas butiran yang besar (fenokris) dan masa dasar (groundmass) atau matriks (matrix) yang lebih halus. Contoh batuannya adalah Ryolit porfir, Andesit porfir dan Basalt porfir.

c)    Batuan Beku Luar/lelehan (Vulkanik)

Batuan ini terbentuk dari pembekuan magma di permukaan bumi dengan proses yang cepat. Proses ini menyebabkan sebagian besar mineralnya tidak memiliki waktu untuk membentuk kristal dan bersifat amorf. Batuan yang memiliki sifat amorf, susunan atom atau partikelnya tersusun secara acak dan tidak teratur, seperti susunan atom kaca, karet dan plastik. Contoh batuan beku luar adalah: batu apung (pumice), scoria, piroklastik, obsidian, ryolit, andesit dan basalt.

2)        Batuan sedimen (Sedimentary rock )

Batuan sedimen ialah batuan yang terbentuk dari endapan hasil dari proses pelarutan atau pengikisan batuan yang sudah ada sebelumnya, baik berasal dari batuan beku, batuan metamorf, atau batuan sedimen. Ciri  utama  batuan  sedimen adalah berlapis-lapis.

1.    Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dapat dikelompokkan menjadi, sebagai berikut:

a)    Batuan sedimen klastik

Batuan asal mengalami penghancuran secara mekanik dari ukuiran besar menjadi ukuran kecil, dan mengalami transportasi kemudian mengendap membentuk batuan sedimen klastik. Contoh : batupasir, konglomerat dan breksi.

 

b)   Batuan sedimen kimiawi

Batuan sedimen pada pengendapannya terjadi pengendapan proses kimiawi, seperti penguapan, pelarutan, dan dehidrasi. Contoh : Batu gamping (limestone, dolostone, rijang (chert) batuan evaporit

c)    Batuan sedimen organik

Batuan sedimen organik terjadi karena selama proses pengendapannya mendapat bantuan dari organisme, yaitu sisa rumah atau bangkai binatang di dasar laut. Contoh : batuan fosfat, Coal (batu bara) dan koral.

 

2.    Berdasarkan media pembentuknya

Berdasarkan media pembentuknya, batuan sedimen dapat dibedakan sebagai berikut.

-       Sedimen akuatis dibentuk oleh air

-       Sedimen aeris/aeolis dibentuk oleh media udara

-       Sedimen glasial dibentuk oleh media es atau salju

-       Sedimen marine dibentuk oleh media air laut

 

3.    Berdasarkan tempat terbentuknya

Berdasarkan tempat terbentuknya batuan sedimen  dapat diklasifikasikan  sebagai berikut.

-       Sedimen teristris terbentuk di darat

-       Sedimen fluvial terbentuk di sungai

-       Sedimen limnis terbentuk di rawa/danau

-       Sedimen marin terbentuk di laut

-       Sedimen glasial terbentuk di daerah es atau salju

 

4.    Berdasarkan ukuran butiran

Berdasarkan  ukuran butirannya, batuan sedimen dapat diklasifikasikan  sebagai berikut.

Nama dan ukuran material bahan endapan adalah sebagai berikut.

Nama

Diameter

Bouler

>256 mm

Gravel

2 256 mm

Very coarse sand

1 – 2 mm

Coarse sand

0,5 1 mm

Mediumsand

0,25 0,5 mm

Fine sand

0,125 0, 25 mm

Very fine sand

0,0625 0,125 mm

Silt

0,002 – 0,0625 mm

Clay

0,0005 0,002 mm

Dissolved

<0,0005 mm

 

5.    Berdasarkan ketebalan lapisan

Berdasarkan ketebalannya, Mc Kee dan Weir mengklasifikasikannya  sebagai berikut.

Ketebalan/cm

Penamaan

>100

Sangat tebal

30 – 100

Tebal

10 30

Menengah

3 10

Tipis

1 3

Sangat tipis

0,3 1

Laminasi tebal

< 0,3

Laminasi tipis

 

3)        Batuan malihan (Metamorphic Rock)

Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk, dapat berupa batuan beku, batuan sedimen, ataupun metamorf yang mengalami proses metamorfosa. Dari beberapa penulis di dalam beberapa bukunya pembagian jenis metamorfosa ini berbeda satu sama lain. Secara garis besar pembagian metamorfosa tersebut dilihat dari ruang lingkup daerah terjadinya, Bucher dan Frey (1994) membagi menjadi 2 jenis, yaitu:

(1)     Metamorfosa lokal

Pengertian lokal disini berhubungan dengan luas daerah dimana proses metamorfosa tersebut terjadi. Luasnya hanya sampai beberapa meter persegi.

(2)     Metamorfosa regional / dinamothermal

Metamorfosa regional atau dinamothermal merupakan metamorfosa yang terjadi pada daerah yang sangat luas.

 

 

C.    TENAGA PEMBENTUK MUKA BUMI

 

Bentukan muka Bumi tidak terjadi dengan sendirinya, tetapi akibat dinamika litosfer yang mengubah permukaan Bumi. Terdapat suatu tenaga dari bumi yang bisa menyebabkan terbentuknya berbagai bentuk muka bumi tersebut, yakni tenaga geologi.

Secara umum tenaga geologi terbagi menjadi dua, yaitu tenaga endogen dan tenaga eksogen. Tenaga endogen adalah tenaga yang berasal dari dalam bumi. Sedangkan  tenaga eksogen adalah tenaga yang berasal dari luar permukaan bumi. tenaga endogen adalah tenaga awal yang membentuk relief permukaan bumi daratan dan lautan, dapat berupa tektonisme,vulkanisme, dan seisme (gempa bumi). Sedangkan Tenaga eksogen dapat dikatakan sebagai tenaga yang mengubah bentuk permukaan bumi yang sebelumnya telah dibentuk oleh tenaga endogen. Tenaga  eksogen  bekerja di atas permukaan bumi, berupa pelapukan, erosi, masswasting, dan sedimentasi.

a.     Tenaga Endogen

Proses endogen merupakan dinamika di dalam litosfer sebagai akibat proses fisika dan kimia, berupa tekanan terhadap lapisan- lapisan batuan pembentuk litosfer atau aktivitas magma. Tenaga endogen berupa tekanan yang arahnya vertikal dapat mengakibatkantonjolan di permukaan Bumi seperti kubah, sedangkan yang arahnya mendatar mengakibatkan lipatan-lipatan muka Bumi (jalur pegunungan lipatan), retakan bahkan pematahan lapisan-lapisan litosfer sehingga terbentuk sesar.

1.         1.         Tektonisme

Tektonisme adalah tenaga dari dalam bumi yang mengakibatkan perubahan letak (dislokasi) atau perubahan bentuk (deformasi) kulit bumi. Sebagaimanakita ketahui bahwa permukaan bumi terbentuk dari lapisan batuan yang disebut kulit bumi atau litosfer. Kulit bumi mempunyai ketebalan relatif sangat tipis, sehingga mudah pecah-pecah menjadi potongan-potongan kulit bumi yang tak beraturan yang disebut lempeng tektonik. Lempeng-lempeng tektonik ini terus bergerak, baik secara horizontal maupun vertikal karena pengaruh arus konveksi dari lapisan di bawahnya (astenosfer).

Berdasarkan luas dan waktu terjadinya, gerakan tektonisme dapat dibedakan menjadi dua, yaitu gerak Epirogenesa dan gerak Orogenesa.

a)   Gerak Epirogenesa.

Gerak Epirogenesa adalah gerak atau pergeseran lapisan kerak bumi yang relatif lambat dan berlangsung dalam waktu yang lama, serta meliputi daerah yang luas. Contoh: penenggelaman benua Gondwana menjadi Sesar Hindia. Gerak Epirogenesa dapat dibedakan menjadi dua yaitu sebagai berikut:

1)   Epirogenesa positif, yaitu gerak turunnya daratan sehingga terlihat permukaan air laut yang naik. Contoh: Turunnya pulau-pulau di Indonesia bagian timur (Kepulauan Maluku dari pulau-pulau barat daya sampai ke pulau Banda).

2)  Epirogenesa negatif, yaitu gerak naiknya daratan sehingga terlihat permukaan air yang turun. Contoh: naiknya Pulau Buton dan Pulau Timor.





Gambar 3. Epirogenesa Positif dan Epirogenesa Negatif

Sumber:https://thohamustofageografi.wordpress.com/2017/01/02/tektonisme- epirogenesa-dan-orogenesa/)



b)   Gerak Orogenesa,

Gerak Orogenesa ialah gerak atau pergeseran lapisan kerak bumi  yang  relatif cepat dan berlangsung dalam waktu yang singkat serta meliputi daerah yang sempit. Gerak Orogenesa sering disebut sebagai proses pembentukan pegunungan. Contoh: pembentukan Pegunungan Andes, Pegunungan Rocky, Sirkum Mediterania, dan sebagainya.

Gerak Orogenesa menyebabkan tekanan horizontal dan vertikal di kulit bumi, yang mengakibatkan terjadinya dislokasi atau berpindah-pindahnya letak lapisan kulit bumi. Peristiwa ini dapat menimbulkan lipatan (folded process) dan patahan (foult Process)

1)   Proses lipatan (Folded process)

Proses lipatan (Folded process) yaitu suatu bentuk kulit bumi berbentuk lipatan (gelombang) yang terjadi karena adanya tenaga endogen yang arahnya mendatar dari dua arah berlawanan, sehingga lapisan-lapisan batuan di sekitarnya terlipat dan membentuk puncak lipatan (antiklin) serta lembah lipatan (sinklin). Apabila terbentuk beberapa puncak lipatan disebut antiklinorium dan beberapa lembah lipatan  disebut sinklinorium.

 



Gambar 4.  Penampang Lipatan

Sumber: https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/BENTUK-BENTUK-MUKA-BUMI-2012/konten15.html

Lipatan terdiri atas berbagai bentuk, di antaranya sebagai berikut.

(a)      Lipatan Tegak, dihasilkan dari kekuatan yang sama yang mendorong dari dua sisi secara seimbang.

(b)      Lipatan Miring, ketika kekuatan tenaga pendorong di slah satu sisi lebih kuat, maka akan menghasilkan kenampakan yang salah satu sisinya lebih curam.

(c)      Overfoult, lipatan yang terbentuk pada saat tekanan bekerja pada salah satu sisi dengan lebih kuat, sisi tersebut akan terlipat sesuai arah lipatan.

(d)     Recumbent Folt, terbentuk pada saat lipatan yang satu menekan sisi yang lain, menyebabkan sumbu lipat hamper datar.

(e)      Overtrust, terbentuk ketika tenaga tekan menekan satu sisi dengan kuatnya hingga menyebabkan lipatan menjadi retak.

 

 Gambar 5. Model  Lipatan

Sumber: https://ilmugeografi.com/geologi/pengertian-lipatan

 

2)   Patahan (Fault Process)

Tenaga endogen yang bekerja di sini biasanya pada batuan yang padat dan keras dengan waktu relatif cepat sehingga lapisan batuan yang terkena tekanan tidak sempat melipat, melainkan retak-retak sampai akhirnya patah. Akibat pematahan massa batuan tersebut, terdapat bagian muka Bumi yang mengalami penurunan atau pemerosotan membentuk lembah patahan. Coba perhatikan gambar penampang di bawah ini!


Gambar 6. Penampang Sesar/Patahan

Sumber : https://www.siswapedia.com/macam-macam-gerak-tektonisme-dan-dampaknya/

 

Bagian yang mengalami pemerosotan ini dinamakan graben (slenk), sedangkan bagian yang naik membentuk punggung (puncak) patahan yang disebut horst.

(a)      Patahan akibat dua tekanan yang arahnya bersifat horizontal dan saling menjauh. Pada kasus ini, dua buah tekanan yang arahnya mendatar dan menjauh satu sama lain mengakibatkan adanya retakan yang cukup besar pada lapisan-lapisan batuan. Salah satu massa batuan yang telah retak itu mengalami pemerosotan membentuk lembah patahan atau graben.

(b)      Patahan akibat tekanan yang arahnya vertikal. Adakalanya tenaga endogen yang bekerja pada lapisan litosfer arahnya vertikal dalam waktu yang relatif cepat. Bagian yang mengalami tekanan akan membumbung disertai dengan retakan-retakan. Karena adanya gaya berat, salah satu dari massa batuan akan mengalami penurunan lokasi membentuk graben, sedangkan bagian lainnya membentuk horst.

(c)      Patahan akibat dua tekanan horizontal yang berlawanan arah.

Dalam pembahasan teori tektonik lempeng telah dipelajari bahwa jika terdapat tenaga endogen yang bekerja pada lapisan litosfer dengan arah mendatar dan saling berlawanan arah, akan terbentuk sesar mendatar (strike slip fault).



2.        
Vulkanisme

Vulkanisme merupakan semua peristiwa yang berhubungan dengan keluarnya magma ke permukaan bumi. Peristiwa vulkanisme berhubungan dengan pembentukan gunungapi, yaitu pergerakan magma dari dalam litosfera yang menyusup kelapisan yang lebih atas atau sampai ke permukaan bumi. Perbedaan letak dapur magma (Batholit) yang letaknya sangat dalam dan ada pula yang dekat menjadi penyebab perbedaan kekuatan letusan yang terjadi. Ada dua bentuk gerakan magma yang berhubungan dengan vulkanisme, yaitu intrusi dan ekstrusi magma.

 

a.     Intrusi Magma

Intrusi magma yaitu terobosan magma ke dalam lapisan-lapisan litosfera, tetapi tidak sampai ke permukaan bumi. Intrusi magma dapat dibedakan menjadi lima, antara lain:

(1)      Batholit, yaitu dapur magma.

(2)      Intrusi datar (sill atau lempeng intrusi), yaitu magma yang menyusup di antara dua lapisan batuan, mendatar dan pararel dengan lapisan batuan tersebut.

(3)      Lakolit, yaitu magma yang menerobos di antara lapisan bumi paling atas. Bentuknya seperti lensa cembung atau kue serabi.

(4)      Gang (korok), yaitu batuan hasil intrusi magma yang menyusup danmembeku di sela-sela lipatan (korok).

(5)      Diatrema adalah lubang (pipa) di antara dapur magma dan kepundan gunungapi yang bentuknya seperti silinder memanjang.

Gambar 8. Penampang bentukan intrusi magma

Sumber: https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-instrusi/

 

b.     Ekstrusi Magma

Ekstrusi magma, yaitu proses keluarnya magma dari dalam bumi sampai ke permukaan bumi. Materi hasil ekstrusi magma dapat berupa:

1)   Lava, yaitu magma yang keluar sampai ke permukaan bumi dan mengalir ke permukaan bumi.

2)   Lahar, yaitu material campuran antara lava dengan materi-materi yang ada di permukaan bumi berupa pasir, kerikil, debu, dan lain-lain dengan air sehingga membentuk lumpur.

3)   Eflata dan piroklastika yaitu material padat berupa bom, lapili, kerikil, dan debu vulkanik.

4)   Ekhalasi (gas) yaitu material berupa gas asam arang seperti fumarole (sumber uap air dan zat lemas), solfatar (sumber gas belereng), dan mofet (gas asam arang).

Ekstrusi identik dengan erupsi atau letusan gunung api yang dapat di bedakan menjadi dua, yaitu erupsi efusif dan erupsi eksplosif.

1)   Erupsi efusif, yaitu erupsi berupa lelehan lava melalui retakan atau rekahan atau lubang kawah suatu gunungapi.

2)   Erupsi eksplosif, yaitu erupsi berupa ledakan dengan mengeluarkan bahan-bahan padat (Eflata/Piroklastika) berupa bom, lapili, kerikil, dan debu vulkanik bersama-sama dengan gas dan fluida.

Menurut tempat keluarnya magma, erupsi dapat dibedakan menjadi tiga, yakni:

1)   Erupsi linear, yaitu peristiwa keluarnya magma melalui celah atau retakan yang memanjang, sehingga membentuk deretan gunung api.


Gambar 9. Erupsi Linier

Sumber: http://repositori.unsil.ac.id/786/6/13.%20BAB%202%20Fix.pdf

 

2)   Erupsi areal, yaitu letusan yang terjadi jika letak magma dekat dengan permukaan bumi, kemudian magma membakar dan melelehkan lapisanbatuan yang berada di atasnya sehingga membentuk lubang yang besardi permukaan bumi.




Gambar 10. Erupsi Areal

Sumber: https://thohamustofageografi.wordpress.com/2017/01/02/pengertian-dan-penjelasan-vulkanisme-atau-tenaga-vulkanik/

 

3)   Erupsi sentral, jika letusan yang terjadi keluar melalui sebuah lubang yang membentuk gunungapi yang terpisah-pisah.

 

Gambar 11. Erupsi Sentral

Sumber: https://www.temukanpengertian.com/2014/04/pengertian-erupsi-sentral.html)

Erupsi sentral menghasilkan tiga bentuk gunung api, yaitu sebagai berikut:

a)         Gunungapi perisai (Shield Volcanoes), yaitu sebuah gunung api yang beralas luas dan berlereng landai, merupakan hasil erupsi efusif magma yang cair. Contohnya, gunungapi yang tersebar di kepulauan Hawaii.


Gambar 12. Gunungapi perisai

Sumber: https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html

 

b)        Gunungapi maar, merupakan hasil erupsi eksplosif yang tidak terlalu kuat dan hanya sekali saja. Contohnya, Gunung Lamongan Jawa Timur dengan kawahnya Klakah.


Gambar 13. Gunung api maar

Sumber: https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html

 

c)         Gunung api strato atau kerucut, merupakan hasil campuran, efusif dan eksplosif. Gunung api ini berbentuk kerucut dan badannya berlapis-lapis. Sebagian besar gunung api di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara dan Maluku termasuk gunung api kerucut. Contoh Gunung Api Strato: Gunung Kerinci, Merapi, Ciremai, Semeru, Batur, Tangkuban Perahu, dan Gunung Fujiyama di Jepang


Gambar 14. Gunung api strato

Sumber: https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html

 

Berdasarkan kekentalan magma, tekanan gas, kedalaman dapur magma, dan material yang dikeluarkannya, letusan gunung api dibedakan menjadi beberapa tipe, yaitu:

a)    Letusan Tipe Hawaii

Tipe hawaii terjadi karena lava yang keluar dari kawah sangat cair, sehingga mudah mengalir ke segala arah. Sifat lava yang sangat cair ini menghasilkan bentuk seperti perisai atau tameng. Contoh: Gunung Maona Loa, Maona Kea, dan Kilauea di Hawaii.

b)   Letusan Tipe Stromboli

Letusan tipe ini bersifat spesifik, yaituletusan-letusannya terjadi dengan interval atau tenggang waktu yang hampir sama. Gunung api stromboli di Kepulauan Lipari tenggang waktu letusannya ± 12 menit. Jadi, setiap ±12 menit terjadi letusan yang memuntahkan material, bom, lapili, dan abu. Contoh gunung api bertipe stromboli adalah Gunung Vesuvius (Italia) dan Gunung Raung (Jawa).

c)    Letusan Tipe Vulkano

Letusan tipe ini mengeluarkan material padat ,seperti bom, abu, lapili, serta bahan-bahanpadat dan cair atau lava. Letusan tipe inididasarkan atas kekuatan erupsi dan kedalaman dapur magmanya. Contoh: Gunung Vesuvius dan Etna di Italia, serta Gunung Semeru di Jawa Timur.

d)   Letusan Tipe Merapi

Letusan tipe ini mengeluarkan lava kental sehingga menyumbat mulut kawah. Akibatnya, tekanan gas menjadi semakin bertambah kuat dan memecahkan sumbatan lava. Sumbatan yang pecah-pecah terdorong ke atas dan akhirnya terlempar keluar. Material ini menuruni lereng gunung sebagai ladu atau gloedlawine. Selain itu, terjadi pula awan panas (gloedwolk) atau sering disebut wedhus gembel. Letusan tipe merapi sangat berbahaya bagi penduduk di sekitarnya.

e)    Letusan Tipe Perret atau Plinian

Letusan tipe ini sangat berbahaya dan sangat merusaklingkungan.  Material yang dilemparkan pada letusan tipe ini mencapai ketinggian sekitar 80 km. Letusan tipe inidapat melemparkan kepundan atau membobol puncak gunung, sehingga dinding kawah melorot. Contoh: Gunung Krakatau yang meletus pada tahun 1883 dan St. Helens yang meletus pada tanggal 18 Mei 1980.

f)    Letusan Tipe Pelee

Letusan tipe ini biasa terjadi jika terdapat penyumbatan kawah di puncak gunung api yang bentuknya seperti jarum, sehingga menyebabkan tekanan gas menjadi bertambah besar. Apabila penyumbatan kawah tidak kuat, gunung tersebut meletus.

g)   Letusan Tipe Sint Vincent

Letusan tipe ini menyebabkan air danau kawah akan tumpah bersama lava. Letusan ini mengakibatkan daerah di sekitar gunung tersebut akan diterjang lahar panas yang sangat berbahaya. Contoh: Gunung Kelud yang meletus pada tahun 1919 dan Gunung Sint Vincent yang meletus pada tahun 1902.

 

Keberadaan gunung berapi di suatu daerah, selain menimbulkan dampak negatif berupa bencana, seperti letusan, gas beracun dan tanah longsor yangselalu mengancam penduduk sekitarnya, ternyata dapat pula membawa dampak positif berupa manfaat yang sangat besar bagi kehidupan, antara lain sebagai berikut:

1)   Sebagai sumber energi, misal dijadikan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB) seperti yang terdapat di Gunung Kamojang di Jawa Barat dan Gunung Dieng di Jawa Tengah.

2)   Sebagai sumber mineral dan bahan galian, seperti intan, timah, tembaga, belerang, dan batu apung.

3)   Sebagai obyek wisata dan olahraga, misalnya hiking, climbing, layang gantung, dan bersepeda gunung.

4)   Sebagai daerah pertanian yang subur, sebab material yang dikeluarkan oleh gunung berapi banyak mengandung unsur dan mineral.

5)   Sebagai daerah hujan orografis, yaitu hujan yang terjadi karena adanya penghalang berupa gunung atau pegunungan, sehingga daerah gunung berapi merupakan tempat yang berfungsi hidrologis bagi daerah sekitarnya.

6)   Sebagai sumber plasma nutfah, karena variasi ketinggian secara vertikal dari gunung berapi.

3.         Seisme

Gempa Bumi ialah getaran yang terjadi di permukaan bumi, biasanya disebabkan oleh pergerakan lempeng bumi (kerak bumi). Getaran tersebut adalah akibat dari pelepasan energi secara tiba-tiba sehingga menyebabkan gelombang seismik. Gempa bumi merupakan proses endogen yaitu akibat adanya pergerakan bumi.

a.    Klasifikasi Gempa

1)        Berdasarkan Penyebabnya

a)    Gempa bumi runtuhan (Fall Earthquake)

Gempa ini terjadi akibat runtuhnya batu-batu raksasa di sisi gunung, atau akibat runtuhnya gua-gua besar. Radius getaran tidak begitu besar atau tidak terasa.

b)   Gempa bumi vulkanik (Volcanic Earthquake)

Gempa ini terjadi akibat aktivitas gunung api. Dalam banyak peristiwa, gempa bumi ini mendahului erupsi gunung api, tetapi lebih sering terjadi secara bersamaan.

c)    Gempa bumi tektonik (Tectonic Earthquake)

Gempa ini terjadi akibat proses tektonik di dalam litosfer yang berupapergeseran lapisan batuan tua terjadi dislokasi. Gempa ini memilikikekuatan yang sangat besar dan meliputi daerah yang sangat luas.

2)        Berdasarkan bentuk episentrum

a)    Gempa linear, yaitu gempa yang episentrumnya berbentuk garis.

b)   Gempa sentral, yaitu gempa yang episentrumnya berupa titik.

3)        Berdasarkan kedalaman hiposentrum

a)    Gempa dangkal, memiliki kedalaman hiposentrumnya kurang dari 100 km di bawah permukaan bumi.

b)   Gempa menengah, memiliki kedalaman hiposentrumnya antara 100 km-300 km di bawah permukaan bumi.

c)    Gempa dalam, memiliki kedalaman hiposentrumnya antara 300700 km di bawah permukaan bumi. Sampai saat ini tercatat gempa terdalam700 km.

4)        Berdasarkan jarak episentrum

a)    Gempa setempat, berjarak kurang dari 10.000 km.

b)   Gempa jauh, berjarak 10.000 km.

c)    Gempa jauh sekali, berjarak lebih dari 10.000 km.

5)        Berdasarkan letak pusat gempa

a)         Gempa laut, terjadi jika letak episentrumnya terletak di dasar laut atau dapat pula dikatakan episentrumnya terletak di permukaan laut.Gempa ini terjadi karena getaran permukaan dirambatkan di permukaan laut bersamaan dengan yang dirambatkan pada permukaan bumi di dasar laut.

b)        Gempa darat, terjadi jika episentrumnya berada di daratan

c)         Gelombang gempa

Pada dasarnya, ada tiga macam gelombang gempa,yaitu sebagai berikut:

1)        Gelombang longitudinal atau gelombang primer (P), yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dan tercatat pertama kali oleh seismograf dengan kecepatan antara 7-14 km per detik dan periode gelombang 5-7 detik.

2)        Gelombang transversal atau gelombang sekunder (S), yaitu gelombang yang merambat dari hiposentrum ke segala arah dan tercatat sebagai gelombang kedua oleh seismograf dengan kecepatan antara 4-7 km per detik  dan  periode gelombang 11 - 13 detik.

3)        Gelombang panjang atau gelombang permukaan, yaitu gelombang yang merambat dari episentrum menyebar ke segala arah di permukaan bumi dengan kecepatan antara 3,5 - 3,9 km per detik dan periode gelombang relatif lama.

 

Untuk menentukan letak suatu episentrum gempa, diperlukan catatan gempa bumi dari minimal tiga pencatat gempa bumi, dengan cara sebagai berikut:

Jarak stasiun ke episentrum dapat dihitung dengan menggunakan Hukum Laska berikut:

Δ = {(S P) 1’} × 1000 km

 

                                    Keterangan:

Δ =   Delta, menunjukkan jarak ke episentrum

S =  Saat tibanya gelombang Sekunder pada seismograf

P =  Saat tibanya gelombang Primer pada seismograf

r = 1 menit; 1 megameter = 1.000 km.

 

Contoh soal:

Gempa tektonik tercatat pada seismograf stasion di Karangkates sebagai berikut:

a.      Gelombang Primer tercatat pada jam 10.29’.10"

b.     Gelombang Sekunder tercatat pada jam 10.31’.40"

c.      Berapa jarak Stasiun Karangkates dari episentrum gempa?

Jawab:

Δ = {(10.31’.40” – 10.29’.10”) – 1’} × 1.000 km

=( 2’ 30” – 1’) × 1.000 km (20” harus diubah ke menit, sehingga wajib dibagi 60

= 1+(30/60) × 1.000 km

= 1,5 × 1.000 km

= 1500 km

Jadi, Jarak dari episentrum ke Karangkates adalah sekitar 1500 km.

 

Berdasarkan data seismometer, para ahli gempa bumi telah mengembangkan berbagai ukuran untuk mengukur kekuatan sebuah gempa. Skala yang terkenal dan banyak digunakan adalah skala yang disusun oleh Charles F. Richter dan Beno Gutenberg berdasarkan gempa yang terjadi di California pada 1906. Skala ini kemudian terkenal dengan nama skala richter.

Tabel 1. Kategori skala richter

Kekuatan (Magnitudo)

Kategori

Energi TNT

>8

7–7,9

6–6,9

5–5,9

4–4,9

3–3,9

<3

Great (Sangat Kuat) Major (Besar)

Strong (Kuat)

Moderate (Sedang) Light (Ringan)

Minor (Kurang)

Very Minor (Sangat

Kurang)

32 megaton

32 kiloton

1 kiloton

29 ton

<4 ton

 

Skala richter menggunakan dasar penghitungan amplitudogelombang parameternya adalah beda waktu tempuh antaragelombang P dan gelombang S. Richter membagi kekuatan gempa ke dalam 10 bagian. Angka 10 adalah ukuran untuk gempa yang sangat kuat.

Selain itu, ada Moment-Magnitude Scale, yang bisa digunakan untuk mengukur gempa berkekuatan luar biasa. Selain itu juga ada Modified Mercalli Intensity Scale. Skala ini, terutama untuk mengukur intensitas gempa atau efek-efeknya pada lokasi yang spesifik. Skala intensitas Mercalli membagi intensitas gempa antara I sampai XII, dan cara mengukurnya cukup dengan observasi langsung pada lingkungan sekitar.

Tabel 2. Skala Intensitas Mercalli

 

Skala

Keterangan

Skala I



Skala II



Skala III

 

Skala IV

 

Skala V

 

Skala VI

 

 

 

Skala VII

 

 

Skala VIII

 


Skala IX

 

 

 

Skala X

 

 

Skala XI

 

 

 

 

Skala XII

Jarang sekali sampai dirasakan orang. Gempa sangat ringan (very minor) ini tergolong jarang terjadi. Bumisetiap tahun rata-rata diguncang 1,5 juta kali gempa. Tujuh puluh persen di antaranya berkekuatan antara2–2,9 Skala Richter.

Hanya dirasakan di dalam rumah oleh orang dalam keadaan tenang atausedang beristirahat. Barang-barangyang tergantung kemungkinan akan terayun sedikit.

Dirasakan di dalam rumah oleh beberapa orang, namun terkadang tidak dikenali sebagai suatu gempa.Getaran yang dirasakan seperti kalau ada truk ringan yang lewat. Barang yang tergantung mungkin akan terayun.

Di dalam rumah akan dirasakan lebih banyak orang, sedangkan di luar hanya terasa oleh sedikit orang saja.Barang yang tergantung akan terayun. Getarannya setara dengan truk besar yang lewat. Mobil yang diparkir bergoyang, jendela atau pintu bergetar. Dinding kayu bisa retak.

Orang yang sedang tidur bisa terbangun. Benda-benda kecil tergeser atau terbalik dan beberapa barang pecah belah akan pecah. Pendulum jam akanterhenti atau kecepatan ayunnya menjadi berubah. Pepohonan atau tiang-tiang yang tinggi terkadang terlihat terayun.

Dirasakan oleh semua orang, namun kerusakannya ringan. Banyak orang ketakutan dan lari ke luar rumah.Orang berjalan terhuyung-huyung, barang-barang pecah, kaca termasuk pada jendela pecah. Perabotan rumah tergeser atau terbalik, dan plasteran dinding yang kurang kuat akan retak.

Orang akan kesulitan berdiri. Kerusakan pada bangunan yang dirancang dan dibangun dengan baik tidaklah berarti. Namun pada bangunan yang jelek rancangan maupun konstruksinya, kerusakannya cukup besar. Plesteran dinding dan genteng dapat Iepas, juga bata yang tidak tersemen.

Orang-orang ketakutan. Kerusakan masih terbilang kecil untuk bangunan dengan rancangan dan konstruksi khusus, sedangkan pada bangunan biasa, cukup besar. Cerobong asap, monumen, menara dan sebagainya dapat patah atau ambruk. Cabang-cabang pohon pun dapat patah.

Timbul kepanikan umum. Bangunan yang dirancang dan dibangun secara khusus pun dapat rusak cukup berat, sementara bangunan lainnya akan rusak lebih parah, bahkan dapat ambruk. Pondasi-pondasi bangunan akan rusak, dan bangunan di atasnya yang tidak disekrupkan akan terlepas.

Kebanyakan bangunan batu dan berstruktur kayu gaus akan hancur. Kerusakan serius akan terjadi pada bendungan, tanggul, dan tepian-tepian lainnya. Tanah longsor terjadi cukup besar, dan air akan menghantam tepian sungai, danau maupun kanal-kanal. Rel kereta api dapat sedikit melengkung.

Hanya sedikit struktur bangunan batu yang tetap berdiri, lainnya runtuh. Jembatan juga pada ambruk, dan tanah longsor terjadi di mana-mana. Pipa- pipa di bawah tanah benar-benar hancur dan tidak akan berfungsi lagi. Rel kereta api umumnya akan bengkok.

Kehancuran praktis menyeluruh dan total. Gelombang-gelombang gempa terlihat muncul di permukaan tanah. Massa besar batu-batu beralih tempat, sementara benda-benda lain terlempar ke atas. Garis dan tingkat pandangan pun menjadi kacau, sampai terdistorsi akibat hebatnya goncangan.

 

Gempa menjadi salah satu faktor pemicu terjadinya tsunami. Akan tetapi, tidak semua gempa menyebabkan tsunami. Ada beberapa kondisi yang menyebabkan tsunami, antara lain gempa berkekuatan besar (lebih besar 6 SR, pusat gempa berada di dasar laut dengan pusat gempa yang dangkal, dan adanya dislokasi kerak Bumi bawah laut). Gerakan vertikal pada kerak Bumi dapat mengakibatkan dasar laut naik atau turun secara tiba-tiba, yang mengakibatkan gangguan keseimbangan air yang ada di atasnya. Pada akhirnya menyebabkan terjadinya aliran energy air laut, yang ketika sampai di pantai akan menjadi gelombang besar yang disebut tsunami.

 

b.      Tenaga Eksogen

Tenaga eksogen merupakan tenaga berasal dari luar bumi dan bekerja di permukaan Bumi berasal dari unsur atmosfer, hidrosfer, dan biosfer. Tenaga eksogen yang mempengaruhi bentuk permukaan bumi, terdiri atas:

1. Pelapukan

Pelapukan merupakan proses penghancuran massa batuan pembentuk litosfer menjadi bagian-bagian yang lebih kecil. Berdasarkan prosesnya, secara umum pelapukan dibedakan menjadi tiga macam, yaitu pelapukan mekanik, pelapukan kimiawi, dan pelapukan organik/biologis.

a)        Pelapukan Mekanik

Pelapukan mekanik adalah proses penghancuran batuan menjadi bagian- bagian yang lebih kecil tanpa mengubah struktur kimianya. Pelapukan mekanik dinamakan pula pelapukan fisika atau desintegrasi. Pelapukan dapat terjadi karena Perubahan Suhu secara Tiba-Tiba, pembekuan air menjadi kristal-kristal es pada celah batuan, kegiatan organisme (Makhluk Hidup), pergerakan air, pergerakan air laut, pergerakan gletser.

b)        Pelapukan Kimiawi

Pelapukan kimiawi atau dekomposisi adalah proses penghancuran massa batuan yang disertai dengan perubahan struktur kimianya. Pada gejala dekomposisi terjadi reaksi kimia antara massa batuan dengan zat pelapuk, seperti air, karbon dioksida, atau oksigen.

c)        Pelapukan Organis

Pelapukan organis adalah proses penghancuran massa batuan dengan bantuan organisme makhluk hidup dan tumbuhan. Pada umumnya, pelapukan organis dipengaruhi oleh:

1)        membusuknya sisa tumbuhan dapat membentuk asam gambut yang berakibat rusaknya batuan tersebut;

2)        pengrusakan batuan oleh binatang-binatang kecil di dalam tanah:

3)        pengrusakan batuan oleh aktivitas manusia dengan segala peralatannya baik alat tradisional maupun mekanik. 

2.    Pen                                    2. Pengikisan (Erosi)

Pengikisan atau erosi adalah proses pelepasan dan pemindahan massa batuan secara alami dari satu tempat ke tempat lain oleh suatu tenaga yang bergerak di atas permukaan bumi. Ada empat jenis erosi bila dilihat dari zat pelarutnya, yakni sebagai berikut.

a)    Ablasi

Ablasi adalah erosi yang disebabkan oleh air yang mengalir. Gesekan akan semakin besar jika kecepatan dan jumlah air semakin besar. Kecepatan air juga akan semakin besar jika gradien (kemiringan) lahan juga besar. Erosi yang disebabkan oleh air yang mengalir dibagi dalam beberapa tingkatan, sesuai dengan tingkatan kerusakannya, yaitu sebagai berikut,

1)   Erosi percik (Splash Erosion)

Erosi percik yaitu proses pengikisan yang terjadi oleh percikan air. Percikan tersebut berupa partikel tanah dalam jumlah yang kecil dan diendapkan di tempat lain.

2)   Erosi lembar (Sheet Erosion)

Erosi lembar yaitu proses pengikisan tanah yang tebalnya sama atau merata dalam suatu permukaan tanah.

3)   Erosi alur (Rill Erosion)

Erosi alur terjadi karena air yang mengalir berkumpul dalam suatu cekungan,sehingga di cekungan tersebut terjadi erosi tanah yang  lebih  besar. Alur akibat erosi dapat dihilangkan dengan cara  pengolahan  tanah biasa.

4)   Erosi parit (Gully Erosion)

Proses terjadinya erosi parit sama halnya dengan erosi alur, tetapi saluran yang terbentuk telah dalam.

b)   Abrasi

Abrasi yaitu pengikisan di pantai oleh pukulan gelombang laut yang terjadi secara terus-menerus terhadap dinding pantai. Tinggi rendahnya erosi akibat air laut dipengaruhi oleh besar kecilnya kekuatan gelombang. Bentang alam yang diakibatkan oleh erosi air laut, antara lain cliff (tebing terjal), notch (takik), gua di pantai, wave cut platform (punggungan yang terpotong gelombang), tanjung, dan teluk.

c)    Eksarasi

Eksarasi yaitu erosi yang disebabkan oleh hasil pengerjaan es. Jenis erosi ini hanya terjadi pada daerah yang memiliki musim salju atau di daerah pegunungan tinggi.

d)   Deflasi

Deflasi yaitu erosi yang disebabkan oleh tenaga angin. Pada awalnya angin hanya menerbangkan pasir dan debu, tetapi kedua benda tersebut dijadikan senjata untuk menghantam batuan yang lebih besar, sehingga akan mengikis batuan tersebut. 


3. Masswasting

Masswasting adalah pemindahan massa batuan atau tanah karena gaya berat. Masswasting dinamakan pula gerakan tanah. Bentuk-bentuk gerakan tanah yang biasa kita jumpai antara lain sebagai berikut:

a)    tanah longsor (land slide);

b)   tanah amblas atau ambruk (subsidence);

c)    tanah nendat  (slumping), yaitu proses   longsoran  tanah yang gerakan nya terputus-putus sehingga hasil memperlihatkan bentukan seperti teras;

d)   tanah mengalir (earth flow), yaitu gerakan tanah yang jenuh oleh air pada lereng-lereng yang landai;

e)    lumpur mengalir (mud flow), yaitu sejenis tanah mengalir namun kadar airnya lebih tinggi;

f)    rayapan tanah (soil creep), yaitu gerakan tanah yang sangat lambat pada lereng yang landai.


4. Sedimentasi

Proses terakhir dari aktivitas eksogen adalah pengendapan massa batuan atau tanah di suatu tempat setelah mengalami erosi dan transportasi. Proses ini dikenal dengan sedimentasi, baik terjadi di wilayah darat maupun perairan, seperti danau, sungai dan sekitar pantai. Sedimentasi dapat terjadi jika massa zat yang mengangkut batuan atau tanah mengalami penurunan kecepatan atau bahkan berhenti sama sekali.

Berdasarkan zat pengangkutnya, proses pengendapan dibedakan atas sedimentasi fluvial, eolin, dan marin.

a)    Sedimentasi Fluvial

Sedimetasi fluvial adalah proses pengendapan materi-materi yang  diangkut  oleh air sepanjang aliran sungai. Wilayah-wilayah yang biasa menjadi tempat pengendapan antara lain di dasar badan sungai, pinggir sungai, danau, atau muara.

Bentukan-bentukan alam yang sering kita jumpai sebagai hasil sedimentasi fluvial antara lain sebagai berikut.

1)   Delta.

Endapan di muara sungai baik sungai yang bermuara ke danau ataupun laut. Delta dapat terbentuk jika material yang diendapkan cukup banyak, serta arus air tidak terlalu cepat. Berdasarkan bentuknya, kita mengenal beberapa macam delta, yaitu delta runcing, cembung, pengisi estuarium, dan delta berbentuk kaki burung.

2)   Bantaran sungai.

Dataran yang terdapat di tengah-tengah badan sungai atau pada kelokan dalam sungai sebagai hasil pengendapan. Bantaran sungai dapat dijumpai di daerah hilir sungai yang arusnya sangat lambat.

3)   Kipas aluvial.

Endapan pasir yang terangkut oleh gerakan air mengalir yang biasa dijumpai di lereng bawah perbukitan.

b)   Sedimentasi Eolin.

Sedimentasi eolin adalah proses pengendapan material yang  dibawa  oleh angin. Proses pengendapan ini banyak terjadi diwilayah gurun. Bentang alam yang sering kali kita jumpai sebagai akibat sedimentasi angin antara lain guguk pasir (sand dunes), yaitu gundukan pasir yang terdapat di wilayah gurun atau  di pantai. Di Indonesia, sand dunes dalam ukuran cukup besar banyak  dapat dijumpai di pantai Parang Tritis (Yogyakarta) dan Pameungpeuk (Jawa Barat).

c)    Sedimentasi Marin

Material hasil abrasi biasanya diangkut dan diendapkan di sepanjang pantai. Proses pengendapan semacam ini dinamakan sedimentasi marin.

Secara lebih khusus, bentukan alam yang dapat dijumpai akibat sedimentasi marin adalah sebagai berikut.

1)   Beach. Timbunan puing-puing batu karang yang terdapat di sekitar cliff sebagai akibat pemecahan gelombang.

2)   Bar. Yaitu gosong pasir di pantai yang arahnya memanjangsebagai hasil proses pengerjaan air laut.

3)   spit merupakan endapan material sedimen lautdi bagian ujung tanjung

4)   Tombolo. Gosong pasir yang menghubungkan suatu pulaukarang (atol) dengan pulau utama.

 

 

D.   PEDOSFER

Pedosfer merupakan kulit terluar litosfer yang terdiri atas tanah dan batuan induk pembentuk tanah. Sifat dan ciri tanah sangat ditentukan oleh faktor-faktor dan proses pembentukan tanah.

1.      Proses Pembentukan Tanah



Proses pembentukan tanah diawali dari pelapukan batuan, baik pelapukan fisik maupun pelapukan kimia. Proses pelapukan terus berlangsung hingga akhirnya bahan induk tanah berubah menjadi tanah. Proses Pelapukan dipengaruhi beberapa faktor, yakni

a.      Iklim

Unsur-unsur iklim yang memengaruhi proses pembentukan tanah terutama unsur suhu dan curah hujan.

1)        Suhu/Temperatur

Suhu akan berpengaruh terhadap proses pelapukan bahan induk. Apabila fluktuasi suhu tinggi, maka proses pelapukan akan berlangsung cepat sehingga pembentukan tanah juga cepat.

2)        Curah Hujan

Curah hujan akan berpengaruh terhadap kekuatan erosi dan pencucian tanah, sedangkan pencucian tanah yang cepat menyebabkan tanah menjadi asam (pH tanah menjadi rendah).

b.     Organisme (Vegetasi, Jasad Renik/Mikroorganisme)

Organisme sangat berpengaruh terhadap proses pembentukan tanah dalam hal:

1)        Membantu proses pelapukan baik pelapukan organik maupunpelapukan kimiawi. Pelapukan organik adalah pelapukan yang dilakukan oleh makhluk hidup (hewan dan tumbuhan), sedangkan pelapukan kimiawi terjadi oleh proses kimia seperti batu kapur yang larut oleh air.

2)        Membantu proses pembentukan humus. Tumbuhan akan menghasilkan dan menyisakan daun-daunan dan ranting-ranting yang menumpuk di permukaan tanah. Daun dan ranting itu akan membusuk dengan bantuan jasad renik/ mikroorganisme yang ada di dalam tanah.

3)        Pengaruh jenis vegetasi terhadap sifat-sifat tanah sangat nyata terjadi di daerah beriklim sedang seperti di Eropa dan Amerika. Vegetasi hutan dapat membentuk tanah hutan dengan warna merah, sedangkan vegetasi rumput membentuk tanah berwarna hitam karena banyak kandungan bahan organik yang berasal dari akar-akar dan sisa-sisa rumput.

4)        Kandungan unsur-unsur kimia yang terdapat pada tanaman berpengaruh terhadap sifat-sifat tanah. Contoh, jenis tanaman cemara akan memberi unsur-unsur kimia seperti Ca, Mg, dan K yang relatif rendah, akibatnya tanah di bawah pohon cemara, derajat keasamannya lebih tinggi daripada tanah di bawah pohon jati.

c.      Bahan Induk

Bahan induk terdiri atas batuan vulkanik, batuan beku, batuan sedimen (endapan), dan batuan metamorf. Batuan induk itu akan hancur menjadi bahan induk, kemudian akan mengalami pelapukan dan menjadi tanah. Tanah yang terdapat di permukaan Bumi sebagian memperlihatkan sifat (terutama sifat kimia) yang sama dengan bahan induknya.

d.     Topografi/Relief

Keadaan relief suatu daerah akan memengaruhi:

1)        Tebal atau Tipisnya Lapisan Tanah

Daerah yang memiliki topografi miring dan berbukit, lapisan tanahnya lebih tipis karena tererosi, sedangkan daerah yang datar lapisan tanahnya tebal karena terjadi sedimentasi.

2)        Sistem Drainase/Pengaliran

Daerah yang drainasenya jelek seperti sering tergenang menyebabkan tanahnya menjadi asam.

e.      Waktu

Tanah merupakan benda alam yang terus-menerus berubah, akibat pelapukan dan pencucian yang terus-menerus. Lamanya waktu yang diperlukan untuk pembentukan tanah berbeda-beda. Bahan induk vulkanik yang lepas-lepas seperti abu vulkanik memerlukan waktu 100 tahun untuk membentuk tanah muda dan 1.000–10.000 tahun untuk membentuk tanah dewasa.

 

2.      Ciri-Ciri Tanah

Komposisi tanah beraneka ragam, mengakibatkan tanah memiliki sifat fisika, kimia, dan sifat biologi yang beragam.

1.        Sifat Fisika Tanah

Sifat Fisika Tanah terdiri atas:

1)   Tekstur Tanah

Tekstur tanah ialah tingkat kasar dan halusnya partikel tanah. Penamaan tanah pasir ataupun tanah lempung itu berdasarkan sifat tekstur tanah.

2)   Struktur Tanah

Struktur tanah merupakan cara pengikatan butir-butir tanah yang satu terhadap yang lain.

3)   Konsistensi Tanah

Konsistensi tanah merupakan sifat fisik tanah yang menyatakan besar kecilnya gaya kohesi dan adhesi dalam berbagai kelembapan. Konsistensi tanah dapat kamu ketahui dengan mencoba memecah tanah tersebut, apabila sulit dipecah berarti bahwa tanah mempunyai konsistensi yang kuat.

4)   Lengas Tanah

Lengas tanah ialah tingkat kebasahan atau kelembaban tanah, yakni banyak sedikitnya air yang terikat secara absorbtif pada permukaan butir-butir tanah. Penyerapan air oleh perakaran tergantung pada persediaan kelembaban air dalam tanah. Kapasitas simpanan air tanah bergantung pada tekstur, kedalaman, dan struktur tanah.

5)   Udara Tanah

Udara tanah : udara yang berada dalam ruang pori- pori tanah (merupakan fase gas dalam system dispersi) Fungsinya : sebagai sumber O2, CO2, N2

O2 → untuk pernafasan akar, mikroorganisme,dan  jasad/hewan  dalam tanah

CO2 → untuk dekomposisi dan pelarutan hara N2 → sebagai suplai N tanah

O2 penting dalam tanah kadarnya ≥ 10%

6)   Warna Tanah

Pada dasarnya, warna tanah tidak murni, melainkan campuran (contoh: kelabu, coklat, karat). Warna tanah merupakan gabungan warna-warna dari komponen tanah seperti oksida besi (merah, cokelat karat), humus (hitam, cokelat), kwarsa (putih), dan lempung (kelabu, putih).

2.        Sifat Kimia Tanah

Tanah sebagai bagian dari tubuh alam mempunyai komposisi kimia berbeda-beda. Tanah terdiri atas berbagai macam unsur kimia. Penentu sifat kimia tanah antara lain kandungan bahan organik, unsur hara, dan pH tanah. Tanah yang kita lihat adalah suatu campuran dari material-material batuan yang telah lapuk (sebagai bahan anorganik), material organik, bentuk-bentuk kehidupan (jasad hidup tanah), udara, dan air.

3.        Sifat Biologi Tanah

Tanah sebagai tempat tumbuh tanaman dan tempat hidup organisme di dalamnya menyediakan unsur-unsur yangdibutuhkan oleh tanaman dan organisme lainnya. Di dalam tanah terjadi proses-proses yang menghasil kan sifat biologi tanah. Misalnya, adanya cacing tanah akan meningkatkan unsur nitrogen, fosfor, kalium, serta kalsium dalam tanah sehingga dapat meningkatkan kesuburan tanah. Peranan cacing tanah yang lain berupa lubang yang ditinggalkan di tanah akan meningkatkan drainase tanah, hal ini penting dalam perkembangan tanah. Cacing-cacing mengangkut tanah, mencampur, serta menggumpalkan sejumlah bahan organik yang belum terombak seperti daun dan rumput yang digunakan sebagai makanan. Selain itu, secara tegas cacing dengan kotoran dan lendir-lendirnya mampu mengikat partikel-partikel tanah menjadi gumpalan tanah yang stabil terutama pada tanah asli.

 

3.      Profil Tanah

Profil tanah ialah susunan atau lapisan tanah secara vertikal. Tanah mempunyai persebaran secara horizontal, sehingga sifat-sifat tanah tersebut dapat berbeda-beda pada tiap tempat. Selain itu, sifat-sifat tanah secara vertikal juga bisa berbeda. Hal ini karena tanah mempunyai perlapisan-perlapisan.


Gambar 15. Penampang profil Tanah

Sumber: https://www.ilmusaudara.com/2015/09/pengertian-tanah.html

 

Perlapisan tanah secara umum seperti berikut ini.

1)        Lapisan Tanah Atas atau Horizon A

Lapisan ini merupakan lapisan tanah teratas. Pada umumnya mengandung bahan organik, karena merupakan tanah yang muda (baru terbentuk), sehingga masih banyak dipengaruhi oleh kondisi di atas permukaan tanah. Lapisan ini ditandai dengan adanya zona perakaran dan kegiatan jasad hidup tanah.

2)        Lapisan Tanah Bawah atau Horizon B

Lapisan ini juga mengandung bahan organik, tetapi kurang dibandingkan dengan lapisan tanah atas. Lapisan ini merupakan zona pengendapan partikel tanah yang tercuci dari horizon A.

3)        Regolith

Pada lapisan ini terdiri atas tanah yang sudah terbentuk, tetapi masih menunjukkan ciri-ciri struktur batuan induk.

4)        Bahan Induk (bedrock)

Lapisan ini merupakan lapisan batuan induk yang masih padu.

 

4.      Jenis- jenis tanah.

Berdasarkan pada faktor pembentuk dan sifat tanah inilah, beberapa ahli mengklasifikasikan tanah dengan klasifikasi yang berbeda. Jenis-jenis tanah itu antara lain:

a)    Tanah aluvial = tanah yang terbentuk dari material halus hasilpengendapan aliran sungai. Persebaran tanah aluvial di Indonesia terdapat di pantai Timur Sumatra, pantai Utara Jawa, sepanjang Sungai Barito, sepanjang Sungai Mahakam, sepanjang Sungai Musi dan sepanjang Bengawan Solo.

b)   Tanah andosol = tanah yang berasal dari abu gunung api. Persebarannya terdapat di: Sumatra, Jawa, Bali, Lombok, Halmahera dan Minahasa.

c)    Tanah regosol = tanah berbutir kasar dan berasal dari material gunung api. Terdapat di Bengkulu, pantai Barat Sumatra, Jawa, Bali dan NTB.

d)   Tanah kapur = tanah yang terjadi karena hasil pelapukan batuan kapur dan sifatnya tidak subur. Terdapat di Jawa Tengah, Aceh, danSulawesi Selatan.

e)    Tanah litosol = tanah yang terbentuk dari batuan keras yang belum mengalami pelapukan secara sempurna.

f)    Tanah argosol (tanah gambut) = tanah yang terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan yang telah mengalami pembusukan. Jenis tanah ini berwarna hitam sampai coklat. Terdapat di Kalimantan, Sumatra dan Papua.

g)    Tanah grumusol = tanah yang terbentuk dari material halus berlempung. Terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Sulawesi Selatan dan Nusa Tenggara.

h)   Tanah latosol = tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Jens tanah ini sering disebut tanah merah yang banyak dijumpai di daerah pegunungan. Tanahnya berwarna merah sampai kuning. Terdapat di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Lampung, Kalimantan Tengah, Sumatra Barat.

5.      Manfaat Tanah

Pemanfaatan tanah antara lain sebagai berikut:

a)        Tempat tumbuh dan berkembangnya perakaran

b)        Penyedia kebutuhan primer tanaman (air, udara, dan unsur-unsur hara)

c)        Penyedia kebutuhan sekunder tanaman (zat-zat pemacu tumbuh: hormon, vitamin, dan asam asam organik; antibiotik dan toksin anti hama; enzim yang dapat meningkatkan kesediaan hara)

d)        Sebagai habitat biota tanah, baik yang berdampak positif karena terlibat langsung atau tak langsung dalam penyediaan kebutuhan primer dan sekunder tanaman tersebut, maupun yang berdampak negatif karena merupakan hama & penyakit tanaman.

 

6.      Lahan Potensial dan lahan Kritis

Perbedaan lahan potensial dengan lahan kritis. Lahan potensial adalah lahan yang secara fisis kimiawi dan ekonomi cukup menguntungkan, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal. Sedangkan lahan kritis adalah lahan yang sudah tidak berfungsi lagi sebagai media pengatur tata air dan unsur pertanian yang baik.

Faktor penyebab terjadinya lahan kritis antara lain meluasnya lahan kritis atau degradasi lahan di permukaan bumi yaitu akibat proses alam dan perilaku manusia dalam memanfaatkan lingkungan.

Faktor penyebab lahan kritis sebagai akibat proses alam yaitu:

1)        erosi,

2)        tanah longsor,

3)        pencucian tanah.

Sedangkan faktor penyebab lahan kritis sebagai akibat perilaku manusia misalnya:

1)        perusakan hutan,

2)        pertanian sistem ladang berpindah,

3)        kegiatan pertambangan terbuka,

4)        sistem pertanian di pegunungan yang tidak menggunakan terassering (sengkedan).

Ciri-ciri lahan kritis:

1)        penutup vegetasinya kurang dari 25%,

2)        tingkat kemiringan lebih dari 15%,

3)        terjadi gejala aerasi lembar (sheet erosion),

4)        terjadi gejala erosi parit (gully erosion).

 

Dampak degradasi lahan terhadap kehidupan :

1)        akibat proses erosi yang merupakan penyebab lahan tanah menjadi tidak subur, karena lapisan topsoil hilang,

2)        produktivitas pertanian menurun sehingga pendapatan petani berkurang,

3)        terjadi banjir,

4)        menurunnya kemampuan lahan untuk menyerap air tanah, dan

5)        terganggunya ekosistem makhluk hidup.

 

7.      Upaya Penanggulangan Kerusakan Tanah

a. Mengendalikan Erosi

Usaha untuk mencegah atau mengurangi erosi dilakukan dengan mengendalikan faktor-faktor penyebab erosi. Banyaknya tanah yang tererosi ditentukan oleh faktor curah hujan, erodibilitas tanah, kemiringan dan panjang lereng, tanaman penutup, pengelolaan lahan, serta praktik konservasi. Dengan mengendalikan faktor-faktor penyebab erosi tersebut, maka erosi tanah dapat dicegah atau dikurangi.

Dari seluruh faktor erosi, curah hujan merupakan faktor yang tidak dapat dikendalikan manusia. Sedang faktor erosi lainnya dapat dipengaruhi atau dikendalikan oleh manusia, seperti mengurangi panjang dan kemiringan lereng, menanami lahan dengan tanaman penutup, dan melakukan pengelolaan lahan. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari praktik konservasi.

b.Mengawetkan Tanah

Tanah dapat mengalami penurunan kesuburan sehingga berpengaruh terhadap tumbuhnya tanaman. Erosi tanah menyebabkan tingkat kesuburan tanah menurun. Untuk mempertahankan tingkat kesuburan tanah maka perlu usaha pengawetan atau konservasi.

Cara pengawetan tanah secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua, yaitu dengan metode vegetatif dan metode mekanik.

a)        Metode vegetatif.

1)   Penanaman tanaman secara berjalur tegak lurus terhadap arah aliran (strip cropping).

2)   Penanaman tanaman secara berjalur sejajar garis kontur (contour strip cropping). Cara penanaman ini bertujuan untuk mengurangi atau menahan kecepatan aliran air dan menahan partikel-partikel tanah yang terangkut aliran air.

3)   Penutupan lahan yang memiliki lereng curam dengan tanaman keras (buffering).

4)   Penanaman tanaman secara permanen untuk melindungi tanah dari tiupan angin (wind breaks).

b)        Metode mekanik

1)   Pengolahan lahan sejajar garis kontur (contour tillage).

Pengolahan lahan dengan cara ini bertujuan untuk membuat pola rongga-rongga tanah sejajar kontur dan membentuk igir-igir kecil yang dapat memperlambat aliran air danMemperbesar infiltrasi air.

2)   Penterasan lahan miring (terracering).

Penterasan bertujuan untuk mengurangi panjang lereng dan memperkecil kemiringan lereng sehingga dapat memperlambat aliran air.

3)   Pembuatan pematang (guludan) dan saluran air sejajar garis kontur. Pembuatan pematang bertujuan untuk menahan aliran air.

4)   Pembuatan cekdam. Pembuatan cekdam bertujuan untuk membendung aliran air yang melewati paritparit sehingga material tanah hasil erosi yang terangkut aliran tertahan dan terendapkan. Adanya cekdam maka parit-parit erosi lama-kelamaan mengalami pendangkalan, erosi tanah dapat dikendalikan, lapisan tanah menebal, dan produktivitas tanah meningkat.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Shindu P, Yashinto. 2016. Geografi untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Erlangga

Geografi, ThohaMusthofa. 2017. Teknomisme: Epirogenesa dam Orogenesa. (https://thohamustofageografi.wordpress.com/2017/01/02/tektonisme-epirogenesa-dan-orogenesa/, diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

 

https://www.nationalgeographic.org/encyclopedia/lithosphere/, (diakses hari Kamis, 17 Juni 2021)

 

https://www.gurugeografi.id/2019/01/kunci-jawaban-unbk-geografi-2018-nomor.html (diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

https://sumberbelajar.belajar.kemdikbud.go.id/sumberbelajar/tampil/BENTUK-BENTUK-MUKA-BUMI-2012/konten15.html, (diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

https://m-edukasi.kemdikbud.go.id/medukasi/produk-files/kontenkm/km2016/KM201624/materi2.html (diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

 

http://repositori.unsil.ac.id/786/6/13.%20BAB%202%20Fix.pdf, (diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

 

 Citra. 2016. Pengertian Lipatan dan gambarnya. (https://ilmugeografi.com/geologi/pengertian-lipatan, diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

 

Siswapedia, Tim. 2013. Macam-macam Gerak Tektonisme dan dampaknya. (https://www.siswapedia.com/macam-macam-gerak-tektonisme-dan-dampaknya/ , diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

https://www.dosenpendidikan.co.id/pengertian-instrusi/, (diakses hari Jum’at, 18 Juni 2021)

 

 


 

 

 

  


Posting Komentar untuk "Modul Kelas X Litosfer"